4. Empat

1142 Kata
Dua tahun silam ... Hujan sore itu sangat deras. Tak membuat kedua remaja berseragam biru putih merasa terganggu akan suaranya. Keduanya tengah bercengkerama di sebuah halte bis depan sekolah mereka. Bahkan suara petir tak membuat keduanya takut akan kilatannya. Percikan air hujan yang turun sudah membasahi kedua pasang sepatu berwarna gelap itu. Siswa laki-laki yang hari itu menggunakan hoodie berwarna abu-abu tampak begitu bahagia menggoda si cewek yang sudah mengerucutkan bibirnya. Ia terus tersenyum melihat cewek di sampingnya marah dengan manjanya. Cowok itu mengakhiri godaannya dengan mengelus kepala si cewek dengan lembut. "Oke, oke. Maaf ya," ucapnya manja sembari mengusap rambut lurus cewek di sampingnya. "Besok jadi, nggak?" tanya si cewek dengan nada sedikit kesal. Matanya tak berani menatap mata cowok itu. "Jadi dong, besok gue jemput jam sepuluh. Inget, nggak pake telat! Satu detik aja telat, gue tinggal." Ancam cowok itu pura-pura, senyum jahil mengembang dari sudut bibirnya. "Lo tuh yang suka telat," ujar si cewek tak terima. Cowok itu tersenyum. Ia mengangkat tangannya melihat arloji yang sudah terlilit manis di pergelangan tangan kiri. "Udah sore banget, kok belum ada bis yang lewat," ujar cowok bernama lengkap Detrian Biru Daijiro dengan mengedarkan pandangan di jalanan. "Ujan, jadi susah," jawab si cewek mengikuti pandangan Biru. Hujan semakin deras, sampai percikan airnya mengenai bukan hanya sepatu namun kursi yang duduki pun terkena percikan dari segala arah. Cowok itu mengangguk pelan tanda mengerti. "Ayah juga lama banget," protes si cewek lalu melirik jam tangan yang dikenakannya. "Mungkin macet, biasanya kalo ujan, tau sendiri jalanan udah kaya apa," tebak cowok berambut kecoklatan itu. Tiba-tiba sebuah ponsel berdering. Telepon genggam milik cewek itu mendapat sebuah panggilan. Segera ia mencari ponsel yang masih berada di dalam tas sekolahnya. Melihat layar setelah berhasil menemukannya. "Ayah," ujarnya bingung. Ia segera menjawab panggilan yang ternyata dari sang ayah. "Halo, Ayah," jawabnya cepat. "Oh gitu, oke. Jadi, aku pulang aja ya,” lanjutnya lagi. "Iya, ayah." Cewek bernama Alika itu mengakhiri percakapannya di telepon. "Kenapa?" Biru penasaran. "Ayah nggak bisa jemput, ada rapat direksi di kantor." Alika terlihat sedikit kecewa. Biru mengangguk mengerti. "Oke, jadi gue antar lo dulu, pulang. Baru gue balik ke rumah," ujarnya sembari tersenyum. Alika tersenyum lalu mengangguk. Di dalam bus keduanya tampak biasa saja. Biru mempersilakan Alika untuk duduk, karena memang hanya ada satu tempat duduk yang tersisa. Cowok itu berdiri tepat di samping Alika yang merupakan kekasihnya. "Biru, nanti lo nggak usah turun. Ujan, langsung pulang aja." Alika mendongakkan kepalanya menghadap Biru. Cowok itu hanya tersenyum menanggapinya. Setelah turun di halte kawasan perumahan Alika, Biru mengikuti Alika saat turun dari bus itu. Hujan semakin detas,, membuat keduanya berteduh di halte yang saat itu sangat sepi. "Kenapa ikut turun?" Alika mengibaskan bajunya yang basah terkena cipratan air hujan hasil tadi saat Ia turun dari bus. "Gue anter sampe rumah. Tapi, kita nggak ada payung." Biru menerawang air hujan. "Ah, gue beli payung dulu, di toko sebrang sana. Lo tunggu sini ya," ujar Biru yang sudah berancang-ancang lari menerobos hujan. Setelah mendapat jawaban dari Alika, Biru pun bergerak cepat, menyebrangi jalanan kota yang sedang sepi. Setelah matanya memastikan tak ada kendaraan yang akan melintas, Biru berlari. Biru mendapatkan sebuah payung yang dibelinya di toko sebrang halte di mana Alika berada. Biru tersenyum, tangannya melambai ke arah Alika, memperlihatkan payung yang dipegangnya. Tetapi tiba-tiba ... Bunyi klakson mobil terdengar sangat keras. Biru yang saat itu sedang melihat ke kanan dan kirinya, terkejut dan langsung melihat sumber suara klakson itu. Seketika badannya lemas, payung yang dibawanya terjatuh. "Alika!" serunya kencang. Sebuah mobil menabrak Alika, yang akan menyeberang. Membuat tubuhnya terlempar lebih dari sepuluh meter dari posisinya saat ditabrak. Alika tergeletak di bawah rintik hujan yang sudah sempurna membasahi tubuhnya. Biru berlari sekuat tenaga, walaupun kakinya sedikit bergetar. Menyaksikan Alika tak berdaya, bahkan darah yang keluar dari tengkuk kepalanya kini telah tercampur dengan air hujan. Lemas, tubuh Biru bergetar hebat. Bahkan, mulutnya tak bisa berucap sepatah kata pun. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya sendiri, sehingga Ia terduduk lemas. "A__a__lika," ucapnya terbata namun terdengar sangat lemah. Seperti tersadar. Biru segera meraih tubuh Alika, diangkatnya kepala Alika sehingga darah kini mewarnai telapak tangannya. Biru menangis, walaupun tak terlihat air mata jatuh karena derasnya air hujan. Tetapi, sangat yakin bahwa Biru menangis. "Alika, Alika." Biru mengoyak tubuh Alika, berusaha menyadarkan. Cewek itu sama sekali tak merespon. "Tolong! Tolong!" teriak Biru. Tak ada satu orang pun yang melintas. Mobil yang menabrak Alika begitu saja kabur karena memang hari itu tak ada saksi mata selain Biru. Kamar Biru sudah sangat gelap. Dengan sengaja Mbok Dirah menutup semua jendela dan pintu dengan menyeret gorden besarnya, serta mematikan lampu kamar. Begitulah Biru, Ia takut pada cahaya lampu saat hujan turun, terlebih suara petir juga turut menemani hujan itu. Tubuh Biru bergetar hebat. Ia menelungkupkan kepalanya diantara kedua kaki. "Kenapa gue ninggalin lo waktu itu!" ujarnya merasa bersalah, satu tangannya berkali-kali memukul bagian kepala. "Maaf, maaf, maaf," ucapnya lirih. "Harusnya gue, harusnya gue." Biru semakin terisak. Kini menjadikan bantal sebagai tumpuan kepalanya. "Maafin gue Ka, gue yang salah, gue yang bodoh." Seseorang masuk, dialah Sian. Ia menyalakan lampu, berlari ke arah Biru. "Sadar Biru! Lo nggak boleh gini terus." Sian mencoba menyadarkan Biru. "Itu udah sangat lama, tolong jangan kayak gini." Pegangan tangan Biru sangat erat. "Gue yang salah, Kak." Biru terisak. "Gue yang harusnya mati." ___ Anael menatap langit yang sudah berwarna abu-abu. Hujan masih membasahi bumi dan juga balkon apartemennya sudah sangat basah, bahkan cipratan air hujan yang turun terlihat sangat jelas di jendela kaca besar itu. "Maaf, maaf, maaf," ucapnya lirih. Raut wajah penyesalannya terlihat sangat kentara. Suara bel pintu apartemennya berbunyi. Anael berjalan menuju pintu dengan menyeret langkah kakinya. "Kamu nggak apa-apa?" Sosok Mr. Jack muncul dari balik pintu, setelah Anael membukanya. Dia mengangguk pelan. Kembali masuk dan diikuti oleh Mr. Jack. "Lupakan Ana, kejadian itu sudah dua tahun yang lalu. Sudah sangat lama," ucap Mr. Jack mengambil posisi duduk di sofa panjang. "Gimana bisa aku lupa, itu adalah kejadian terburuk yang pernah aku alami di bumi ini. Aku orang paling pengecut yang lari dari masalahku." Mr. Jack menggeleng cepat. "Waktu kamu cuma sebentar di sini, nggak perlu kamu mikir hal-hal lainnya." "Aku ingin meminta maaf sama orang terdekat dia, terlebih dengan keluarganya, aku ingin terbabas dari rasa bersalah ini." Ana mulai terlihat emosional. Raut wajahnya yang gelisah, membuat wanita cantik itu tak berhenti menggerakkan tangannya. "Tenang Ana. Sebelum kamu kembali, kamu bisa meminta maaf kepada mereka. Tapi, kamu pikirin dulu cara kamu kembali ke sana, waktu kamu tinggal sedikit. Kamu harus selesaikan misi terakhir agar kamu bisa kembali Ana," jelas Mr. Jack. Mata Ana menerawang jendela besar apartemennya. "Benar, aku harus kembali." Mr. Jack mengangguk, seraya berkata, "Kamu pasti menemukan cara itu, dan kamu tau, kan? Konsekuensi apa yang akan kamu dapat jika kamu tidak menjalankan misi terakhir itu." Anael mengangguk. "Aku akan musnah," ucap Anael lirih. Wajahnya terdapat banyak penyesalan yang tersirat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN