Fanin menyandarkan punggungnya pada kursi pesawat, sudah berbagai posisi ia coba, tapi tetap tak nyaman untuknya. Dengan kasar ia menghela nafas. "Kenapa, Fan? Dari tadi gak mau diem," ujar Abidzar karena cukup aneh dengan tingkah istrinya. "Gak tau, mas. Aku ngerasa gak nyaman banget," Abidzar tersenyum, ia merangkul Fanin dan menyandarkan kepala gadis itu pada bahunya. "Tidur ya," kata Abidzar mengusap-usap bahu Fanin. Setelah itu, tak ada pergerakan lagi dari Fanin, sepertinya gadis itu nyaman dengan posisinya. Bersandar pada bahu sang suami. Abidzar hanya fokus pada televisi kecil yang ada di hadapannya, wajahnya cukup suntuk karena perjalanan cukup lama. Lama-kelamaan Abidzar juga mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya pada kepala Fanin kemudian terlelap. •••• Senyum kedua

