Kehidupanku kini sudah tidak sama dengan kehidupanku dahulu. Perubahan ini terjadi begitu cepat. Seakan tidak memberikan aba-aba untuk aku segera bersiap menyambut semua ini.
Perasaan ini telah menguasaiku setidaknya sejak sebulan lalu. Waktu berlalu namun perasaan ku tetap sama.
Mengetahui bahwa diriku kini memiliki kekurangan. Ya, sebenarnya dulu juga aku memiliki kekurangan, tapi kali ini, kekurangan itu bahkan bertambah.
Aku tidak lagi mampu berdiri sendiri. Kaki yang ku gunakan untuk bertumpu, kini telah menyerah. Aku hanya bisa menggunakan bantuan untuk mampu berdiri.
Penyakit yang ku derita mengharuskan ku hidup seperti ini. Aku sadar, ini merupakan kesalahan yang datang dari diriku sendiri.
Sejak lama aku telah diberi peringatan mengenai penyakit ini, namun tidak sama sekali ku hiraukan. Aku membiarkan kaki ku menahan sakitnya sendiri.
Kini, penyesalan sudah tidak pantas lagi muncul ke permukaan. Sudah tidak ada gunanya aku mengeluh, karena semua sudah terjadi.
Bagaimanapun, aku marah dengan keadaan ini. Marah pada siapa? Yentu aja marah pada dunia, pada Tuhan, pada kehidupanku sendiri.
Sebulan ini aku dihantui penyesalan dan kekesalan. Dunia seakan tidak adil, menjadikanku korban akan pahitnya jalan hidup.
Sejak operasi itu, aku mengurung diri di kamar. Aku bahkan tidak lagi memikirkan yang namanya makan. Aku sudah tidak ingin hidup di dunia ini.
Tuhan... kenapa berat sekali ujianmu? Benarkah ini yang dinamakan ujian dari mu? Aku bahkan belum sempat mempersiapkan diri untuk hal ini.
Aku kini sudah tidak mampu berjalan kesana kemari sendirian. Tidak lagi memiliki kesempatan memakai stilleto yang selalu ku impikan.
.
“Hun... kamu harus makan. Sedikit aja, ya?” Chris mengelus punggung tanganku.
Aku tidak menghiraukannya. Menatapnya saja pun ku rasa tidak mampu.
Aku malu dan marah mengetahui fakta bahwa Chris adalah kekasihku. Pria yang dikenal sempurna oleh orang-orang, memiliki kekasih seperti ku.
Aku juga malu dan kesal, mengetahui fakta bahwa Galang, Jay, Haris dan juga Awan yang memiliki rekan seperti ku. Mengetahui fakta bahwa agensi besar memiliki salah satu produser seperti ku.
Perasaan tidak pantas untuk hidup di dunia ini selalu menang menguasaiku. Aku merasa tidak pantas berada di antara orang-orang luar biasa ini.
Sejak kaki kiriku diamputasi, aku tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kamar untuk bertemu denganku. Tapi, Chris dengan sabar menunggu di luar hingga aku mengizinkan untuk masuk.
Sepertinya Ia tidak pernah absen mengunjungiku.
“Hun... makan cheesecake ya? Ini dibeliin sama Jay loh”
Chris berusaha menunjukkan cheesecake dengan toping sauce hazelnut. Dikeluarkannya cheesecake dari kotaknya. Dipotongnya kecil untuk bisa ku makan.
Aku hanya diam. Masih belum berani menatap wajah Chris.
“Hun... aaaa” Chris berusaha menyuapkan cheesecake.
Aku membuka mulut ku, hanya sedikit untuk mengizinkan cheesecake itu masuk.
Air mataku mengalir.
Chris dengan sabar menghapus jejak air mata di pipiku. Ia elus dengan lembut, dan Ia elus pula bibirku.
Chuu...
Chris mengecup bibirku singkat. Kemudian Ia tersenyum.
Air mata ku semakin mengalir. Mengalir deras dan memaksa ku untuk menjerit.
Seperti itulah hari-hari ku belakangan ini. Hanya diisi dengan tangisan dan kemarahan.
Galang bahkan mendatangkan seorang psikolog untuk membantu menetralkan mentalku. Aku sebenarnya sadar, jika diriku sebentar lagi pasti akan gila.
Aku tidak mampu menolak maupun menerima setiap perlakuan orang-orang yang ada di sekitarku. Aku hanya bisa diam.
“Sayang... berita tentang kamu udah diberesin sama Galang. Kamu gak perlu mikir yang aneh-aneh lagi, ya. Kami disini percaya sama kamu”
Chris mengambil ikat rambut dari nakas di sebelah tempat tidurku. Ia membantu ku mengikat rambutku.
Wajah Chris mendekat, deru nafasnya terasa di keningku. Ia mengikat rambutku pelan, menyisirnya dengan tangannya. Kemudian, Ia kecup pucuk kepala ku, dan mengelusnya.
“Cantik ku... udahan ya, sedihnya” Chris menangkup wajah ku di tangan besarnya. Ia elus lembut kedua pipiku.
Chris membawaku bersandar di bahunya. Ia peluk erat tubuhku.
“Chris...”
“Ya, Hun?”
Aku menangis. Suaraku tertahan, namun Chris dengan cepat menyadarinya. “Kamu nangis terus, tapi gak mau berbagi sedih sama aku? Aku ini kan pacarmu loh”
“Chris... aku malu”
“Hm? Malu kenapa, sayang?”
