Symptom--Ravenna's POV

1072 Kata
“Kita ke rumah sakit sekarang” Chris menarik tanganku dan membawaku keluar dari studio. Aku menahan diri dan terus memberontak. Aku tidak ingin ke rumah sakit, alasannya karena tidak mau merasa cemas akibat diagnosa yang diberikan dokter. Lagipula, sakit nya masih bisa ku tahan. “Chris... tanganku jadi sakit juga kalo terus ditarik-..” Chris berhenti dan melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku. “Ravenna, please! Gak ada penolakan! Kali ini aku gak akan nurutin mau nya kamu!” Aku hanya bisa pasrah, dan mengikuti Chris. Chris menutup pintu mobil, cukup keras hingga membuatku tersentak. Sebelumnya, aku dipaksa Chris untuk menggunakan sandal flat agar sakit di kaki ku tidak bertambah parah. Perjalanan ke rumah sakit dihiasi diam. Chris hanya diam dan menggenggam erat setir mobil. Sepertinya Ia cukup kesal. Sudah beberapa bulan ini aku menahan dan menunda untuk memeriksakan kaki ku yang kerap kali terasa sakit. Kali ini, Chris benar-benar tidak ingin menuruti kemauanku yang selalu menolak pergi ke rumah sakit. “Chris... a-aku gak apa-apa, sakitnya udah gak kerasa kok” “Ravenna! Sekali ini aja ya aku gak nurutin kemauan kamu-” Tiin! Chris menekan klason panjang, karena di jalan ada orang menyeberang secara sembarangan. Chris juga terlihat sedikit berdecih karena orang tersebut. “Kaki kamu itu udah dari lama sakit begitu, kemarin malam aku lihat juga ada bengkak. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Jadi, please nurut ya” jelasnya pelan. ** Beberapa hari ini aku hanya bisa berbaring di apartement ku. Kemarin aku melakukan pemeriksaan lanjutan mengenai kaki ku, pergelangan kaki kiri ku. Dan hari ini, Galang membantu ku untuk mendapat hari libur. Sekadar beristirahat. Chris menelefon ku pagi tadi. Ia mengatakan bahwa hari ini adalah jadwal keluarnya hasil pemeriksaan ku. Karena aku diminta mengistirahatkan kaki ku yang kian membengkak, jadi hanya Chris yang akan mengambil hasil pemeriksaanku. Cukup cemas aku menunggu hasilnya dari Chris. Rasa sakitnya memang tidak begitu parah, hanya saja jika digerakkan terlalu lama, rasa sakitnya akan menjalar hingga ke lutut ku. Entah apa maksud dari rasa sakit ini. Galang sempat mengatakan bahwa bengkak di kaki ku ini adalah akibat dari kebiasaanku menggunakan sepatu tinggi, dan sering terjatuh pula. Galang sepertinya ikut menemani Chris mengambil hasil pemeriksaanku. Sebenarnya aku meminta untuk ikut, namun Chris bersikeras untuk memintaku tinggal di apartement saja. Sudah seminggu ini Chris tinggal di apartement ku, karena keadaan seperti ini, Chris tidak ingin meninggalkan ku sendiri. Aku mencoba menelefon Chris. Sebelumnya Ia bilang sudah tiba di rumah sakit, dan sedang menunggu dokter. Tapi, hingga saat ini Ia bahkan belum kembali ke apartement ku, dan tidak juga memberiku kabar. Aku khawatir jika Chris kenapa-kenapa di jalan. Ku coba untuk menghubungi Galang.Berusaha mencari tahu apakah benar Ia bersama Chris menuju ke rumah sakit. Namun sama, tidak ada tanggapain dari dua pria ini. Telepon tersambung, namun tidak dijawab. Pesan yang ku kirim juga terkirim, namun tidak ada balasan. Cukup lama menunggu, aku pun tertidur. Tertidur di sofa di depan televisi. . Aku menghidupkan keran air dan memenuhi bath up di kamar mandi apartement ku. Ku tunggu hingga penuh, dan dengan perasaan cukup jenuh serta melelahkan. Kenapa harus aku yang mengalami ini semua? Kenapa tidak dihilangkan saja penderitaan seperti ini dalam hidup? Semua pertanyaan yang tidak mampu terjawab, terputar di pikiranku. Satu per satu emosi ku semakin menguasai. Mulai dari sedih, jenuh, letih, sakit dan merasa sendiri. Hal itu seakan membunuhku. Suara air menguasai rungu ku. Bath up telah terisi penuh. Bersih, jernih, dan mengalir. Hal itu yang tertangkap netra ku, dari sebuah bath up yang bersih ini, haruskah aku mengotorinya? Perlahan aku masuk ke dalam bath up. Ku posisikan diriku senyaman mungkin. Suara aliran air yang deras dan tumpah ke lantai. Hanya itu yang menemani ku malam ini. Ku sandarkan tubuhku, semakin turun dan turun. Hingga menutupi ksseluruhan tubuhku, tersisa hanya wajah yang tidak terkena air. Air mata yang mengalir kini telah menghiasi bath up, bersatu dengan air yang mengisi bath up. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Seakan sudah tidak mampu bersuara. Merasa tidak berdaya, sendirian dan bertemankan air yang mengalir. Detak jantungku semakin tak menentu. Mataku panas karena tangisan yang ku keluarkan hari demi hari, bahkan menit ke menit aku hanya bisa menangis. Ku turunkan tubuhku semakin merosot ke dalam bath up. Wajahku kini telah terendam. Perlahan nafasku habis. Ku biarkan nafasku tertahan di antara air yang bersih ini. Pikiranku berkecamuk. Ku pikir, inilah yang terbaik untukku mengakhiri hidup. Nafas yang tertahan ini memaksaku untuk meremat pinggiran bath up. Jika saja aku bisa melihat tubuhku sendiri, pasti tanganku kini telah memerah karena terlalu kuat menekan pinggiran bath up. Hati ku seakan menjerit, padahal bibir sudah tidak mampu mengeluarkan suara. Tidak lagi terdengar suara air yang mengalir. Tidak lagi terasa deru nafas ku sendiri. Detak jantungku semakin melambat. Genggaman tanganku pun melemah. Ku kira, inilah saat aku terakhir merasakan sakit nya kehidupan di dunia ini. Dengan ini ku harap berakhir lah penderitaan ku. Aku sudah tidak mampu lagi bernafas. Seluruh tubuhku kini tenggelam di dalam bath up. Kini, air bersih yang mengalir ini menyapu bersih penderitaan ku, dan juga hidupku. Ku akhiri hidup ku yang menderita ini dengan aliran bersih. Berharap aku bisa merasakan ketenangan, setenang air ini. “Ravenna!” Seseorang menggoyangkan tubuhku cukup keras, dan jeritan yang terasa sangat nyata. Aku mencoba membuka mata dan melihat Chris berada di depanku. “Chris?” Aku menangis bersamaan dengan Chris yang langsung memeluk tubuhku. “Aku mimpi... hiks...” Tangis ku pecah. Chris mengelus lembut rambutku dan tetap berusaha menenangkanku. “Chris aku mimpi... hiks... a-aku gak mau... a-aku be-lum mau m-mati” Chris memelukku semakin erat. Sedangkan aku hanya bisa menangis. Cukup lama aku membenamkan diri ku di torso Chris. Membasahi kemeja yang Ia kenakan. Chris hanya mengelus rambutku dan mendengarkan setiap racauan dari mulutku. Aku masih menangis dan terus bercerita. Yang keluar dsri mulutku hanyalah kalimat ketidakinginan ku untuk menemui kematian. Ya, aku bermimpi. Di mimpi ku, aku menyelesaikan penderitaanku dengan cara yang tidak pantas sama sekali untuk dilakukan. Entah Chris mengerti atau tidak, tapi Ia hanya membiarkanku menangis dan menyampaikan ketidakinginanku menemui kematian. “Hun...” panggilnya dengan lembut. “Chris... tolong aku... hiks... aku gak mau tidur malam ini” “Hun... stop. Kamu mimpi, sayang... Hanya mimpi, okay?” Tangisku kini mereda. Mendengarkan suara Chris yang begitu nyata, merasakan elusan tangannya di rambutku dengan cukup lembut, hembusan nafasnya mengenai pucuk kepala ku. Tangannya kini menggenggam tanganku. “Hun... udah ya nangisnya?” Aku mengangguk, dan masih mengeratkan pelukanku pada Chris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN