“Hun? Ravenna! What--....” Chris datang. Ya, benar. Itu suara Chris. Aku melihat ke arah Chris, dengan air mata yang membasahi wajahku. “Kamu kenapa di lantai begini?” katanya sambil berusaha menggendongku. Chris membawa tubuhku kembali ke atas tempat tidurku. Ia mengambil handuk kecil dari laci nakas, Ia bersihkan wajahku yang telah basah oleh air mata. Aku masih menangis. Tangisku tidak dapat berhenti. Saat ini, aku sudah tidak mampu memahami diriku sendiri. “Hun ...” Suara Chris kini terdengar serak. Sepertinya Chris menahan tangisnya. Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya bisa menunduk dan menangis. “Galang mana?” Chris bertanya, masih dengan suara seraknya. Aku hanya diam. Tidak mampu menjawab, tidak mampu bersuara. “Galang dimana?!” Chris meninggikan suaranya. Untuk

