Hari ini telah resmi aku menjadi bagian dari agensi Source of Sound. Setelah ini aku hanya perlu menjalani pekerjaan sesuai kontrak yang kutandatangani beberapa bulan lalu. Masa pelatihanku telah usai, dan tibalah masa dimana aku menjadi produser disini. Meskipun masih menyandang gelar junior, namun dianggap resmi sebagai produser tentu memberi kebahagiaan bagiku.
Galang telah memberiku kabar mengenai rencana konser grup S&T. Sebagai salah satu fans, aku memutuskan untuk menghadiri konser itu bersama Nay pada awalnya. Namun, Nay tidak dapat ikut dikarenakan masalah financial. Lagipula, kota tempat tinggal Nay cukup jauh dari tempat diadakannya konser ini.
Konser yang semakin dekat tentunya membutuhkan semakin banyak persiapan yang harus diselesaikan. Rencana-rencana yang disusun harus dimatangkan agar tidak mengecewakan fans. Kali ini kabarnya akan datang lebih banyak penonton dari kalangan fans maupun non fans. Grup S&T memang cukup terkenal belakangan ini, lagu-lagunya yang sangat terasa nyata dan mampu menarik hati para pendengar.
Pagi ini aku memilih untuk mengenakan crop top dan midi skirt. Belakangan aku lebih sering mengenakan crop top, karena itu memang salah satu outfit kesukaanku. Aku datang ke agensi bersama dengan Galang. Turun dari mobil dan berjalan ke pintu masuk agensi, kami bertemu dengan Chris yang sedang berjalan dengan seorang wanita cantik berambut pendek dengan potongan rata persis seperti Cleopatra. Sangat cantik. Apakah mereka berpacaran? Entahlah aku hanya bisa menyembunyikan rasa cemburuku. Lagipula, seorang fans sepertiku tidak berhak merasa cemburu atau marah jika idolanya memiliki pilihan hati.
“Ey good morning” sapa Chris.
Galang yang merasa lengannya digandeng oleh Chris pun menjawab sapaannya. “Apaan lo tiba-tiba sok manis”
Chris masih menggandeng lengan kekar Galang dan memberikan senyuman kepadaku tanda menyapa. Wanita itu turut menyapa aku dan Galang. Sepertinya Galang mengenalnya, dilihat dari cara Galang meresponnya.
Setelah memasuki agensi, aku dan Galang berpisah arah dengan Chris dan wanita cantik itu. Saat akan menuju lift, aku berniat untuk menanyakan ke Galang mengenai wanita itu, namun rasanya itu bukan hakku bertanya mengenai privasi Chris. Jadi aku menahan rasa penasaranku.
Brakk...
Suara keras itu benar-benar membuatku malu dan mengesampingkan rasa sakit yang ku rasakan. Aku terjatuh. Terjatuh karena berlari mengejar pintu lift yang hampir tertutup. Galang dengan cepat membantuku berdiri. Untung saja posisi jatuhku tidak terlalu parah, mengingat aku mengenakan rok setinggi lutut.
“Ra, ada yang sakit?” Galang segera membantuku bangkit dan menanyai keadaanku.
Akupun bergegas bangkit dan berjalan ke arah lift sebelum liftnya tertutup. Ternyata, orang yang di dalam lift menahan pintunya untuk kami. Bodohnya kenapa aku harus berlari. Dan bodohnya lagi, orang yang berada di lift yang menahan pintu untuk kami ialah El dan Awan. Masih jelas di ingatanku waktu aku juga tersandung kaki sendiri saat melihat El pertama kali di agensi.
“Ra...” Galang memanggilku dengan suara pelan dan tatapan menyedihkan.
Dalam hati sebenarnya aku amat sangat malu tapi aku berusaha tegar dan jukur aku membenci tatapan Galang saat ini.
“I’m okay. Ga ada yang sakit, Kak. Tenang aja dan plis tatapan kamu aku gak suka” kataku juga dengan suara pelan sambil berharap Galang menyingkirkan tatapan itu dari wajahku. Meskipun aku dan Galang tidak saling berhadapan, tapi aku bisa melihat ekspresi Galang dari sudut mataku.
Keadaan di dalam lift terlalu tenang. Bahkan aku mampu mendengar detak jantungku sendiri. Detaknya tidak karuan, tentu saja. Seorang wanita ceroboh yang baru saja terjatuh di depan pria-pria tentu saja detak jantungnya tidak karuan. Hingga tiba-tiba Awan melakukan sesuatu ke pinggangku.
“Sorry” katanya singkat sambil mengikatkan jaket ke pinggangku.
Ada apa ini tiba-tiba, bahkan kami tidak saling mengenal. Galangpun sedari tadi berusaha menutupi bagian bawahku. Sepertinya ini bukan waktunya aku datang bulan, dan skirt yang ku kenakan juga berwarna biru tua, tidak mungkin kentara jika terdapat noda.
Perlahan ku lihat jaket yang diikatkan ke pinggangku oleh Awan tadi. Tentu saja aku merasa aneh dan mungkin ekspresiku menunjukkan betapa aku merasa aneh dan keheranan saat ini.
“Ra, maaf banget tapi rok kamu sobek. Mungkin karena jatuh tadi” bisik Galang pelan.
Mendengar perkataan Galang, akupun malu setengah mati dan rasanya ingin menghilang dari dunia ini. Saat kulihat ke arah Awan, Ia tersenyum. Wajahnya tampan bak malaikat. Kemudian aku tidak sengaja melihat ke arah El, wajahnya dingin namun terlihat seperti merasa jengkel dengan kehadiranku. Entahlah jika ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya wajah El memang menunjukkan ekspresi kesal dan jengkel. Apakah Ia berpikir kalau aku lagi-lagi cari perhatian di depannya atau bagaimana pikirannya sebenarnya membuatku malu dan takut.
Ting... Lift berhenti di lantai dua. Pria-pria itu keluar dari lift setelah menyapa singkat aku dan Galang. Sedangkan aku dan Galang masih harus berada di dalam lift hingga ke lantai lima.
“Kak, rok ku beneran sobek? Sobek bagian mananya ih aku malu banget” kataku tiba-tiba kepada Galang sambil memukul-mukul pelan lengan kekar Galang.
“Sobek di sebelah kirinya itu hampir aja keliatan paha kirimu” jawab Galang pasrah lengannga dipukul olehku.
“Ih, Kak. Gimana ini aku malu banget”
“By the way itu jaketnya ntar jangan lupa dipulangin”
“Ah iya, belum sempat bilang terimakasih juga karena malu yaampun aku harus gimana, Kak”
“Tapi beneran kamu gak apa-apa? Kaki kamu gak sakit?”
“Sakit” jawabku singkat sambil memijat pergelangan kakiku yang terlihat sedikit kebiruan.
Sepertinya pergelangan kakiku lebam karena benturan dengan tapak sepatu ku. Kebiruan di sana terlihat jelas dan Galang langsung menawarkanku untuk membelikan obat atau apapun yang bisa meredakan sakit dan lebamnya.
Dengan pelan aku berjalan ke studioku. Kaki yang sedikit sakit, rok yang sobek, dan jaket yang terikat di pinggangku sepertinya memaksaku untuk berjalan dengan pelan. Dan, sepatu heels 5cm yang saat ini kukenakan tampaknya memberikan rasa sakit tambahan.
“Ini, pake ini biar lebamnya berkurang, Ra” Galang memberikan produk pereda lebam kepadaku sambil berusaha membantuku melepas sepatu dan mengoleskannya di kakiku.
Aku masih duduk di sofa yang ada di studioku. Masih dengan jaket Awan yang berada di pinggangku. Setelah ini sepertinya aku akan membawa pakaian tambahan di studio agar jika terjadi hal seperti ini lagi, aku bisa mengatasinya. Tapi aku berharap tidak akan ada lagi kejadian seperti ini. Hanya saja aku mencoba mengantisipasi.
“Ini juga untuk sementara kamu pakai ini dulu” Galang memberikan sebuah celana panjang yang entah darimana didapatkannya.
Sedari tadi aku hanya bisa diam memerhatikan sikap Galang yang entah kenapa terlihat sangat tulus. Di sela diamku, aku masih memikirkan ekspresi El kepadaku tadi saat di lift. Kenapa El bisa memberikan tatapan seperti membenci kehadiranku tiap kali berpapasan dengannya.
“Aw. Udah sini biar aku lanjutin” kataku saat tiba-tiba Galang memijat pergelangan kakiku.
Terasa sangat sakit. Tidak biasanya rasa sakit di kakiku seperti ini. Lagipula, jatuhku tadi cukup keras, jadi wajar saja rasa sakitnya seperti ini.
Setelah Galang meninggalkanku di studio sendirian, aku memutuskan untuk berjalan ke toilet untuk mengganti rokku yang sobek. Untung saja Galang memberikanku pereda lebam ini, jadi rasa sakit akibat lebamnya tidak semakin parah, meskipun masih terasa sakit.
“Loh, Ravenna. You okay?” Chris menanyaiku. Kami bertemu di depan ruangan istirahat di sebelah studioku.
“Eh. Aku okay. Eum aku gak apa-apa kok” jawabku dengan nada sedikit terkejut karena sebelumnya aku tidak melihat Chris di lorong lantai lima ini.
“Beneran? Kamu kayak lagi kesakitan. Kaki kamu sakit?” tanyanya memastikan keadaanku.
Karena rasa malu, aku memutuskan untuk mengatakan aku tidak apa-apa dan tidak sakit sama sekali. Kalau aku bilang mengenai sakit kaki ini, pasti Ia bertanya kenapa dan mau tidak mau aku akan mengingat adegan saat aku terjatuh tadi.
Ku pastikan aku tidak apa-apa ke Chris dan sakit yang kurasakan ini hal biasa, agar Ia tidak menanyaiku lagi. Dengan cepat aku meninggalkan lokasi temoat bertemunya aku dan Chris dan segera menuju toilet untuk mengganti rokku.
.
“You ready to stay and tune?” Teriak seorang pria tampan di atas panggung yang lumayan megah dan luas.
Para penonton yang kebanyakan wanita pun menjawab dengan keras. Jawabannya terdengar seperti hanya teriakan tanpa kata. Padahal sebenarnya mereka meneriakkan kata “ready”, tapi karena antusias penonton sehingga suara-suara tersebut terkesan seperti teriakan.
Venue tempat diselenggarakannya konser sudah dipenuhi oleh fans dari S&T. Sejak tadi para wanita dibuat salah tingkah mendengarkan lagu-lagu cinta yang berkesan manis yang dibawakan oleh Chris dan kawan-kawannya. Sebenarnya terdapat beberapa laki-laki di venue ini, tapi hanya sedikit.
Aku berada di pojok kiri venue, menyaksikan konser dari lantai dua venue. Sebenarnya aku kesini mengajak Galang karena kukira akan sangat tidak menyenangkan jika menonton konser sendirian. Di kursi tempatku duduk, terlihat jelas seluruh penampilan yang Chris bawakan.
Konser ini terkesan seperti karaoke bersama, karena Chris dan anggota S&T selalu mengajak penonton untuk ikut bernyanyi selama berjalannya konser. Jadi, konser ini lebih seperti bernyanyi bersama S&T. Haha seru sekali.
“Ra, kalau kamu ditawarin project bareng S&T gimana?” Galang tiba-tiba menanyakan hal yang menurutku sulit diwujudkan.
“Ya mau dong, ga perlu ditanya lagi, Kak. Aku langsung gas ngeng pokoknya” jawabku antusias.
“Haha secinta itu kamu sama S&T”
“Iya dong”
“Ini konser kamu yang ke berapa, Ra?”
“Ini yang pertama. Dan aku berharap, semoga konser-konser selanjutnya aku masih bisa nonton”
“Ra, asli deh. Walaupun aku kerja di agensi, kenal banyak artis dan penyanyi, tapi aku beneran gak pernah tertarik dateng ke konser”
“Nah kan beruntung banget kamu aku ajak ke konser ini kan. Untung aja konsernya pas aku udah gajian, Kak hahaha jadi bisa beli tiketnya”
“Syukur deh kalo kamu bahagia gini, Ra”
Suasana sendu tiba-tiba tercipta di venue yang berisi pecinta grup band bertalenta ini. S&T saat ini sedang membawakan lagu sendu yang liriknya bermakna perpisahan sepasang kekasih. Sepertinya ini tanda konser akan segera berakhir. Sudah dua jam lebih kami bersama-sama memeriahkan venue ini.
“Thanks yall for your participation. Didn’t expected that yall really gives us lots of lovess. Terima kasih telah bersama kami menunggu karya-karya yang akan kami bagikan untuk kalian. I am realllly love you guys a lot! Terima kasih udah selalu stay and tune with us! Daaah” Kata-kata perpisahan telah disampaikan Chris selaku leader dari grup ini.
Tanda konser benar-benar berakhir. Saatnya bagi aku dan pecinta S&T lainnya untuk menunggu karya selanjutnya dan juga konser yang entah kapan akan direncanakan lagi. Melihat Chris di atas panggung menjadikan perasaan kagum ku padanya semakin bertambah. Melihatnya memimpin anggota S&T memeriahkan konser ini, melihatnya berinteraksi dengan fans dengan penuh kesopanan dan kerendahan hati. Entahlah, sepertinya Ia pria paling humble yang pernah kutemui. Beginilah jika mode fans tingkat atasku sudah aktif. Apapun akan tampak sangat manis di mataku jika itu menyangkut pria idolaku. Meskipun sebenarnya apa-apa yang dilakukan Chris merupakan hal yang manis dan baik.
Biasanya setelah konser berakhir akan diadakan high-five with S&T. Entah hanya grup ini yang mengadakan sistem bertemu fans selama beberapa detik, atau grup band lain juga mengadakannya aku tidak terlalu tahu. Ini konser perdanaku dna tentu aku tidak ingin melewatkan kesempatan bertemu dengan S&T barang sedetik. Biasanya, nama-nama yang mendapat kesempatan bertemu S&T di high-five with S&T akan diundi oleh S&T sendiri. Nama-nama tersebut akan dihubungi melalui e-mail oleh pihak promotor jika terpilih.
Jadi, biasanya sebelum meninggalkan venue, para fans akan mengecek e-mail masing-masing untuk melihat pemberitahuan terpilih atau tidaknya. Aku pun segera mengecek smartphoneku. Dengan cekatan aku membuka aplikasi e-mail di smartphone untuk mengecek inbox.
“Yessss” teriakku yang disambut ekspresi terkejut oleh Galang.
Sebelum berangkat ke konser tadi, aku lupa menjelaskan ke Galang mengenai high-five with S&T ini. Jadi, dengan cepat dan singkat ku jelaskan ke Galang kalau aku terpilih untuk bertemu dengan S&T. Bahagia yang ku rasakan benar-benar memuncak di malam ini. Meskipun aku terpilih hanya untuk bersalaman dan bertemu di backstage dengan anggota S&T, tapi bahagia ku sudah benar-benar memuncak.
“Berarti ini kamu mau ke backstage, Ra?”
“Yes, of course. See you, bye!” jawabku ke Galang dan segera berjalan menuju backstage tempat dimana para pemenang high-five with S&T menunggu.
Para fans yang terpilih akan dibariskan untuk menuju tempat dimana anggota S&T menunggu. Sebenarnya aku merasa sedikit kasihan mengetahui anggota S&T akan menyempatkan waktu bertemu fans setelah rangkaian konser yang melelahkan. Tapi, sebagai fans aku tidak bisa melakukan apapun.
“Hi. You look cute, Ravenna” sapa Chris sambil memberikan high-five kepadaku.
“Didn’t expected you’d come” tambahnya dengan suara pelan, sepertinya Ia berusaha agar fans lain tidak mendengar percakapan kami.
Kurang dari satu menit aku dapat menikmati hal paling indah, bertemu Chris setelah konser. Melihatnya dengan keringat dan wajah letih namun tetap tersenyum dan menyapaku seperti itu membuatku ah entahlah. Dan juga, tangannya menyentuh tanganku dengan penuh kelembutan. Tangan besarnya seperti mendominasi tangan kecilku ini, sebenarnya saat ini tangan besarnya telah mendominasi hatiku. Ah tidak, senyumnya yang lebih mendominasi hati dan perasaanku malam ini.