“Bagaimana?” suara rendah Lukas terdengar menggema di ruang kerjanya. Di depan meja kerjanya, ada seorang pria berjas sedang berdiri memegang sebuah berkas. Ia memberikannya pada Lukas, kemudian mundur lagi dengan kepala menunduk. “Semuanya sudah selesai, dan pembelian apartemen baru pun sudah selesai. Tinggal menunggu sampai minggu depan, semua sudah terdaftar di kantor Kementerian Catatan Sipil,” lapor pria di depan Lukas. “Bagus, aku suka kerjamu. Jangan sampai ibuku tahu mengenai hal ini, sebelum aku meresmikannya,” ujar Lukas. “Baik, Presdir. Bagaimana dengan tuan muda Calvin? Beliau harus tahu mengenai ini.” Lukas mengangkat tangannya, ia memutar kursinya hingga menghadap ke dinding kaca yang menyajikan pemandangan kota London yang penuh gedung pencakar langit. “Calvin pasti ak

