Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, dan Lizy pun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia merebahkan dirinya di kursi kerjanya, dengan wajah melamun. Saat dirinya datang ke kantor tadi pagi, para pria meliriknya dengan minat, seakan penampilannya memang bisa merubah hidupnya. Namun lagi-lagi ia teringat pada Lukas, mendapatkan pria itu pasti akan sangat sulit dan mustahil. Dia hanya butiran debu yang menempel di berlian mewah.
"Jangan melamun!" Elina datang dan mengejutkan Lizy.
Lizy mendengus dan menatap Elina dengan sebal, kemudian gadis itu kembali melamun. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"El, kau mau ajari aku caranya membuat seorang pria tertarik padaku?" kata Lizy.
"Maksudmu cara menggoda pria? Penampilanmu saat ini saja sudah menggoda pria satu kantor!" balas Elina berlebihan.
"Whatever," tukas Lizy dengan sebal. Menghadapi Elina memang membutuhkan mental yang kuat bagi Lizy. "Ajari aku saja ya?"
"Oke. Sekarang kau bangun dan duduk di meja,” kata Elina.
"Apa?" Lizy mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Jangan banyak membantah, ikuti saja instruksiku."
Lizy mengangguk, gadis itu bangun dari kursinya kemudian duduk di meja, karena ruangan mereka dalam keadaan sepi dan kosong. Setelah duduk, Lizy bertanya lagi pada Elina.
"Silangkan kakimu "
Lizy mengikutinya, menyilangkan kaki kirinya diatas kaki kanan, kemudian Elina sedikit menaikkan rok Lizy.
"Selipkan sebelah rambutmu ke telinga, dan bungkukkan sedikit tubuhmu."
Lizy pun mengikutinya, menyelipkan rambutnya hingga nampak rahang halusnya dan leher jenjangnya yang putih menggoda. Tubuh Lizy tinggi, namun sedikit berisi, tidak terlalu kurus, dengan pinggul yang sekal. Gadis itu sedikit membungkukkan tubuhnya hingga belahan dadanya terlihat jelas.
"Berikan tatapan menggoda," kata Elina.
"Seperti apa?" tanya Lizy.
Elina menghembuskan napasnya kasar, ia mencontohkannya dan diikuti oleh Lizy. Gadis itu duduk di meja, dengan posisi anggun dan menggoda. Juga wajah cantiknya dengan tatapan sayu, dan bibir di gigit. Ia hanya bersyukur dalam hati, tak ada yang melihat mereka.
Saat tatapan Lizy terarah ke pintu ruangan mereka, gadis itu hampir saja menjatuhkan tubuhnya dari meja. Ia melompat turun dan terkejut.
Di ambang pintu ruangan mereka, satu sosok bertubuh tinggi tegap sedang berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Mata cokelatnya yang tajam semakin berpendar tajam, menghujam tubuh Lizy. Bibir tebalnya pun tertarik sebelah.
Ia melihat semuanya, saat Lizy naik ke meja dan memberikan tatapan menggodanya, yang sungguh menggoda pria manapun. Kemudian pria tampan itu berlalu meninggalkan ruangan Lizy.
Dia adalah Lukas.
(*0*)
“Lizy, kau dipanggil oleh sekretaris wakil direktur.” Salah satu teman satu divisi Lizy menghampirinya.
Lizy menoleh dan mengerutkan dahinya, lagi-lagi ia dipanggil sekretaris wakil Direktur. Gadis itu berpikir sejenak, apa yang membuatnya dipanggil? Apa karena penampilannya hari ini? Atau karena-
Lukas!
Lizy dengan segera bangun dan mengangguk, ia membenarkan roknya dan berjalan keluar dari ruangannya. Saat di koridor, Lizy berpikir lagi, apa mungkin Lukas memanggilnya? Itu sangat tak mungkin. Namun jika memang benar pria tampan itu yang memanggilnya, Lizy akan mempersiapkan dirinya agar tampil dewasa.
Saat tiba di lift, ia langsung masuk dan berdiri di pojok lift, dengan wajah berpikir dan sedikit melamun. Tanpa Lizy ketahui lift kembali terbuka dan menampakkan sosok pria gagah si pemilik mata coklat tajam. Mata tajamnya seperti mengintai, menatap wajah cantik gadis itu dengan misterius.
“Melamun di dalam lift akan membuatmu terjebak,” ujarnya dengan nada yang dalam dan rendah.
Lizy tersentak dan buru-buru sadar, ia menoleh dan membulatkan matanya yang lebar dengan wajah terkejut. Pria di depannya adalah Lukas. Sedang menatapnya dari atas sampai bawah, bahkan mata tajamnya berhenti di d**a Lizy yang menampakkan belahan dadanya.
“Maaf, Presdir,” katanya dengan suara kecil.
Lizy menggigit bibirnya dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia juga menundukkan pandangannya, tak berani menatap wajah tampan dan tubuh seksi itu.
Tring!
Lift pun terbuka, menyelamatkan debaran jantungnya yang menggila, karena baru kali ini ia merasa berdebar begitu hebat. Hanya karena si pria matang seperti Lukas Clayton.
