“Jadi, kamu beneran gak ada hubungan apa-apa sama cewek-cewek itu?”
Chris mengangguk penuh antusias. Matanya fokus menatap mataku, menghasilkan kilauan di pupilnya.
Setelahnya aku hanya diam. Berpikir bahwa aku saat ini telah benar-benar jatuh ke permainan Chris.
Untuk apa sebenarnya pria ini memberitahuku tentang ini. Tidak ada hubungannua juga dengan ku. Ku pikir, terserah Ia berhubungan dengan siapa saja, dan menjalin hubungan yang bagaimana. Aku tidka ingin tahu dan ikut campur.
Sudah berulang kali aku menanamkan pada diri ku sendiri. Bahwa aku hanya seorang fans atau penggemar biasa. Aku tentu tidak ada hak untuk ikut campur dalam kehidupan dan setiap keputusan yang Chris buat.
Rasa sakit hati yang pernah ku sembunyikan karena aku melihat Chris dengan wanita cantik, itu hanya sekedar perasaan biasa, meskipun jujur dari lubuk hati ku bahwa aku diam-diam menyukai Chris sebagai pria biasa.
Cukup lama aku terdiam di hadapan Chris. Hingga tiba-tiba...
“Will you be mine?” Chris memegang ke dua tanganku.
Matanya berbinar, senyumnya merekah, pipinya bersemu merah. Bahkan telinganya juga ikut memerah.
Jantungku rasanya seperti akan melompat meninggalkan tempatnya. Aku yakin, saat ini pipiku hampir mirip seperti badut-badutan. Memerah sempurna layaknya kepiting rebus.
Tangan yang diggenggam oleh Chris, kini berkeringat dan sedikit menggeletar sepertinya. Aku berusaha sebisa ku, semaksimal mungkin untuk menunjukkan reaksi netral, tidak salah tingkah.
“Eum, Chris...”
Chris berdehem singkat. Menunjukkan suaranya yang rendah, candu di telingaku. Bagaimana mungkin aku menolak pria seperti ini.
“Kalo kamu masih belum mau, eum.. belum b-bisa... belum tau mau, eum... jawab gimana, bisa jawabnya ntar aja”
Aku melepas tanganku dari genggamannya. Memperbaiki posisi dudukku.
“Loh, Ra. Disini ternyata” Haris bergabung di sesi confess Chris di studio nya saat ini.
Sepertinya Haris tidak merasa keheranan, kenapa aku bisa ada disini. Sejak pintu dibuka tadi, dan sesi confess berakhir, Haris tidak menunjukkan wajah heran atau bahkan bertanya. Ia bahkan langsung mengutarakan maksud kedatangannya di studio Chris ini.
.
Suasana agensi pagi ini cukup ramai. Beberapa reporter sedang mengelilingi agensi, sepertinya sedang mencari berita untuk diliput.
Aku berjalan dengan cepat, agar menghindari kerumunan reporter. Entah ada apa di sini.
Tadi malam, aku tidur lebih awal. Ku rasa tubuhku sangat kelelahan, sehingga ketika mata terpejam, mimpi langsung menghampiriku.
Sebuah mobil berhenti tepat di halaman agensi. Sepertinya ada artis yang sedang menghindari kerumunan, makanya dibutuhkan pengawalan saat memasuki agensi.
Suara reporter bersahutan menanyakan entah apa, tidak dapat ku dengar. Tapi, bersamaan dengan suasana riuh dari para reporter, Adrian keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam gedung agensi.
Yang terdengar runguku hanyalah pertanyaan-pertanyaan aneh yang menuntut jawab dari Adrian, si pemimpin agensi. Ada apa ini? Kenapa Adrian dikerumuni reporter, dan terlihat menghindarinya.
Entahlah...
Aku segera masuk ke agensi bersama Galang.
“Ra, kamu liat deh. Ekspresi Pak Adrian kayak-...”
Aku segera menyenggol lengan Galang. Berusaha untuk menghentikan omongannya.
Aku segera menarik lengan Galang menuju lift. Agar segera ke studio dan disana, tidak akan ada yang mendengar bisikan-bisikan gosip dari Galang.
Sepanjang hari, Galang mencoba memecahkan teka-teki skandal yang baru saja menargetkan pimpinan agensi kami, sepertinya.
Bahkan Ia tetap berada di studio ku untuk mengajakku membicarakan hal itu. Padahal, aku tidak terlalu mendengarkan pembicaraannya.
Bukan karena tidak peduli. Hanya saja, menurutku hal itu masih rumor dan sama sekali belum terbukti benar. Jadi ku pikir untuk apa aku mendengarkannya.
Belum lagi, Haris datang dan berdiam di studio ku. Bersama dengan Galangb masih membicarakan gosip yang sejak kemarin belum terbukti.
Tok.. tok...
Chris mengetuk pintu.
Ia berikan senyuman termanis yang menampilkan dimple di kedua pipinya. Sungguh manis.
“Lo ngapain kesini, bang? Bentar elah, gue masih mau ngegosip” Haris menyapa dan langsung menyerbu Chris.
“Siapa bilang gue kesini buat nyariin lo, dih”
Chris menatapku sambil memberikan senyuman mengejek kepada Haris.
Haris pun langsung memasang wajah kecut. Selanjutnya, Ia langsung mengajak Chris untuk bergabung di sesi gosip bersama Galang. Tidak sudah-sudah ya mereka ini.
“Engga. Kalian aja, gue mau ngobrol sama Ravenna aja” katanya kemudian duduk di sofa.
Kami berbincang cukup lama. Mengenai pekerjaan, sih. Karena ada Galang dan Haris.
Sebenarnya, Galang sudah tahu mengenai pengakuan Chris terhadap ku. Namun, Haris kan belum tahu. Jadi, aku, Chris dan Galang menyimpan rapat-rapat rahasia ini.
.
Kabar simpang siur mengenai seorang pimpinan agensi, semakin saja menjadi. Pada awalnya, diberitakan hanya mengenai kedekatannya dengan seorang gadis muda, namun kini telah berubah menjadi kabar perselingkuhan dan penipuan.
Media semakin mengeluarkan berita yang cukup aneh, sehingga berita tersebut tetap menjadi headline. Aneh juga sebenarnya, berita seramai itu hingga saat ini belum tahu siapa pimpinan agensi yang dimaksud.