"Sakit sekali, Ya Allah.. Padahal tidak ada yang menusukku" -Afanin . . Selesai mengompres Fanin, Salmah keluar dari kamar anaknya ini. Ia membiarkan Abidzar sendiri yang menjaga istrinya. Abidzar juga langsung mengunci pintu, ia memilih bergabung untuk berbaring di kasur bersama Fanin. Mengusap-usap perut rata gadis itu. Matanya terus mematap wajah tenang dan damai tersebut. Sangat sayang untuk dilewatkan. Fanin tertidur menyamping menghadapnya, betapa berdebarnya Abidzar ketika tangan Fanin memeluk pinggangnya. "Umi, perut Fanin sakit," gumamnya lagi. Abidzar tersenyum, ia mengusap-usap lebih lembut lagi perut istrinya. Ketika nerasa jika Fanin sudah terlelap lagi. Ia memeluk Fanin mendekat padanya. Rasanya ia sangat tidak ikhlas ketika kantuk menyerangnya, padahal wajah cantik