Lukas keluar dari lift dan meninggalkan Lizy yang masih mematung di dalam lift. Namun gadis itu pun langsung keluar dan berjalan ke lorong yang berlawanan. Karena kantor Wakil Direktur berada di lantai yang sama dengan kantor Presiden Direktur.
Lizy tiba di depan ruangan Wakil Direktur, ia mengetuk pintu dan bertemu dengan sekretarisnya.
“Saya Lizy McKayla, apa Anda memanggil saya?” tanyanya dengan sopan.
Wanita itu menaikkan sebelah alisnya dan mengangkat telepon tanpa menjawab pertanyaan Lizy. Berbicara dengan seseorang secara singkat kemudian menatap Lizy lagi.
“Nona ditunggu oleh sekretaris Presdir,” katanya.
Lizy mengerutkan dahinya tak mengerti, kenapa ia ditunggu sekretaris Presdir? Karena tak tahu gadis itu pun keluar setelah berterima kasih. Di koridor, Lizy berjalan masih mengerutkan dahi tak mengerti. Ia tak mengerti kenapa harus dipanggil lagi.
“Apa yang memanggilku Presdir? Haha mustahil,” bisiknya dengan tawa hambar.
Gadis itu tiba di ruangan sekretaris Presdir, menemui seorang wanita muda yang terlihat berwibawa.
“Permisi, saya Lizy McKayla, apa Anda memanggil saya?” tanyanya lagi.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk. “Benar, mari ikut saya. Nona sudah ditunggu Presdir.”
Detakan jantungnya pun kembali terdengar dengan keras. Bagaimana pun ia akan bertemu dengan Lukas, dan Lizy merasa nasib sedang mempermainkannya. Dengan sedikit keraguan, ia mengangguk dan mengikuti sekretaris Lukas ke ruangannya.
Meski awalnya ia berpenampilan menggoda seperti ini demi Lukas, namun jika bertemu dengannya, semua keberanian Lizy runtuh.
Oh Tuhan, oh Tuhan, kakiku lemas, gumam Lizy dalam hati.
Ketika pintu dibuka, Lizy dibawa masuk oleh sekretaris Lukas, dan wanita itu langsung pergi setelah berbicara dengannya.
Kini Lizy ditinggal berdua dalam ruangan Lukas. Demi Tuhan, ia bahkan tak tahu harus berkata apa, melihat dirinya sendiri dalam penampilan seperti ini saja sangat malu. Apalagi sampai bertatapan dengannya.
Sesekali Lizy melirik Lukas yang masih berkutat dengan pekerjaannya, wajah tegasnya terlihat sangat serius. Ia bahkan tak menyangka Lukas seorang pria berusia empat puluh tahun, rasanya tak masuk akal.
“Mendekatlah,” katanya.
Lizy mengangkat wajahnya dengan dahi mengerut. Ia tak mengerti kenapa Lukas menyuruhnya mendekat. Dengan patuh Lizy pun mendekat, kepalanya masih menunduk, karena bagaimana pun juga dia berhadapan dengan pemilik perusahaan.
Lukas bangun dari duduknya, melewati mejanya dan mendekati Lizy. Ia menyusupkan kedua tangannya di saku celana, dengan tatapan tajamnya yang menatap wajah Lizy.
“Aku ingin menawarkan satu kesepakatan denganmu,” katanya dengan suara dalam.
Lizy mendongak, menatap Lukas dengan tak mengerti. “Apa itu?” tanyanya.
Lukas bergeming sesaat, mata coklatnya masih menatap wajah Lizy dengan tajam. Sebelah tangannya terulur, meraih pinggang Lizy dan mendekatkan dengan tubuhnya. Membuat gadis itu sedikit terkejut.
Tangan Lizy menahan d**a Lukas dengan wajah mendongak, dan tatapan mereka bertaut.
“Menjadi kekasihku,” bisik Lukas.
Lizy meremang, bahkan mata keemasannya nyaris keluar dengan jantung yang rasanya hampir lepas. Bagaimana bisa seorang Lukas Clayton menginginkannya menjadi kekasih.
“Maksud, Presdir?” tanya Lizy dengan wajah bingung.
Lukas menatapnya dengan misterius, kemudian tatapannya terarah ke pintu masuk. Tanpa diduga pria tampan itu merundukkan wajahnya dan mencium bibir Lizy.
Sedangkan Lizy, hampir saja menjatuhkan tubuhnya yang lemas. Dengan bola mata yang melebar dan tubuh terpaku. Ia merasakan bibir tebal dan hangat Lukas memagut bibirnya. Hanya sebuah ciuman yang ditempelkan saja, tanpa ada pergerakan apa pun.
“Lukas!”
Tiba-tiba suara teriakan seorang wanita membuat Lizy terkejut dan melepaskan ciuman mereka. Lizy mundur dengan wajah setengah kosong, sedangkan Lukas hanya terkekeh dengan kedua tangan di saku celana, setelah melepaskan pinggang Lizy.
(*0*)