Chris menautkan jari jemarinya dengan milikku. Ia letakkan di atas pahanya.
“Kamu malu karena beberapa hari ini aku yang gantiin baju kamu, hm?”
Aku menggeleng dan memukul lengan kekarnya.
“Jadi kenapa dong? Gak perlu malu, kan aku udah liat semuanya, aku udah-...”
Aku mendorong Chris hingga tubuhnya terjatuh ke samping.
Chris tertawa. Padahal tangisku tadi belum selesai.
“Kamu gak malu? Punya pacar kayak aku?”
“Hun... “ Chris mengeratkan tautan tangannya.
Aku semakin menangis. Air mata ku sudah membasahi kaus yang dikenakan Chris, karena aku bersandar tepat di bahunya.
“Hun, dengar ya! Kamu itu pacarku, kamu yang aku cintai. Apapun, dimanapun, kapanpun aku cinta sama kamu and it will always be”
“Aku benci sama semua ini, Chris”
Chris diam. Tangannya kini berpindah ke pinggang ku, tempat favoritnya.
“Aku benci sama takdir ini. Kenapa harus aku? Kenapa harus ada takdir seperti ini? Kenapa... hiks....”
“Hun... aku egois kalau misal ngelarang kamu bilang kayak gitu. Tapi aku Cuma mau kamu menerima semuanya, karena Tuhan yang berhak atas semuanya, Sayang... Aku gak bisa paham sepenuhnya atas apa yang udah kamu lalui, tapi sedihmu juga sedihku, Hun....”
Chris menggenggam tanganku. “Aku gak peduli apapun yang orang lain bilang. Aku Cuma akan peduli kalau orang-orang ngejelekin kamu. Apapun yang terjadi... kamu orang yang aku cintai!”
“Stop, Chris... You better unlove me from now on” Aku menjauh dari Chris.
“No! Don’t you ever say that again!” Chris menarik tubuhku dalam peluknya.
Ia dekap tubuhku sepenuhnya. Tubuhku tenggelam dalam tubuhnya.
“Aarrghh... hiks... hikss....” Aku menangis sekeras-kerasnya.
“Sayang... aku mohon untuk gak mikir tentang hubungan kita! Hubungan kita gak akan berdampak atas apapun yang terjadi belakangan ini. Apapun berita tentang kamu, berita tentang aku, segala kejadian yang menimpa aku dan kamu... hubungan kita tetap hubungan yang aku akan lindungi sampai kapanpun!”
Chris menahan tangisnya.
“Aku yang akan ngelindungin hubungan kita. Aku yang akan ngelindungin kamu... Kamu hanya perlu fokus denga kesehatanmu! Aku gak mau kamu makin sakit karena pikiran aneh yang kamu buat sendiri di kepalamu...”
“Chris.... hikss... hikss.. aku benci sama... hikss.. aku benci sama hidup ku... aku-...”
“Shh! Sayang... stop! Kamu Cuma nyakitin diri kamu sendiri kalau kayak gini”
Aku berusaha melepaskan pelukan Chris. Saat ini, aku menjambak rambutku sendiri, dan berusaha memukul-mukul tubuhku.
Ingin rasanya mengakhiri hidup, meninggalkan semua kepedihan ini di dunia. Bertemu dan berkeluh kesah bersama ayahku, lagi.
“Ravenna, stop! Pukul aku!! Stop!...” Chris berusaha memegang tanganku.
“Aku.. capekk.. Chriss. Aku capek! Lepasin! Aku benci-...”
Chris masih berusaha memelukku. Agar aku tidak lagi menyakiti tubuhku sendiri.
Melihat Chris berlaku seperti ini, menjadikan hati ku semakin terluka.
.
Chris datang dan membawa bingkisan. Sepertinya itu berisi makanan dan minuman.
Saat ini aku sedang duduk di depan televisi. Hari ini, aku memutuskan untuk keluar dari kamar, dibantu oleh Galang.
Chris terkejut, Ia berhenti di depan pintu. “Sayang... kamu?”
Chris berlari dan memelukku. Ia kecup seluruh mukaku dan berhenti di bibirku. Ia bahkan tidak menghiraukan keberadaan Galang dan Jay di sebelahku.
“Sayang! I love you! I am completely love you, Hun!” Chris memelukku erat.
“Chris! Aku gak bisa nafas, ih!”
Chris tertawa dan melepaskan ku dari pelukannya. Ia baru menyadari bahwa Jay ada di sini.
Baru hari ini, aku bersedia bertemu dengan orang lain selain dirinya dan Galang. Jay juga baru hari ini ku izinkan melihat keadaanku.
Aku terlalu malu bertemu orang-orang.
“Ini aku bawain green tea cheese with ice cream buat kamu” Chris langsung membuka bingkisan yang dibawanya.
Dipamerkannya semua yang Ia bawa kepada Jay dan Galang. Ia bahkan mengeluarkan seluruh isinya. Padahal di dalamnya juga ada beberapa bahan makanan untuk stok di apartementku.
“Pamer banget sih, bapak rumah tangga satu ini” protes Jay.
“Lo beresin lagi ntar! Gak mau gue bantuin lo” Galang juga ikut protes.
Chris hanya tertawa dan tidak menanggapi sedikitpun perkataan Jay dan Galang. Ia hanya fokus berbicara kepadaku, dan sesekali menawarkan ku makanan yang Ia bawa.