“Kenapa kau berpikir seperti itu?” bisiknya. Lukas menghela napasnya, tangan besarnya memeluk pinggang Lizy dan mendekatkan pada tubuhnya. Mata cokelatnya menghujam tajam wajah cantik Lizy. “Karena aku tak ingin kehilanganmu. Aku menyukaimu dan perlahan berubah menjadi mencintaimu, saat aku tahu Calvin menyukaimu, yang ada dalam benakku bahwa kau akan memilih Calvin. Kau gadis yang istimewa, Lizy. Kau masih sangat muda begitu pun Calvin, kalian akan menua bersama, sedangkan aku sudah dewasa dan aku akan lebih cepat menua dibanding dirimu.” Lizy tertegun, untuk sesaat wajahnya terpaku. Mata bulatnya hanya mampu mengerjap dengan lidah yang terasa kelu. Air mata lolos dari mata indahnya, membuat rasa kecewa dan kesal pada Lukas menguap. Digantikan dengan rasa kagum, dan perasaan menghangat

