Hun--Ravenna's POV

1167 Kata
“Kamu bisa jawab aku dengan jujur kan, Ravenna?” “Kamu kenapa sih? Jadi maksud kamu selama ini aku bohong, hah?!” “Ravenna, please. Kita masing-masing jangan mentingin ego dulu, biar cepet selesai. Kamu tau kan media bakal ngeberitain ini kemana-mana, bahkan ada yang ditambah-...” “Stop, Chris! I told you the truth! Kenapa kamu gak perc-..” “Aku percaya, tapi kali ini-...” Aku keluar dari apartement Chris. Untuk apa aku berlama-lama disini jika hanya untuk dituduh hal yang sama sekali tidak aku lakukan. *** Aku menunggu di kantin untuk makan siang bersama Chris. Sekarang, hari-hariku dipenuhi dengan Chris. Ya, kita memutuskan untuk menjalani semuanya bersama, meskipun dengan backstreet. Sudah beberapa bulan lalu semenjak aku dan Chris menjalin hubungan. Hanya beberapa orang saja yang tahu mengenai hubungan kami. Kami sengaja menutupinya, agar sama-sama mendapat kenyamanan dalam hubungan ini. Jay sudah kembali beraktivitas bersama kami di agensi. Karena itu, kami harus melakukan keeping secret secara extra. Sebab, Jay susah mengontrol bicaranya jika sudah berbicara. Aku belum mengambil makanan ku dan masih menunggu Chris di meja nomor dua. Aku melihat ke sekeliling kantin, sekedar mengisi waktu. Seorang wanita cantik dengan outfit berwarna pineapple tertangkap netra ku. Sepertinya tidak asing. Haruna. Itu Haruna. Sepertinya, belakangan ini Ia sering berkunjung ke agensi. “Hi!” Chris memegang lembut bahu ku, dan memberikan senyuman manis. Aku dan Chris bersama-sama mengambil makanan di prasmanan. Mengambil minuman dan juga buah yang disediakan. “Kayaknya pacar Awan itu sering banget kesini ga sih?” “Sejak kapan kamu jadi julid begini, hun?” Chris sering memanggilku dengan sebutan Hun atau Hunney, panggilan sayang khusus untukku katanya. “Ngga gitu, cuma kayaknya sering banget aku liat dia di sini. Udah kerja disini kali ya?” “Gak tau. Awan gak ada cerita sih” Chris mengambil posisi duduk tepat di hadapanku, tempat favoritnya saat makan. Aku dan Chris makan seperti biasa, seperti orang makan pada biasanya. Diselingi canda dan tawa dan kadang kesal karena Chris menggangguku atau mengambil makanan kesukaanku. Haha indahnya romansa muda-mudi. Tanpa sengaja aku melirik ke arah Haruna. Memberikan senyuman kemudian hanya dibalas senyuman kecil, cukup kecil dan singkat. Hingga kemudian Ia menunduk memainkan smartphonenya. Bukan maksud merasa risih atau bagaimana, hanya saja setiap kali Haruna ada di agensi, Ia pasti membawa kamera di tangannya. Ku pikir, untuk apa membawa kamera saat di sini. Padahal S&T tidak sedang beraktivitas dan tidak ada sesuatu yang harus diabadikan olehnya. Tidak masalah sebenarnya jika memang Ia membawa selalu kamera bersamanya. Kamera poket, namun sering kali tertangkap mengambil pptretku saat aku tanpa sengaja menoleh. Dan anehnya, Haruna jadi lebih sombong belakangan ini. Seperti jarang tersenyum dan saat disapa pun hanya menampilkan senyum singkat. Padahal Awan dan aku jadi lebih akrab, karena di antara S&T hanya Awan saja yang mengetahui hubungan ku dan Chris. “Sayang, kamu ngeliatin apa sih?” Chris bertanya dan melihat ke sekeliling, mencari spot mana yang sejak tadi mencuri perhatianku. “Hah? Engga” jawabku singkat dan melanjutkan menyantap makananku. “Aku di depan kamu loh, hun” “Ya iya kamu di depan aku” “Tapi mata kamu keliling kantin, kamu udah gak naksir aku lagi?” Chris memberikan wajah cemberut sambil menatap lesuh piring makannya. “Oh God, Chris! Kamu kayak bocil” Chris tertawa dan menatapku. Mengangkat tangannya ke arah bibirku, mengusap sedikit, dan tersenyum. Tatapannya teduh. Senyumnya hangat. Chris mengelus punggung tanganku pelan. “Abisin makanan kamu, ih” kataku sambil balas mengelus tangannya. Maklum saja. Hubungan masih seumur jagung, jadi masih hangat-hangatnya. Chris tertawa dan melanjutkan makannya. Begitu juga dengan ku. “Woi! Berdua aja nih” Jay datang dan suaranya menggema di seluruh ruangan. “Ramean kok. Lo ga liat tuh, tuh, tuh” Chris menanggapi dan mulai menujuk satu per satu orang yang ada di kantin. Haris bergabung. “Kalian udah denger kabar baru dari skandal itu belum?” “Ris, sumpah gue capek banget. Gue pengen makan dengan tenang kali ini” Jay duduk dan menyampaikan keluhannya segera setelah Haris memulai gosipnya. “Yaudah lo makan aja lah. Ribet banget dah” “Coba gue tanya, gimana lo bisa tenang. Hampir satu kali dua puluh empat jam gue dengerin lo ngoceh-..” “Shuut!” Haris meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir Jay. Jay langsung menjauh dan segera mengambil makanannya. Diikuti dengan Haris. Jay mengambil tempat duduk di sebelahku. “Bang Galang mana, Ra?” “Kerja” jawabku singkat. “Oh jadi selama ini dia gak kerja, gitu?” -- Berita simpang siur dari skandal pimpinan agensi kini telah hampir menemui ujungnya. Media mulai menampilkan ciri-ciri dari gadis yang dimaksud. Memberitakan moment-moment kebersamaan pria yang dimaksud sedang bersama wanitanya. Moment yang disebarkan masih berupa siluet. Benar-benar tidak dapat ditebak siapa orangnya. Namun, beberapa orang pasti mulai mencari tahu dan mendapat titik terang mengenai siapa orang yang diberitakan. “Sayang, liat deh.” Chris memberikan smartphonenya ke arah ku untuk menunjukkan apa yang dibicarakannya. “Kok gak asing ya?” “Gak asing maksudnya?” “Aku ngerasa pernah lihat siluet cewek kayak gini” Aku dan Chris semakin fokus memerhatikan layar smartphone, untuk mencari tahu hal yang “tidak asing” menurut Chris. “Christopher Anderson?” Chris menatapku bingung. Bibirnya seakan ingin berbicara namun tertahan. “Sejak kapan kamu jadi have interest sama skandal kekgini?” Ia tertawa kecil. “Ngga gitu, hun. Aku tadi lagi scroll trus di timeline, trus yaudah sekalian liat” Chris langsung meletakkan smartphonenya di nakas di sebelah tempat tidurnya. Setelahnya, Ia langsung masuk ke selimut dan memeluk pinggangku lembut. Akhir pekan ini ku habiskan di apartement Chris bersamanya. Kami memutuskan untuk bersantai sekadar berbincang dan berpelukan sepanjang hari. “Hun. Pinggang kamu kecil banget, gemes” “Ih. Geli, Chris” kataku sambil menggeser tangannya dari pinggangku. Yang digeser tangannya, menahan untuk tetap di tempatnya. Sambil tertawa di balik selimut, Ia menggelitiki perut ku. “Chris...” Aku menggeliat sedikit karena kegelian. Chris hanya tertawa, dan kemudian memeluk erat tubuh ku. “I love you...” katanya pelan. Hembusan nafasnya terasa sangat nyata di leher ku. Aku memeluk tangannya yang melingkari pinggangku. “I love you too” “I love you three” “I love you four” “I love you five” “I love you five hundred” “I love you five thousand” “I love you fifty five thousand” Chris tertawa. “I love you so bad” Aku memutuskan untuk berhenti bermain hitung-hitungan dengan subjek ungkapan cinta. Mataku terpejam. Nasalku menghirup aroma yang selalu jadi canduku. “Kamu harum banget, hun” “Padahal belum mandi, loh” Pagi tadi, kami sudah menyantap sandwich alakadar yang ku buatkan. Tidak banyak bahan makanan di lemari es milik Chris. Jadi, aku hanya bisa membuatkan sandwich sederhana untuk sekedar menahan lapar. Sebenarnya, bisa saja kami membeli sarapan di luar atau memesan delivery food. Namun, rasa lapar yang kami rasakan sudah cukup mereda akibat quality time di akhir pekan ini. Haha what a cliche.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN