Down--Ravenna's POV

1504 Kata
Jika ada bahagia, maka harus ada sedih. Jika ada tawa, maka akan ada air mata. Hari ini, seluruh tawa yang ku tata rapi dalam hidupku, kini berubah menjadi air mata. Pagi yang seharusnya menjadi awal yang manis untuk menjalani hari, tapi tidak dengan hari ini. Aku dan Chris telah selesai menyantap sarapan. Ia lebih memerhatikanku belakangan ini. Tentu saja, karena aku masih sakit. Chris bahkan tidak mengizinkan ku untuk membereskan piring yang kami gunakan untuk makan. Tidak membiarkanku berdiri barang sebentar. “Hun... kamu duduk aja, ya” katanya dan segera bangkit membereskan meja makan. Aku hanya menggeleng. Energi ku habis ku gunakan untuk menangis di malam sebelumnya. Aku bahkan tidak melihat Galang, padahal semalam masih ada di dekatku. Memerhatikan ku menangis di pelukan Chris. Chris mengambil alih pekerjaan yang seharusnya ku lakukan. “Aku bangga memilikimu, Chris...” batinku. Kami bersantai di sofa yang ada di depan televisi. Chris mengajakku bercerita, katanya mengenai hasil pemeriksaanku di rumah sakit. “Hun... apapun yang kamu dengar dari aku, aku mau... kamu untuk tidak langsung menyerah?” “Menyerah?” Chris mengangguk, dan mengelus tanganku di genggamannya. “Setiap sakit pasti akan ada sembuhnya kan, Hun? Kamu percaya itu kan?” “Heeum” Aku balas mengelus tangannya. “Aku gak begitu paham dengan sakit yang dibilang dokter, tapi aku tau... semua pasti akan bisa disembuhkan” “Apaan sih, Chris? Kamu bikin aku makin deg-degan” “Hun... dokter bilang, kamu terkena penyakit... osteosarcoma” Aku hanya bisa terdiam. Tentu aku tidak paham mengenai penyakit ini, namun firasatku tidak salah. Hasil pemeriksaanku pasti tidak baik-baik saja. . Dokter menjelaskan keseluruhan mengenai penyakit yang ku derita. Ia mengatakan dari mulai pengobatan yang mungkin ku lakukan, hingga kemungkinan terburuk yang mungkin saja dalam hitungan hari akan terjadi kepadaku. Sejujurnya, duniaku seakan hancur. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi tulangku, namun juga pikiran dan perasaanku, yang terus saja berkecamuk. Untung saja, Chris dengan setia menemani ku. Ia mengurusku hingga aku tidak sempat untuk bersedih. Kabar penyakitku ini dengan cepat menjalar ke beberapa rekan kerja ku di agensi. Mereka menunjukkan perhatian dan cinta kepadaku, sehingga aku tidak memiliki banyak alasan untuk bersedih. .. Sudah berbulan-bulan berlalu. Penyakitku juga tidak kunjung menemui sembuhnya, seperti yang Chris bilang dulu. Keadaanku kian memburuk. Semuanya seakan gelap, ketika dokter memintaku untuk melakukan amputasi. Berhari-hari ku pikirkan untuk mendapat solusi yang terbaik. Tapi, mau bagaimanapun, tubuhku tidak mampu merespon segala prosedur pengobatan dengan baik. Hingga pada akhirnya, dokter menyarankan hal itu. Hari ini, sepertinya aku dikalahkan oleh pahitnya kehidupan. Keputusan dokter akan menerapkan amputasi pada bagian kaki ku yang sakit, ditambah dengan beredarnya kabar tidak enak mengenai reputasi ku di agensi. Sudah beberapa hari lalu, sebelum kondisiku benar-benar memburuk, berita mengenai diri ku telah disebarkan. Aku bahkan bertengkar dengan Chris karena tuduhan tersebut. Aku dituduh menjadi p*enggoda pria sukses paruh baya yang berprofesi sebagai pimpinan agensi. Ya, nama ku lah yang dituduh sebagai gadis s*impanan Adrian. Meskipun, nama Adrian belum dimunculkan dalam skandal ini. Berita mengenai masa lalu ku terungkap. Bahkan, berita mengenai keluarga ku pun ikut dibongkar. Mungkin karena hal ini juga lah, keadaan ku emakin menurun dan tubuhku kian melemah. Saat itu, Chris tidak memercayaiku. Ia tidak menuduhku berbohong, secara terang-terangan. Tapi, pertanyaan yang Ia lontarkan, seakan menuduhku berbohong dan memaksaku untuk mengakui hal yang tidak aku lakukan. “Kamu bisa jawab aku dengan jujur kan, Ravenna?” “Kamu kenapa sih? Jadi maksud kamu selama ini aku bohong, hah?!” “Ravenna, please. Kita masing-masing jangan mentingin ego dulu, biar cepet selesai. Kamu tau kan media bakal ngeberitain ini kemana-mana, bahkan ada yang ditambah-...” “Stop, Chris! I told you the truth! Kenapa kamu gak perc-..” “Aku percaya, tapi kali ini-...” Aku keluar dari apartement Chris. Untuk apa aku berlama-lama disini jika hanya untuk dituduh hal yang sama sekali tidak aku lakukan. Masih membekas di ingatanku. Bagaimana Chris menyudutkan ku, bagaimana Ia berteriak di depan ku hanya karena terlalu memercayai berita yang bahkan aku pun heran kenapa harus aku yang menjadi targetnya. Berita itu dikuatkan hanya dengan beberapa foto diriku. Foto diriku yang tengah bersama dengan Adrian. Anehnya, nama Adrian bahkan tidak ada satu pun yang mengungkit, hanya nama mu yang semakin memburuk. Tuhan memang adil. Bahagia yang diberikannya pada ku secara bertubi-tubi beberapa waktu lalu, kini Ia gantikan dengan kesedihan bahkan kepedihan. Ingin rasanya mengeluh, aku tidak sanggup lagi, namun jauh di dalam hati ku, aku merasa masih mampu melawan kepedihan ini. Waktu berlalu dan keadaanku kian memburuk. Aku tidak lagi mampu bergerak bebas. Salah satu cara untuk menolongku adalah dengan menyingkirkan sebagian dari anggota tubuhkh yang terpapar penyakit. Ingin sekali rasanya memaki keadaan ini. Aku marah mengetahui aku lah pemeran utama dalam cerita sedih ini. Tapi, Tuhan lagi-lagi mengingatkan ku, bahwa setiap orang pasti pernah berada di fase seperti ini. Meskipun, cerita yang dirangkai memiliki jalan yang berbeda-beda. Setiap orang pasti pernah menjadi pemeran utama dalam cerita sedih, memiliki alur sedih dalam hidupnya masing-masing. ... “Kamu harus terus semangat, itu yang bisa ngasih impact bagus buat diri kamu, buat kesembuhan kamu” Dokter memberiku semangat di waktu aku akan menjalani prosedur amputasi. Pakaianku kini telah berganti menjadi pakaian polos khusus untuk operasi. Sejujurnya, aku tidak menyukai warnanya, tapi ini bukan saat yang tepat hanya untuk komplain mengenai warna. Chris kini menunggu ku di luar. Ibu ku juga menunggu di luar, bersama kekasihnya. Beberapa waktu lalu, Chris dan Galang membantuku menghubungi ibuku. Mau bagaimanapun, keputusan yang aku buat harus dikuatkan oleh izin dari orang tuaku. Yang mana pada saat ini, ibuku yang memegang peranan penting sebagai orang tuaku. “Pikirkan yang indah-indah, ya. Sebentar lagi, kamu merasakan kantuk, ditidurkan aja jangan dilawan rasa kantuknya. Rileks dan berdoa selalu” Kalimat terakhir yang dapat ku dengar sebelum diri ku tertidur. Aku bertemu dengan seorang pria yang menjadi cinta pertamaku. Pria yang menjadi tameng dalam beberapa tahun hidupku. Pria yang selalu mendukungku dalam keadaan bagaimanapun. Pria yang menghapus sedih dan air mataku, memberikan ku tawa bahagia dan haru. Pria yang selalu memelukku dalam tidur ku. Mengecup keningku kala bulan telah memaksa ku untuk tidur. Ia adalah ayahku. Aku bertemu dengannya di sebuah taman bunga. Bunga matahari yang mekar begitu indah. Menampilkan kuning di tiap kelopaknya. Terbuka lebar menyambut kebahagiaanku bersama ayahku. “Nak, ini bukan akhir. Tapi ini awalnya” “Yah, kenapa hanya selalu ada awal di hidupku? Beberapa kali ku lalui awal dengan beragam rasanya” “Itu karena... hidupmu belum benar-benar berakhir” Aku bersandar di bahu ayahku. Menyesap aromanya rakus, menandakan aku tidak ingin kehilangannya lagi. Ia mengelus rambutku tanpa henti. Mendengarkan tiap keluhan, dan memberi semangat kepadaku, selalu. “Tapi, Yah... kenapa harus aku?” “Karena Tuhan tau... kamu yang mampu melewati ini semua” “Enggak, Yah... Aku gak mampu, aku gak mau, aku juga gak pernah sama sekali mau ada di posisi ini. Aku gak mau menjalani kehidupan seperti ini” “Tuhan tidak pernah salah, Nak....” Air matanya jatuh mengenai pucuk kepalaku. Menembus rambut yang dielusnya sejak tadi. “Gak pernah salah gimana, Yah? Harusnya Tuhan gak milih aku, kalau Tuhan memang tidak pernah salah” “Ravenna... Tuhan yang lebih tau.. Tuhan yang paham, dan Ia lah yang berhak menentukan atas jalan hidup hambanya” “Ayah, aku capek...” “Nak... Kamu ayah didik untuk terus maju menghadapi apapun, bukan menyerah hanya dalam sekali pukul” “Ayah yang mengajariku menyerah” Ia diam. “Ayah yang lebih dulu menyerah pada penyakit ayah, iyakan?” Ia masih diam. “Ayah yang menyerah. Meninggalkan ku sendirian, memberikan aku pilihan yang bahkan saat itu aku gak mampu memilih” Ia menangis. “Yah... aku mau ikut sama Ayah, boleh? Aku masih rindu” Ia menangis dan menggeleng tanda tidak setuju. Aku memeluknya erat. Aku takut kalau Ia akan meninggalkan ku sendirian, lagi. Kali ini, aku tidak mengizinkan Tuhan mengambil satu-satunya harapan di hidupku. Entah... Meskipun saat ini aku tidak yakin. Apakah aku dikatakan hidup atau tidak. “Ravenna.... Kamu harus tau, apa yang kamu inginkan, belum tentu baik untukmu. Tuhan pasti akan memberikanmu yang terbaik..” Ia kecup pucuk kepala ku dengan singkat. Dibawanya tubuhku dalam pelukannya. Peluknya tidak berubah. Bertahun aku tidak merasakan hangat seperti ini.Yang berbeda kali ini hanyalah aku tidak mampu merasakan detak jantungnya. Meskipun pelukanku telah begitu erat di tubuhnya. Aku memejamkan mataku. Berusaha menikmati pelukan darinya. Mencari detak jantung yang selama ini tidak lagi ku rasakan. “Ayah?” Aku membuka mata dan tidak lagi menemukan hangatnya pelukan. Aku mencari kesana kemari... Nihil. “Ayah?!” Kali ini nada suaraku sedikit meninggi, agar Ia mendengarku di kejauhan, jika memang Ia berada di kejauhan. Air mataku mengalir, deras. Taman bunga yang begitu indah, kini tampak suram. Berkali-kali ku panggil namun tidak ada jawaban. Awan kini menghitam. Seakan ikut menangis bersamaku. Udara dingin kian menyapa kulitku. Suara gemuruh bahkan hadir di sini, menemani ku mencari keberadaan ayahku yang ku peluk erat beberapa menit lalu. “Ayaaaah!” Aku teriak cukup kencang. Berharap Ia akan datang dan memelukku lagi. Aku masih belum puas menikmati kebersamaan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN