24

980 Kata

Keesokan paginya saat mataku terbuka, aku mendapati Xander masih terlelap disampingku dengan lengannya melingkari perutku. Aku berputar dan mengusap kerutan disekitar kedua alisnya lalu mengecupnya ringan. Dengan perlahan aku menguraikan pelukannya dan menyusup keluar dari lengannya untuk menuju kamar mandi sebelum turun karena aku tiba-tiba merasakan perutku lapar dan membutuhkan asupan karbohidrat. Sila, pelayan yang selalu menyiapkan makananku sebelumnya menyajikan berbagai makanan yang tidak keberatan untuk ku habiskan saat melihatku turun menuju ruang makan. “Hai, sis.” Sapa Chris yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku. Mulutku masih mengunyah waffle saat membalas sapaannya dan tersenyum lebar. “Hai. Kau sudah sarapan?” Dia mengangguk dan mengambil kursi di sebelahku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN