"Kadang kenyataan hidup memang pahit untuk direnungi, tapi semua akan indah bila kita menerimanya dengan ikhlas dan selalu bersyukur apapun yang terjadi." . . Fanin tersenyum seraya menyodorkan sendok berisi bubur pada Abidzar. Ia senang Abidzarnya bangun dan dalam keadaan tidak amnesia, mengingat cukup parahnya benturan yang terjadi pada kepala Abidzar. "Aaaa.. Ayo makan," kata Fanin. Abidzar terkekeh pelan melihat ekspresi lucu Fanin. Ia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari istrinya itu. "Kamu istirahat aja, Fan. Jangan kecapean, aku cuma pusing aja," kata Abidzar seraya mengusap lengan wanita itu. "Kemarin pas lihat mas di sini, aku nangis-nangis, mas. Masa sekarang mas udah sadar aku malah gak jagain. Aku tadi malem tidur lumayan lama, dan besok juga aku udah boleh pul

