Malam dengan penerangan remang itu dihiasi dengan indahnya alunan musik bergenre rnb, menggambarkan betapa intensednya malam ini. Nuansa cafe yang semi outdoor, memberikan dingin angin menusuk kulit setiap pengunjungnya, yang kebanyakan para pekerja yang sedang menikmati waktu bersantai bersama kekasih.
“Gue geli banget sebenernya ngeliat pasangan itu, kek ... kek apa ya,” kata seorang wanita yang sedang sibuk memerhatikan minumannya di gelas.
“Gue paham sebesar apa rasa suka lo sama Chris.” Pria di depannya menyampaikan tanggapan yang membuat si wanita cantik itu terdiam.
Gelas yang tidak bersalah itu, digeser kasar oleh seorang wanita cantik. “Apa sih sebenernya yang Chris lihat dari si Ravenna?”
Hening. Malam itu sepertinya akan menjadi malam yang dihiasi oleh keluh kesah seorang wanita cantik bernama Haruna.
“Lo? Gue lihat-lihat, lo juga naksir dia?”
“G-gue? Naksir? Gak serendah itu selera gue.” Pria itu kembali menyesap rokok elektriknya.
Seketika menguar aroma vanilla, yang berasal dari oral pria yang baru saja menikmati nikotin elektrik miliknya.
“Kemarin Awan juga nyeritain cewek itu. Mana Awan kek bahagia banget mukanya pas cerita.”
“Cerita gimana?”
“Awan bilang kalau cewek itu udah mau ketemu sama orang, selama ini cuma mau ketemu Chris doang, manja banget,” jawab Haruna dengan ekspresi mengejek, tanda Ia kesal akan apa yang sedang menjadi topik pada ceritanya.
“Lo kok bisa pacaran sama Awan? Gue masih heran.”
Kedua muda-mudi itu menghabiskan malam dengan perasaan kesal dan marah akan seseorang. Mereka saling menyampaikan ketidaksukaan terhadap satu orang, yang masing-masing mengenal orang itu.
Alunan musik rnb tidak lagi terdengar, telah tertutupi oleh celotehan masing-masing.
“Buruan, gue anter ke apart lo.” Pria itu berdiri dan bersiap untuk meninggalkan cafe yang semakin ramai oleh pengunjung.
“Gak usah pulang ke apart gue deh. Gue takut ntar Awan pulang ke apart gue.”
“Ya udah, ke apart gue aja. Gue udah gak bisa nahan lagi, buru!”
Keduanya berjalan menuju apartment yang dimaksud. Untung saja, keduanya dalam keadaan tidak mabuk, dan sedang sadar sepenuhnya.
“Buka, Na!”
“Sshh, bentar, nyangkut ini ih.”
“Lo bisa ngebayangin gak? Ngelakuin ... enghhh ... ini sama Ravenna? Gue yakin, dia lemah banget pasti.” Haruna berbicara seakan meledek dan mengejek keadaan Ravenna.
Malam semakin larut, keduanya bahkan lebih larut pada keadaan malam larut itu. Kini, mereka melakukan entah apa di apartment sang pria.
--
“Good morning, Princess!” Chris mengecup kening kekasihnya yang sedang tertidur.
Ravenna membuka mata, dan tersenyum kala melihat prianya tepat berada di hadapan.
“Aku buatin sarapan nih. Bangun yuk.”
Ravenna masih diam dan tetap tersenyum, kemudian mengangguk.
“Hari ini kita mau ke rumah sakit, semoga aja keadaan kamu makin baik ya, Hun.”
Lagi, Ravenna mengangguk.
Keadaan Ravenna sudah cukup lebih baik dari sebelumnya. Setelah memberanikan diri bertemu dengan teman-temannya, Ravenna pun mulai menerima keadaan yang dihadapinya.
Beberapa bulan telah berlalu, sejak keputusan besar yang dibuat oleh Ravenna, akhirnya Ia bisa berdamai dengan keputusannya sendiri. Meskipun, Ia masih sering dihantui oleh pikiran-pikiran negatif dari dalam kepalanya sendiri.
Ravenna bangkit dari tidurnya, menyandarkan kepalanya pada sisi tempat tidur. Ia menghela nafas, menyaksikan prianya menyiapkan segala keperluan untuknya di pagi hari.
“Chris?”
Chris berdehem, dan masih melanjutkan kegiatannya. Membuka tirai jendela, membereskan meja untuk kekasihnya menyantap sarapan, mengisi botol minum untuk sang kekasih, dan menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuh kekasihnya itu.
“Kamu gak tidur ya?”
Chris terdiam. Ravenna tahu jelas, prianya itu sulit tidur jika sedang ada pikiran yang mengganggu.
“Ini aku masakin omelet with sandwich, ada roti isi selai cokelat kesukaan kamu, dan ini ada jus-....”
Ravenna menyela. “Chris?”
Chris terdiam. “Hun, makan dulu ya.”
Ravenna menurut. Ia mulai menyendok santapan yang sudah disiapkan oleh pria kesayangannya.
“Ibu kesini kan?”
Chris diam. Sepertinya, pria itu sedang tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Ravenna.
“Aku denger semuanya.”
“Kita bahas ini setelah pulang dari rumah sakit ya, Hun.”
Chris mendudukkan dirinya di sebelah Ravenna. Menggenggam erat tangan kiri sang kekasih, kemudian mengecupnya singkat.
“Lang, pegang yang bener ya! Kalau sampe cewek gue jatuh, lo gue jadiin keset ntar,” ancam Chris kepada Galang.
Mereka sedang bekerja sama memindahkan Ravenna dari kursi roda, ke mobil. Saat ini, mereka akan pergi ke rumah sakit. Sudah waktunya bagi Ravenna untuk memeriksakan keadaannya, dan mengatur jadwal terapi.
“Keadaannya udah cukup membaik, luka di kaki kamu juga sudah perlahan membaik, tinggal tunggu sebentar lagi untuk bener-bener kering lukanya. Terapi yang kemarin udah diatur kan? Selanjutnya kalian diskusikan dengan beliau saja, untuk ketentuan-ketentuan saat terapi nanti ya.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak ya.”
“Sama-sama. Lekas pulih ya, Ravenna.”
Chris melotot, mendengar dokter yang masih muda dan ganteng itu memanggil nama Ravenna seperti saat dirinya memanggil Ravenna.
“Kamu kenapa senyum-senyum?”
Keduanya berjalan meninggalkan ruangan dokter yang membuat Chris cemburu. Haha, lucu sekali.
“Emang aku gak boleh senyum?” jawab Ravenna singkat.
“Genit banget, kamu tau gak dia tuh ikut-ikutan aku.” Chris berbicara dengan bibir mengerucut, tanda dirinya sedang cemberut.
Ravenna tertawa. “Enggak, Sayang. Gak ada yang bisa kasih heartthrob ke aku, kecuali kamu yang panggil nama aku kayak biasanya.”
Chris tersenyum sumringah. Kesenangan, sepertinya.
Chuup...
Chris mengambil kecupan di pipi Ravenna.
“Ih, rame orang tau.” Ravenna memukul lengan kekar prianya.
Yang dipukul lengannya hanya bisa tersenyum lebar, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan.
“Kalian kenapa senyum-senyum begitu?”
Chris dan Ravenna kompak menggeleng.
“Ravenna hamil?”
Plak! Satu pukulan keras menyapa lengan Galang.
“Aww!” Galang memekik kesakitan.
“Aku lagi period, Kak. Jangan aneh-aneh ih bicaranya.”
“Yah, beneran lagi period, Hun?”
“Iya! Kenapa?! Mau aku pukul juga?”
Chris menggeleng. “Lo yang bener dong, Lang! Nuduh-nuduh cewek gue. Cari cewek sana! Jangan jadi nyamuk mulu.”
“Ra, cowok kamu berisik banget. Tinggal aja kali ya,” kata Galang sambil menghidupkan mesin mobil.
Chris sedang memasukkan kursi roda milik Ravenna, ke bagasi mobil. Dirinya jelas mendengar perkataan Galang.
“Lo yang gue tinggal!” protesnya dari belakang mobil.
Keduanya semakin sering menunjukkan tingkah jenaka, yang mampu menghibur Ravenna setiap waktu.
“Jay gak ke apart? Aku kangen sama dia, sama Haris juga.”
“Hun, kemarin mereka nginap di apart loh. Bisa-bisanya bilang kangen mereka di depan aku?”
“Yaelah, kayak bocil aja sih lu,” ledek Galang.
“Tau ih, Chris. By the way, kalian gak laper?”
“Kamu laper, Hun? Kita makan dulu ya? Kamu mau makan dimana?”
“Dimana aja yang penting sunyi. Boleh?”
Chris dan Galang kompak menjawab. “Boleh dong.”
Ravenna tersenyum senang melihat keduanya merasa tidak keberatan menuruti keinginannya.
“Satu ... dua ....”
“Udah? Enakan duduknya, Hun?”
Kegiatan mereka sekarang didominasi dengan mengangkat dan memindahkan Ravenna dari suatu tempat ke kursi roda. Mereka akan terus melakukan itu, hingga Ravenna menyelesaikan terapinya. Agar Ravenna bisa bergerak dengan mandiri, seperti dulu lagi. Meskipun, tidak bisa bergerak sesempurna dahulu.
“Loh, Ra. Kamu? Ini beneran kamu?” tanya seorang wanita cantik, yang tidak terlalu dekat dengan Ravenna.
Ravenna tersenyum, dan mengangguk. Posisi duduknya berubah, menandakan dirinya sedikit merasa tidak nyaman.
Chris di sebelahnya hanya melihat ke arah wanitanya. Ia memerhatikan Ravenna, seakan tidak ada waktu untuk berhenti memerhatikan wanitanya.
“Kamu kesini bareng Awan?” Ravenna berusaha menyapa Haruna.
“A-awan? Oh ... hm ... aku ... enggak.”
Chris akhirnya melihat ke sekitar, berusaha menemukan Awan. “Loh, El. Lo disini juga, sama siapa?”
El diam. Mata Chris berpindah, dari menatap El, kemudian menatap wanita yang menyapa Ravenna dengan nada mengejek tadi.
“Ra, kasian banget. Kamu kok bisa kayak gini? Ya ampun, aku padahal kepengen banget ajak kamu shopping, atau sekedar window shopping aja deh, tapi kondisi kamu begini, gimana bisa aku ajak jalan. Kamu kok-....”
“Sorry, kita mau makan dulu, tolong jangan diganggu ya.” Chris menyela omongan Haruna.
Haruna hanya bisa berdiri mematung. Kemudian, berjalan meninggalkan meja dimana Chris menyela omongannya dengan begitu dingin.
“Chris?”
Chris hanya diam. Ia sibuk menyajikan apapun makanan di atas meja, untuk dimakan oleh mereka bertiga.
“Ra, tadi Haris nelfon. Katanya lagi on the way ke apart.”
“Really?!” Ravenna memekik kesenangan.
“Bahagia banget deh.” Chris menatap Ravenna begitu heran.
Ravenna tertawa. “Chris, udah deh. Masa cemburu sih sama adek-adek kamu.”
“Siapa yang cemburu, Hun. Aku tuh cuma bisa cemburu sama dokter kamu.”
Galang keheranan. “Dokter? Dokter Ravenna yang ganteng itu?”
Chris melotot ke arah Galang. Bagaimana mungkin, teman seperjuangannya itu malah mengatakan dokter yang dicemburuinya ganteng.
“Gantengan dia atau aku?” Chris bertanya ke Ravenna.
Ravenna hampir meledak karena tertawa melihat tingkah lucu prianya jika sedang cemburu.
“Gantengan Jay,” jawab Ravenna.
“Apaan. Jay udah keeliminasi duluan dia. Serius, Hun?”
“Ih ... ya gantengan kamu lah, kemana-mana.”
Chris tersenyum lebar. “Kemana emang, Hun?”
“Sumringah banget itu senyum. Kayak ikan lagi di aer,” ledek Galang.
“Bodo amat. Yang penting gue ganteng, kata pacar gue.”
“Bocil banget emang pacar kamu ini, Ra. Gak nyangka sih aku.”
Chris hanya memberikan senyuman yang sejak tadi merekah, tidak luntur. Sambil Ia tetap menyantap makanannya.
“Berarti kita harus cepat habisin makanannya dong. Ntar Haris nunggu di lobby kelamaan.”
Ravenna meminta Chris dan Galang untuk lebih cepat menghabiskan makanan mereka. Padahal yang belum selesai makan hingga saat ini adalah dirinya sendiri.
“Cowok makannya cepet banget sih. Kalian gak pake ngunyah ya? Langsung telen?”
“Udah buruan kamu makan. Kita tungguin kok.”
“Kak, kamu ngunyahnya berapa kali?”
Galang tidak menanggapi pertanyaan konyol dari Ravenna. Ravenna mengubah sasarannya bertanya pada Chris.
“Sayang? Kamu ngunyahnya berapa kali?”
“Bentar aja, Hun. Yang penting sampe bisa ditelen.”
“Ih, gak bagus tau begitu. Kita harus-....”
“Hun, ntar Haris nunggu lama di lobby loh.”
Ravenna mengangguk dan mempercepat kunyahannya.