Lukas semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka. Napas hangatnya bisa Lizy rasakan berada di atas kepalanya, kemudian tangan besarnya yang kokoh merengkuh pinggul Lizy. Mendekatkan tubuh mereka hingga Lizy mendongak dengan wajah terkejut.
"Aku tidak akan memecatmu,” balas Lukas lagi.
Lizy menelan ludahnya, melihat wajah tampan Lukas berada di atas wajahnya. Sialan sekali, jantungnya nyaris lepas dari tempatnya. Lizy hanya berdoa dalam hati, agar jantungnya tidak berdegup keras.
"Kau tahu? Aku sedang mencari ibu tiri dari anak tunggalku, seorang wanita dewasa yang bisa mengurus anakku, dan memuaskanku," bisik Lukas tepat ditelinga Lizy, membuat Lizy meremang.
Gadis itu berdeham dan mendorong d**a Lukas agar menjauh dan melepaskan rengkuhan pria itu. Lizy mundur selangkah, ia merasa seperti Lukas mengetahuinya, bahwa ia tertarik pada pria itu dan menolaknya secara tak langsung.
“Maafkan saya Presdir. Saya pamit,” ujar Lizy.
Gadis itu berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi. Jantungnya sungguh akan lepas, karena merasa terkejut sekaligus kecewa. Ia pikir dirinya akan seperti gadis-gadis di novel yang ia baca, mendapatkan seorang seperti Lukas. Ternyata ia hanya gadis biasa yang tak ada istimewa nya.
Setelah di luar, Lizy hampir saja menjatuhkan lututnya karena lemas. Ia masih merasakan sentuhan dari tangan kokoh Lukas, tubuh tegapnya yang jantan, aroma tubuhnya yang memabukkan, dan suaranya yang berat.
Saat Lizy melangkah hendak meninggalkan ruangan itu, ia melihat seorang wanita berambut pirang, dengan make up tebal dan lipstik merah, berjalan menuju ruangan Lukas. Pakaiannya sangat seksi, dengan dress yang ketat dan membentuk tubuh serta pinggulnya, dengan belahan d**a yang menyembul keluar. Kemudian wanita itu masuk ke ruangan Lukas.
"Jadi dia sudah memiliki calon istri yang seksi dan dewasa?" bisik Lizy. Gadis itu menatap tubuhnya sendiri yang hanya dibalut pakaian kantor biasa, bahkan rambutnya ia ikat kuda. "Aku tidak seksi," katanya lagi.
(*0*)
"Elina bagaimana ini!" Lizy masih uring-uringan di atas kasurnya.
Beberapa bungkus snack sudah kosong, dan ia sedang memakan snack nya yang ke lima, dengan rambut berantakan dan wajah memerah. Sedangkan Elina sedang mondar mandir di apartemen mereka, dengan pintu kamar Lizy yang terbuka.
Lizy dan Elina tinggal dalam satu apartemen, karena mereka juga bisa menghemat gaji mereka untuk keperluan lainnya, jika bayar sewa apartemen berdua. Namun bagi Lizy cukup menyebalkan, karena Elina sering membawa kekasihnya menginap.
Elina yang sebal masuk ke kamar Lizy, mengambil snack yang masih ada isinya di tangan Lizy kemudian membuangnya ke tempat sampah.
"Elina!" Lizy bangun dan duduk bersila dengan wajah kesal.
"Kau itu, ah! Aku bingung denganmu, kenapa seharian ini kau uring-uringan terus. Sudahlah, lagi pula kan belum tentu kau akan bertemu dengan pria yang berdansa denganmu," balas Elina.
Lizy mengerutkan dahinya, menatap Elina dengan sebal. Dia tidak tahu bahwa itulah masalah utama yang sedang Lizy hadapi. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada pria itu, dan sayangnya semuanya hanya akan sia-sia. Dia bukan siapa-siapa, sedangkan pria itu seorang pemilik Clayton Group.
"Elina, aku menyukai seorang pria,” kata Lizy.
"What?!" Elina berteriak dan melompat ke kasur, mendekati Lizy dan memberikannya tatapan seperti tak percaya.
Lizy memberikannya tatapan kesal dan mengelap ingusnya karena menangis tadi sore. "Jangan berisik," gerutunya.
"Kau serius? Maksudku, kau menyukai pria biasa kan? Bukan pria khayalan dalam novel?" tanya Elina.
"Tentu saja bukan,” balas Lizy sambil mendengus. "Tapi dia menyukai wanita dewasa, sedangkan aku masih 23 tahun."
Elina tertawa dan memukul kepala Lizy dengan tangannya sampai gadis itu berteriak kesal dan balik memukul kepala Elina.
"Dua puluh tiga tahun itu sudah dewasa, gadis bodoh. Hanya saja kau yang tak bisa menyesuaikan kedewasaan dirimu. Bahkan kau tak tahu kan kalau Calvin menyukaimu? Dia menyukaimu tapi kau terlalu tak peduli. Sekarang saatnya kau jatuh hati, dan kau uring-uringan," ujar Elina.
Elina benar, dan Lizy membenarkannya dalam hati. Elina gadis yang mudah bergaul dengan pria, ia bahkan sudah tiga kali ganti kekasih selama lima bulan ini. Sedangkan dirinya, dari masa sekolah tak pernah memiliki kekasih. Lizy pikir tak ada pria yang tertarik dan mau mendekatinya, karena dia selalu mengharapkan para pria dalam novel.
"Tapi, siapa pria yang kau taksir? Apa dia teman kantor kita? Apa pria yang berdansa denganmu?" tanya Elina lagi.
Lizy mendengus sebal dan membuang tatapannya, ia tak mau Elina menebaknya. "Ya, dia satu kantor dengan kita."
Elina membulatkan matanya dan mendekati Lizy. "Apa dia si tampan Calvin? Ya ampun! Kau mau dengan Calvin yang baru dua puluh tahun?"
Lizy menoleh dan memutar bola matanya dengan sebal, ia memukul kepala Elina dengan bantal. "Bukan! Aku suka pria yang dewasa, gagah, seksi dan hot."
"Sudah sudah, sebaiknya kau ikut aku. Aku takut kau gila di usia muda,” kata Elina dan turun dari ranjang. Menarik tangan Lizy agar ikut turun.
"Kita akan ke mana?" tanya Lizy dengan dahi mengerut.
"Pokoknya ikut saja! Aku akan membuatmu menjadi Cinderella seperti di novel koleksimu,” katanya.
Dengan malas Lizy pun mengambil mantelnya dan berjalan mengikuti Elina untuk keluar. Ia tak tahu apa lagi rencana yang sedang Elina rencanakan untuknya.
(*0*)
"Elina! Kau mau mempermalukan aku di kantor ya? Kau sudah jahat, memotong rambutku sekarang kau menyuruhku berpakaian seperti ini."
Elina memutar bola matanya dengan kesal, tanpa mendengar gerutuan Lizy, gadis itu meneruskan sarapan buah-buahannya. Sedangkan Lizy keluar dari kamarnya dengan wajah ditekuk kesal namun juga bimbang. Penampilannya pagi ini begitu berbeda dari kemarin.
Rambut coklatnya yang panjang dipotong hingga sebahu, begitu lurus dan rapi, sebelahnya ia selipkan di telinganya. Dengan anting mutiara memperindah tampilannya. Wajah cantiknya hanya dipulas dengan make up tipis dan sederhana, namun dengan bibir yang berlipstik merah.
Pakaiannya pagi ini pun berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya Lizy akan memakai celana bahan yang panjang atau rok span selutut dengan blazer. Kali ini Lizy memakai rok flower print berwarna biru diatas paha, dengan stoking hitam yang tipis dan blouse putih. Perpotongan d**a rendah, hingga menampakkan belahan dadanya yang bulat. Mengenakan stilleto yang tinggi, hingga memberikan kesan seksi.
"Apa tidak masalah aku datang ke kantor seperti ini?" tanya Lizy.
Elina memutar kembali bola matanya. "Tentu saja, baby. Bukankah di kantor kita yang lebih seksi darimu saja banyak. Hampir semuanya seperti itu, hanya kau saja yang terlalu seperti anak manis."
Lizy menggigit bibirnya melihat kembali penampilannya yang lebih terlihat dewasa dari sebelumnya. Ia sedikit bimbang, namun Lukas lebih suka wanita dewasa. Melihat penampilannya sendiri Lizy sudah menyerah ingin mendapatkan Lukas.
“Ayo, kita sudah terlambat,” kata Lizy.
Gadis itu berjalan keluar sambil menenteng handbag nya diikuti oleh Elina, setelah mereka mengunci pintu, langsung pergi. Karena apartemen mereka ada di lantai dua, jadi mereka hanya membutuhkan waktu sebentar untuk berada di lift.
Setelah di depan, Lizy dan Elina berjalan menyusuri trotoar untuk tiba di halte bis. Beberapa pria yang berpapasan dengan mereka melirik Lizy dengan penuh minat, membuat gadis itu tak nyaman. Ia beberapa kali menurunkan roknya tapi percuma.
Tin. Tin. Tin.
Suara klakson membuat Lizy dan Elina menoleh ke belakang, melihat mobil mewah berwarna merah sedang mengikuti mereka. Tak lama pintu mobil dibuka dan muncul satu sosok. Calvin yang tampan dalam balutan jas yang membungkus tubuh tingginya.
Sesaat Lizy tertegun melihat Calvin yang tampan dan sangat muda, meski Calvin tampan dan tinggi, tapi tubuhnya tidak terlalu berisi. Kalau Lukas, dia terlalu hot. Lagi-lagi Lizy merutuki pikirannya yang selalu memikirkan Lukas.
"Ayo ikut denganku," tawar Calvin.
Lizy dan Elina hampir saja menjatuhkan rahang mereka, melihat Calvin yang hanya kepala divisi Marketing memiliki mobil semewah itu. Elina bahkan sampai mencubit Lizy karena tak percaya.
"Kami bisa naik bis saja," ujar Lizy.
Calvin tersenyum manis. "Tidak, ikutlah denganku. Lagi pula sebentar lagi jam kantor dimulai."
Lizy dan Elina saling tatap kemudian mereka mengangguk menyetujuinya. Dua gadis itu masuk, dengan Lizy di kursi depan dan Elina di kursi belakang.
Dalam perjalanan, Calvin sesekali melirik Lizy dari balik kemudinya. Mata cokelatnya menelusuri penampilan Lizy dan wajah cantiknya.
"Kau merubah penampilanmu," ujar Calvin pertama kali.
Lizy mengangguk dan menggenggam handbag-nya. "Ya, bagaimana?" tanyanya dengan canggung.
"Cantik, karena kau selalu cantik, tapi aku lebih suka Lizy yang kemarin," balas Calvin.
Mendengar perkataan Calvin membuat Lizy meringis dalam hati. Kalau Calvin bilang cantik dan penampilannya lebih bagus yang kemarin, itu tandanya penampilannya saat ini jelek.
"Kenapa kau merubahnya?” tanya Calvin lagi.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tampil sedikit dewasa,” katanya.
Setelahnya keadaan kembali hening, karena Lizy membuang tatapannya ke luar, sedangkan Elina sibuk dengan ponselnya. Begitu pun dengan Calvin yang fokus dengan kemudinya, tapi sesekali melirik Lizy.
(*0*)