3. Tiga

1053 Kata
Biru melangkahkan kakinya dengan gerakan konsisten, berdua dengan Vero. Sekolah sudah sangat sepi. Lima belas menit yang lalu, bel pulang sekolah sudah berbunyi, sudah menjadi tradisi di sekolah, jika bel pulang berbunyi tanpa menunggu waktu lama siswa berhamburan keluar saat sang guru mengakhiri kelasnya. Berbeda dengan Biru, yang memilih tetap di kelas hanya untuk melihat halaman belakang sekolahnya, yang terlihat jelas dari lantai dua itu. Menikmati pemandangan siang yang setiap hari dilihatnya tanpa rasa bosan. Langkah Biru terhenti ketika kupingnya mendengar samar-samar suara orang yang tengah bercakap dan lebih ke arah berdebat. Bahkan disela-sela ocehan dari Vero, Biru sangat jelas mendengarnya. Cowok itu menghentikan langkahnya. "Apa? Dia suka sama lo? Lo gila?" ucap Vero mengakhiri ocehannya. Ia menyadari bahwa Biru menghentikan langkahnya, sehingga tertinggal sekitar satu meter di belakang. Cowok berambut ikal itu menoleh, mendapati sahabatnya yang sedang berdiri dan diam. Mencoba mencari sumber suara hanya dengan menggunakan kupingnya. "Ngapain?" tanya Vero bingung. "Lo duluan, deh," perintah Biru. "Ada masalah?" Indra pendengarannya kini sudah mendengar suara seorang cewek sedang berbicara. Tetapi, dia sama sekali tak mengindahkannya. Biru menggeleng, tanpa menoleh ke arah sahabatnya, kedua telinganya seperti sedang bekerja mencari sumber suara yang mengganggu alat pendengarannya itu. Rasa penasarannya benar-benar sudah merasuki tubuhnya tak seperti biasa. "Buruan! Gue harus jemput Adik gue. Lo tau kan, kalo sampe telat semenit aja, bakal ngomel kayak ibu-ibu kontrakan." Vero gusar. "Iya, lo duluan." Biru seperti lebih tertarik dengan percakapan yang kini terdengar semakin jelas di telinganya. Mungkin Vero mendengarnya, tetapi tak mempermasalahkannya. Cowok itu hanya memikirkan adiknya yang harus dijemput di tempat bimbel. Bagi Biru suara aneh, perdebatan bahkan suara semut pun bisa Ia dengar karena alat pendengarannya sangat sensitif. Terlebih, cowok penyuka kesunyian itu memiliki kuping yang riskan dengan suara. "Oke." Vero mengalah, meninggalkan sahabatnya yang masih berdiri di tempatnya. Setelah punggung Vero benar-benar hilang di belokan koridor arah lapangan parkir, perlahan langkah kaki Biru bergerak. Mencari sumber suara yang didengarnya. °°° "Ana, aku nggak mau kamu cari masalah di sini," ucap laki-laki berambut kelimis, dengan balutan kemeja warna hijau tosca. "Aku nggak cari masalah. Dia, dia yang cari masalah duluan. Salah? Kalo aku mempermalukan orang seperti dia?" Siswa di depannya terlihat membela diri. Laki-laki yang ternyata Mr. Jack menghela napas. memijat keningnya dengan penuh tenaga. Seperti memikirkan cara supaya gadis di depannya mendengar perkataan darinya. "Dan juga, Biru. Kamu harus menjauhinya, karena dia bakal bisa sangat berbahaya buat kamu," ujar Mr. Jack. "Biru? Ah, cowok yang dingin itu? Kenapa?" Mr. Jack menggelengkan kepala pelan. "Yang paling penting untuk sekarang, kamu hanya harus sekolah sampai lulus lagi. Mengerti?" Anael mengangguk paham. Ia sedikit berpikir dengan apa yang diucapkan Mr. Jack. Biru mendengar semua percakapan itu dari balik tembok koridor yang hanya berjarak kurang dari lima meter sampai area belakang gedung sekolah. "Kita berbeda dari mereka. Mereka hanya manusia lemah, yang selalu mencari masalah. Sedangkan kita, harus menyelesaikan misi agar bisa kembali ke sana," ucap Mr. Jack lagi. Benar-benar ucapan yang membingungkan Biru. cowok itu bermaksud mencerna semua ucapan guru Bahasa Inggrisnya, namun gagal. Biru menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tempat tidur. Kamar bernuansa biru tua itu terlihat sangat rapi, mungkin karena setiap hari asisten rumah tangga selalu merapikannya. Tempat ternyaman di dunia adalah Kamar. Bagi Biru, kamar yang berada di lantai dua rumahnya adalah tempat teraman untuk dirinya dari segala hiruk pikuk kota Jakarta. Kamar yang sudah dinobatkan sebagai tempat paling sakral dan rahasia ini sangat dilarang dimasuki oleh orang asing. Tidak berlaku untuk Vero, cowok itu tanpa rasa takut, masuk dan mengacak-acak kamar berukuran besar itu. Bahkan Vero sering menginap di rumah Biru ketika orang tuanya sedang berada di luar kota untuk bekerja. Biru tak pernah mempermasalahkannya, selagi barang kesukaannya tak disentuh oleh si manusia astral seperti Vero. "Misi? Misi apaan? Antara anak baru sama Mr. Jack." Biru menatap langit-langit kamar, otaknya memikirkan semua percakapan yang di dengarnya di sekolah tadi. "Buat apa gue peduli." Tangan Biru meraih bantal dan meletakkan di atas wajah tampannya, menutupi kepala. Tak selang beberapa lama, Ia kembali mengambil bantal dan membuangnya di sembarang tempat. Menghela napas berat, raut wajahnya seolah masih berpikir dengan hal yang mengganggunya. "Aish," gerutunya kesal, "Kenapa gue mikirin itu, dia cuma anak baru." Biru mengubah posisinya menjadi duduk. Mengambil kembali bantal yang dilemparnya dan dijadikan tumpuan kedua tangannya. "Cewek aneh, nggak mungkin gue tertarik hanya karena dia di atap tadi." Atap adalah tempat terlarang untuk siswa lain. Hanya Biru dan Vero yang bebas menggunakan atap sebagai tempat peristirahatan. Tidak ada seorang siswa pun yang tertarik dengan tempat di atas gedung itu. Karena menurut mereka panas, dan angker karena di sana ada sebuah gudang kecil yang digunakan untuk menyimpan barang yang sudah tak terpakai. Tetapi, bagi Biru atap sekolah adalah segalanya. "Kenapa dia berpikir untuk menangis di atap? Apa nggak ada tempat lagi?" Biru bertanya-tanya. "Aish." Lagi-lagi Ia menggerutu. "Ada yang salah dari otak gue, ngapain gue mikirin dia," gumamnya lirih. Hujan turun tiba-tiba. Terlihat sangat jelas turun ke balkon kamar bernuansa biru tua itu melalui jendela dan pintu yang terbuat dari kaca. Karena memang gorden yang biasanya menutupinya masih terbuka lebar. Raut wajah Biru berubah. Terdapat rasa kekhawatiran di sana. "Kenapa tiba-tiba ujan?" tanyanya lirih. Biru menatap kosong ke arah jendela. Meneliti air hujan yang kini semakin deras jatuh ke balkon kamarnya yang mungkin sudah basah. Bahkan angin bertiup masuk melalui celah pintu balkon yang sedikit terbuka. Suara petir kini bersenandung di langit abu-abu itu keluar bersama gemuruh angin, menyambut datangnya sore hari di kota Jakarta. Seseorang membuka pintu kamarnya. Muncul seorang wanita tua, berumur sekitar enam puluh empat tahun. Rambutnya digelung membentuk sebuah konde. Wajahnya tampak sangat khawatir. Akan tetapi, seketika Ia menghela napas lega, saat mendapati Biru masih di atas tempat tidurnya. "Tuan muda ndak apa-apa?" tanyanya dengan logat jawa kental. Biru melempar pandangannya, kini menatap wanita tua yang merupakan asisten rumah tangganya. Sebut saja Mbok Dirah, Biru biasa memanggilnya dengan sebutan itu. orang yang paling Biru percaya dibandingkan kedua orang tuanya dan juga kakak semata wayangnya. Biru menatapnya lekat. Seperti minta pertolongan kepada wanita yang kini sangat mengkhawatirkannya. Benar, dia adalah orang yang selalu datang pertama kali saat hujan turun, dengan raut wajah penuh kekhawatiran, dia yang menenangkan Biru ketika tuan mudanya sedang ketakutan. Biru mengangguk pelan. Tetapi, tiba-tiba menenggelamkan kepala diantara kedua kaki yang sudah tertekuk. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya saling berpegangan erat sesekali menarik-narik rambutnya sendiri. Biru menangis ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN