Gossip Boys--Ravenna's POV

1218 Kata
“Bang, ntar dulu. Gue asli yakin banget kalo ini tuh ada hubungannya sama agensi kita” “Nggak gitu, Ris. Lo kalo mau ngegosip gak masalah, cuma ya liat tempat dong. Ntar kalo orang-..” “Sut. Kalian dilihatin tuh sama cewek itu” Aku berusaha menghentikan perbincangan mereka yang ku rasa semakin aneh. Ke duanya langsung melihat ke arah wanita yang ku tunjuk menggunakan dagu ku, diikuti oleh Galang dan Awan. “Lo kenapa senyum-senyum, Wan?” Awan hanya menggeleng dan melanjutkan makannya. “Ris, lo kalo ngomong, volumenya dikecilin bisa gak sih?” “Gak bisa. Emang gini suara gue” Awan tidak membalas dan hanya melanjutkan makannya. “Dih, lo salting apa begimana sih? Gak pernah gue liat lo makan seanggun ini” “Awan salting diliatin cewek itu” Galang asal bicara. “Jangan salting dulu, Wan. Udah punya pacar doi” Awan semakin salah tingkah sepertinya. Dilihat dari cara Ia tersenyum. Kasihan sekali, salah tingkah karena pacar orang. “Kok kamu tau?” Chris keheranan. “Aku kenal sama dia. Namanya Haruna, dia ketua fansite S&T, lumayan terkenal juga” “Plot twist guys, taunya pacar cewe itu si Awan hahahaha” Haris berusaha bercanda sambil tertawa. Awan semakin tersenyum, semakin salah tingkah saja. “Oh... Wait! Kamu? Wan! Serius?” Aku yang tak kalah keheranan melihat wajah Awan pun mengaitkan tingkah Awan dengan perkataan Haruna tadi, yang mengatakan bahwa Ia akan menemui pacarnya. Awan hanya mengangguk kecil. “Oh my Lord! Gue-... gila! Wah” Haris menghentikan tawanya dan mulai penasaran dengan pembicaraan ku dan Awan. “Apa nih?” Aku hanya bisa tertawa cukup kencang sepertinya, hingga Galang berusaha untuk menutup mulutku. What a luck. Seorang ketua fansite bisa berpacaran dengan idola yang selama ini diikutinya. Sedangkan Haris hanya bisa bertanya-tanya, mencoba menggoyangkan tubuh ku agar aku berhenti tertawa dan segera memberi tahunya. Chris dan Galang hanya diam dan menatap kami bertiga yang seperti berebut membuat suara berisik. Hari ini sepertinya kami cukup berisik. “Apaan sih, Ris” kataku setelah tawaku berhenti. “Apaan? Lo ada gosip apa sama Awan?” Awan yang sudah menyelesaikan makanannya pun langsung berdiri. “Cewe itu emang pacar gue” Awan berlalu dan mendatangi cewek yang dimaksud, Haruna. Mereka berjalan meninggalkan kantin, pergi entah kemana. Haris yang baru saja diberitahu inti pembicaraan antara aku dan Awan, hanya bisa ternganga sambil melotot kaget. Kata-kata yang tadi Ia anggap bercanda, ternyata benar nyatanya. Haris menutup mulutnya dengan tangan, dramatis sekali. Seperti baru saja melihat hantu. Sedangkan Chris dan Galang hanya bisa tertawa melihat tingkah dramatis Haris. “Sumpah. Lo harus tau ini” Haris berbicara kepada Jay melalui panggilan telepon. Yang ditelepon pun tidak kalah dramatis menyahuti pembukaan gosip dari Haris. “Pacar si Awan tadi ke agensi, cakep juga nj*ir” “Bener gue gak bohong” “Asli...” Haris mulai menceritakan bagaimana kejadian sesungguhnya saat Awan mengatakan bahwa Haruna adalah pacarnya. Dari smartphone Haris, terdengar cukup histeris respon yang Jay berikan. Maklum saja, mereka kan dumb and dumber hahaha... Haris menutup telepon dengan Jay setelah Ia membahas sedikit mengenai skandal yang melibatkan agensi besar. Masih belum diketahui siapa yang dimaksud, dan agensi mana. Tapi, kuat sekali opini dari Haris dan Galang mengenai hal itu bahwa agensi kami yang sedang dibicarakan. Dari mulai keadaan kantin cukup ramai, kini sudah berangsur sunyi. Kami masih disini, karena kebetulan kami tidak memiliki banyak pekerjaan. Hari ini dihiasi dengan gosip yang sedang trending. Benar-benar kurang kerjaan, mereka membicarakan hal itu tanpa habis. Memberi opini masing-masing dan menguatkannya tentu saja. Mencari kemungkinan-kemungkinan yang belum terungkap. Lebih tepatnya hanya Galang dan Haris yang berbicara, diikuti Jay dari seberang telepon. Aku dan Chris hanya bisa terdiam memerhatikan mereka berdua yang dengan antusias bahkan mencari tahu, baik dari internet maupun bertukar opini satu sama lain. “Kan an*jir. Lo semua musti liat” Haris menunjukkan smartphonenya kepada kami. “Beberapa nama agensi yang dicurigai berhubungan dengan skandal pelakor pimpinan agensi” Oh Tuhan. Baru saja beberapa jam sejak keluarnya berita skandal mengenai kedekatannya, kini sudah keluar saja berita lebih parah. “Lah, tadi kan katanya udah pisah” Haris berbicara sendiri. Haris dan Galang mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kami jawab. Setelah membaca berita baru tersebut, mereka mulai melontarkan pertanyaan dan berbicara sendiri. “Kok pelakor, Ris? Coba baca yang itu” “Gaje banget, Bang. Ini nih liat, istrinya secantik ini. Yang bener aja bisa dilakorin, udah secantik itu, masih keliatan muda banget” “Iya, bener. Kek begitu biasanya selingkuhannya jelek sih” Mereka ini sepertinya pernah menjadi duta gosip atau bagaimana, aku tidak mengerti. Sejak tadi, ada saja bahan obrolan mengenai skandal itu. “Bang, ini istri Adrian ga sih?” Chris ikut masuk ke pembicaraan. “Adrian Adrian. Pake Pak lah, bego!” “Ya sorry, gue lupa” Haris dan Galang memimpin tindakan menggosip ini. Haris yang menjadi operator sekaligus informan. Karena saat ini, Ia yang memberi informasi dari smartphonenya. “Heh, bego! Ini tuh masih kemungkinan, lo kira-kira kalo gue pukul mulut lo, masih bisa bicara gak?” Galang terlihat kesal, karena informasinya tidak akurat. “Selo, Bang. Gue kesulut, jangan salahin gue dong” Haris mencoba membela dirinya sendiri. Kedua pria ini benar-benar seperti admin akun gosip, tidak ada habisnya saat menggosip. Lucu sekali. Aku mulai mengambil smartphone ku. Berniat untuk memainkannya, sekedar menggulir-gulir timeline di aplikasi sosial media favoritku. Saat asik bermain smartphone, aku merasakan seperti kaki ku disenggol oleh seseorang yang duduk di depan ku. Tanpa menggerakkan tubuhku untuk merespon, aku hanya memberi lirikan. Yang dilirik berbicara pelan, hanya bibirnya saja yang bergerak, tanpa suara. Dari gerakan bibirnya, terlihat Ia seperti mengajakku pergi dari sini. Aku kembali melihat ke layar smartphone ku. Ah, iya. Aku lupa memberi tahu kalian, bahwa layar depan smartphone ku sudah tidak lagi foto Chris. Melainkan foto pemandangan dari balkon agensi yang beberapa waktu lalu sempat ku abadikan. Aku melirik ke arah Chris lagi. Ya, Ia menyenggol kaki ku lagi, pelan. Untung saja bukan di kaki ku yang sedang sakit. “Ke studio ku, yuk” ucapnya pelan. Aku menggeleng. Dan melanjutkan kegiatan ku bermain smartphone. “Please...” Wajah Chris dibuat memelas, agar aku kasihan sepertinya. Mau tidak mau aku mengikuti permintaan Chris. “Duluan ya. Kak, kamu disini dulu kan?” Galang yang begitu antusias bertukar cerita dengan Haris hanya memberikan respon gelengan kepala, bahkan tangannya mengibas-ngibas seakan menyuruhku segera pergi. Chris juga ikut bangkit dan berjalan di sampingku. “Ke rumah sakit, ya?” katanya pelan. “Engga. Gak kenapa-kenapa kok” Chris masih memerhatikan kaki ku. Sebisa mungkin aku berusaha menahan sakit, mencoba menunjukkan jalan yang seperti biasa, tanpa gerak-gerik orang kesakitan, agar Chris percaya bahwa aku tidak kenapa-kenapa. “Aku tau kamu nahan sakit. Pokoknya, ntar kalau udah sakit banget, hubungi aku ya” Aku hanya diam dan melanjutkan berjalan, diikuti Chris dengan tatapannya yang sesekali berubah dari menatap depan hingga menatap kaki ku. Sejujurnya, rasa sakit di kaki ku cukup menyiksa. Hanya saja, rasa sakitnya seperti hilang timbul. Makanya aku sedikit ragu untuk memeriksakan ke dokter. Takutnya, saat diperiksa dan dibawa ke rumah sakit, rasa sakitnya sama sekali tidak muncul lagi. Jadi, aku hanya mendiamkan rasa sakitnya, dan mencoba menahan ketika rasanya muncul. Aku berada di studio Chris cukup lama. Kami berbincang cukup serius, mengenai kejadian saat di cafe malam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN