Ziddan baru saja menyelesaikan kegiatan memasak makan malam untuk Lissa. Sekarang ia membawa sup iga yang cocok untuk pertumbuhan tulang istrinya. Saat menaiki tangga ia melangkah dengan hati-hati. Pusing ke kepalanya semakin menjadi. Ia berhenti sejenak kemudian memejamkan mata. Setelah sampai atas pintu kamar Lisaa sedikit terbuka. Ziddan langsung masuk dan mendapati Cikko tengah duduk di samping Lissa dengan setelan kantor. Ziddan berjalan mendekati Lissa dan menatap Cikko agar menyingkir. “Makan dulu ya.” “Ya udah, Lissa, Ziddan, gue balik dulu,” pamit Cikko. Ia mendekat dan mencium kening Lissa lembut. Perasaan itu masih ada. Melupakan Lissa merupakan hal yang cukup sulit. Namun, Cikko tetap harus melakukannya karena ia tahu Ziddan dan Lissa saling mencintai. “Iya. Hati-hati.” Liss

