"Biarkan semua berlalu tanpa rasa, asalkan kau tetap bersamaku selamanya." . . Fanin menatap Umi dan Abinya dengan senyum. Matanya mengedip-ngedip nakal. Membuat kedua orang tuanya bingung. Apalagi Nasim dan Karina. "Kenapa kamu, dek? Gak salah minum obat, kan?" tanya Nasim bingung. Abidzar hanya terkekeh-kekeh melihat tingkah istrinya. "Bid, gak salah ngasih makan?" canda Haekal. Abidzar menarik Fanin agar mendekat padanya. Ia mengusap-usap bahu Fanin. "Ibu-ibu hamil emang gitu," "Hah?!" Fanin tertawa melihat wajah terkejut dari keempat orang di depannya. Ia menyingkap kerudungnya dan mengusap perutnya. "Kak Karin udah dua bulan, kan? Aku sebulan, hehehehe," kekehnya. Sherin terkejut hingga tak bisa berkata apa-apa. Ia sudah cukup dibuat terkejut oleh hamilnya Karina, se

