Yunia mematikan lampu tidur yang terdapat di nakas sebelah tempat tidur Yara, lantas ia mencium kening Yara lamat-lamat. Tak lupa Yunia membereskan buku-buku dongeng yang sempat ia bacakan ke Yara sebagai peneman tidur, "Selamat tidur anak cantik" desisnya pelan. Yunia berniat keluar kamar Yara, tapi sebelum itu. Ia ingin melihat Yara sekali lagi. Kalau bukan karna saran Serim dan Martini yang bilang Yara harus mulai punya kamar sendiri. Mungkin Yunia tak akan pernah mau terpisah tidur dengan Yara. Apalagi ia sadar, pekerjaan malamnya bisa saja memberikan dampak buruk untuk kesehatan Yara. Seraya memijit ujung hidung, Yunia jadi mendesah lelah "Ahk, Sampai kapan Mama harus bohongi kamu, Yara" tadi Yara bertanya, mengapa ayahnya sudah tidak ada... Memang kenapa? Apa yang terjadi? Ayahnya

