Langkah Biru terhenti, ketika seseorang memanggil namanya.
"Biru!!" Suara Vero hampir saja memecahkan gendang telinga cowok yang kini mengenakan sepatu bermerk Nike warna putih. Biru, menoleh malas ke arah sumber suara yang merupakan sahabatnya.
Tumben banget, nih idung kambing sepagi ini udah dateng, pikirnya. Matanya menatap Vero yang sedang berjalan ke arahnya. Mencoba berpikir, menemukan jawaban ketika si rajanya terlambat datang pagi buta, bahkan ketika sekolah masih terbilang sepi.
"Apaan?" tanya Biru datar.
"Hari ini ada lomba basket di sekolah kita. Lawan sama SMA Pelita," ucap Vero antusias.
"Lalu?" Biru mencoba mencerna ucapan Vero.
"Biru, lo lupa? mau gue kenalin sama sepupu gue, Lyra." Vero mengingatkan. Berkali-kali cowok blasteran sunda-betawi itu mengatakan bahwa akan mengenalkan Biru dengan sepupunya yaitu Lyra. Tetapi, Biru seakan tak mempunyai minta untuk menanggapi ucapan sahabatnya itu.
Biru menghela napas lirih, lalu kembali berjalan menuju koridor kelas sebelas. Vero hanya pasrah mengikutinya di belakang. Ruang kelas yang ternyata sudah cukup ramai, seperti biasa gaduh karena memang siswa laki-laki bermain pingpong dengan menggunakan buku dan kertas yang di bentuk bulat sebagai bolanya.
"Anak barunya belum datang," ucap Vero sedikit kecewa.
Biru tak mengindahkan ucapan Vero, hanya duduk dan memandang jendela kelas.
"Oh ya, katanya Kak Sian main juga hari ini," bisik Vero, sedikit mendekatkan badannya dengan Biru.
"Bodo amat, gue nggak peduli. Mau dia maen, mau enggak, nggak ada urusannya sama gue," jawab Biru ketus.
Seseorang datang mengalihkan pandangan Biru dari jendela. Anael datang duduk dengan gusar di bangkunya. Menarik perhatian cowok yang kini sedang menatapnya aneh.
"Selamat pagi, Ana," sapa Vero lembut.
Anael menoleh dan menebar senyum terpaksanya pada Vero.
"Kayaknya lagi bete, ya? kenapa?" Vero berusaha mencari tahu.
Seperti tertarik dengan pertanyaan Vero, Anael memutar badannya menghadap meja Biru, mata hazel miliknya bertemu dengan netra coklat Biru. Cowok itu langsung membuang jauh pandangannya. Vero dengan cepat menggeser mejanya tepat di samping meja Biru.
"Kenapa?" Vero seperti tahu bahwa Anael memberikan sinyal untuk ber gibah pagi ini.
"Kalian kenal Clara?" tanya Anael.
"Tentu, si primadona dari sebelas ipa satu," jawab Vero dengan percaya diri.
Anael tersenyum sinis, "Primadona apanya, kelakuannya nggak wajar."
"Kenapa? dia gangguin lo?" tanya Vero penasaran, "Tenang aja, ada gue. Bakal ngelindungin lo di sekolah ini," ucap Vero.
Perkataan cowok itu berhasil membuat Biru tak kuat menahan tawanya, walaupun hanya sebuah tawa kecil. Vero membuat sebuah lelucon di pagi hari.
"Sialan lo. Ngapa lo ketawa?" tanya Vero kesal, "Gue berani kok sama ..." Perkataan Vero terhenti, ketika suara seorang cewek mengusik gibahnya pagi ini.
"Nggak heran sih, kalo deket-deket sama cowok. Namanya juga cewek gatel, maunya deket terus sama cowok." Suara Clara berhasil membuat seluruh siswa yang sudah hadir memperhatikannya. Cewek itu memang paling bisa mengalihkan perhatian orang supaya beralih kepada dirinya.
Biru menoleh, melihat cewek bernama lengkap Clara Aqueera Gee, sudah tepat berada di samping Anael. Para pengikutnya juga tampak memperlihatkan wajah sangar mereka, walaupun mereka adalah sekumpulan cewek cantik.
Vero lebih memilih menggeser kursi yang didudukinya kembali ke tempat semula. Kini Clara dan para punggawanya sudah mengerumuni Anael dan Biru.
"Ada apa sih? perasaan gue baru sekolah dua hari di sini, tapi kayaknya lo gusar banget. Takut kesaing sama gue?" ucap Anael tegas.
"Apa? kesaing?" Clara terlihat masih menahan emosinya.
Tiba-tiba saja Biru menendang kaki meja milikinya. Bangkit dengan wajah kesalnya. Membuat para cewek yang mengerubunginya minggir, memberikan jalan. Sekilas Clara melihat ke arah cowok itu, namun netra berlensa hijau itu kembali menatap Anael.
Biru keluar dari kelas diikuti oleh Vero.
"Katanya mau ngelindungin tuh cewek, kok diem aja?" protes Biru terus berjalan, menaiki anak tangga.
"Si Clara nggak kapok nyari masalah mulu," ucap Vero.
"Lo takut, dia ngancem lo lagi kayak tahun kemarin,"ujar Biru.
Keduanya menuju atap sekolah. Hari itu memang tidak ada kegiatan belajar-mengajar karena pekan olahraga nasional di adakan di sekolah SMA Harapan.
"Atau lo masih suka sama dia?" Pertanyaan Biru berhasil membuat Vero mencegat langkah kaki berikutnya.
"Apa? ada yang salah?" Biru bingung.
Vero mengedarkan pandangannya ke sekitar mereka.
"Gue udah nggak takut sama dia, terserah dia. Mau ngebongkar rahasia gue sekalipun di depan siswa sekolah ini. Gue nggak peduli!" ucap Vero tegas.
Biru mengembangkan senyum, senyum yang tak biasa.
"Bagus." Biru menggeser badan Vero untuk menyingkir.
Di atap sekolah,
Udara pagi itu sangat segar, Biru menghirupnya sembari menutup matanya.
"Gue turun dulu, Pak Irwan manggil gue di ruang guru," ucap Vero masih fokus pada ponselnya.
Biru hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Kini wajahnya seperti menantang sinar matahari pagi, tentu dengan mata yang tertutup. Tiba-tiba suara pintu terbuka berbunyi. Membuat Biru membuka matanya dan langsung menoleh. Ia mengerutkan keningnya melihat sosok Anael datang ke atap.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Biru kesal.
Anael menoleh, "Oh, gue ..." ucapnya terbata.
Cewek itu berjalan menuju ke arah Biru, mengambil posisi duduk di samping cowok yang kini tengah menatapnya kesal.
"Manusia aneh!" ujar Biru sinis.
Anael hanya diam.
"Gue harus gimana?" ucapnya lirih. Membuat Biru kini menatapnya bingung.
"Gue benci sama Clara, tapi itu hal yang nggak mungkin," ucap Anael.
"Apaan sih, lo. Nggak jelas, aneh dan juga ngeselin!"
"Pokoknya gue harus selesein semuanya. Gue harus cepet kembali. Gue nggak mau jadi manusia seperti mereka." Anael terus menggerutu.
Biru semakin tak mengerti ucapan gadis di sampingnya. Menggelengkan kepala tak percaya. Pergi meninggalkan Anael seorang diri.
____
Peserta PON sudah mulai berdatangan, dari berbagai sekolah di Jakarta. Hari ini adalah jadwal pertandingan basket dan bulu tangkis. Lapangan basket sudah dipenuhi siswa, entah dari si tuan rumah, ataupun dari sekolah luar.
Biru masih berdiri di depan kelasnya, matanya melihat sekumpulan orang yang rela ber panas-panasan di lapangan basket. Vero datang dengan dua minuman kaleng di tangannya. Memberikan salah satunya untuk Biru.
"Si Lyra ke sini, nanti temuin dia. Gue udah janji bakal ngenalin lo ke dia," ucap Vero lalu membuka minumannya.
Biru hanya diam. Tatapannya masih menatap objek yang sedari tadi ia perhatikan.
"Biru." Suara cewek dengan nada genit mendekat ke arah Biru. Biru menoleh, mendapati sosok Clara tengah tersenyum ke arahnya.
Cowok itu mengerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Vero. Jawaban sahabatnya seperti biasa mengangkat bahu jika tak mengerti maksud dari apa yang di lihatnya.
"Ada apaan?" tanya Vero bingung.
"Ada perlu sama sahabat lo. Jadi, lo bisa ninggalin kita berdua?"
Tak banyak bicara, Vero langsung menjauh. Tinggallah Biru dan Clara. Belum sempat Clara berbicara, sekumpulan cowok melintas, membuat Clara mengurungkan niatnya berbicara.
"Hai, Clara," sapa cowok yang berjalan paling depan dan mengenakan seragam basketnya. Dialah Sian. Senyumannya membuat siapa saja menyukai dirinya, bahkan banyak cewek yang mengejar-ngejar cintanya setelah mendapat senyuman maut itu.
"Iya, Kak Sian." Clara tersipu.
Biru yang menyaksikannya hanya tersenyum sinis.
"Jangan lupa, semangatin aku." Sian melanjutkan langkahnya dengan diikuti anak buahnya.
Setelah Sian menjauh, Clara kembali beraksi dengan maksud dan tujuannya datang kepada Biru.
"Lo deket sama si anak baru itu?" tanya Clara.
"Bukan urusan lo," jawab Biru ketus.
Clara tersenyum sinis, "Well. Gue suka gaya lo," ucap Clara, "Jutek, ganteng, tapi gue suka," lanjutnya.
"Lo mau apa?" tanya Biru ketus.
"Gue denger, lo temen SMP-nya Danis?"
Mata elang Biru langsung mengarah kepada Clara. Mencoba mencari tahu tujuan gadis ini menemuinya. Clara masih pada senyum sinisnya, seakan dia memiliki sebuah rahasia yang ingin dicurahkan kepada Biru. Cowok itu mencoba tenang, matanya kini beralih pada objek lain, tersenyum sinis dan melangkah pergi.
"Aish, sialan tuh cowok. Gue harus cari tahu tentang dia," gerutu Clara kesal.
Lapangan basket dan bulu tangkis sama-sama ramai, jika lapangan basket hampir sembilan puluh delapan persen penontonnya adalah siswa perempuan, dan lapangan bulu tangkis dominan dengan siswa laki-lakinya.
Sesuai rencana Vero, dia mempertemukan Biru dengan Kyra di taman belakang sekolah. Biru duduk terdiam begitu juga Lyra yang berada di sampingnya. Sedangkan Vero entah di mana, pasalnya setelah mempertemukan Lyra, cowok itu langsung pergi tanpa pesan.
"Lo temen deketnya Vero, ya?" tanya Lyra gugup.
Biru mengangguk, "Dan lo sepupunya Vero?"
Canggung, keduanya terlihat sangat canggung. Biru bingung harus melakukan apa, pertama kalinya dia duduk dengan cewek yang belum dikenalnya. Tidak, tadi pagi Ia duduk bersama Anael yang hanya memperburuk suasana.
"Tujuan lo ke sini, buat nonton basket, kan?" tanya Biru.
Lyra mengangguk cepat. Biru berusaha tersenyum. Ia sangat yakin Vero akan marah, jika dirinya terlalu cuek dengan Lyra.
"Lo, mau nonton juga?" tanya Lyra ragu.
Biru tersenyum tipis, "Gue nggak suka tempat rame."
Lyra mengangguk mengerti, "Benar kata Vero, lo lebih suka ketenangan."
"Sorry, ya."
"Enggak kok, bebas. Lagipula gue dateng juga emang mau nonton basket."
Setelah pertemuannya selesai. Biru Kembali menaiki anak tangga. Entah apa yang dipikirkannya, jelas bahwa kini raut wajahnya seperti sedang muncul banyak pertanyaan. Mencari sosok Vero yang tak terlihat. Setelah sampai di lantai dua, matanya menangkap pemandangan langka, melihat Anael tersenyum sangat manis.
Ketika hati sama pikiran gue nggak sinkron, gue lebih milih liat senyum itu. Batin Biru.
Matanya kini beralih pada makhluk di depannya. Sosok Vero tengah berbicara dengan gaya khas cowok seperti sedang merayu ceweknya. Entah apa yang mereka bicarakan membuat Biru penasaran.
"Oke, oke. Mulai hari ini kita teman," ucap Anael.
Biru mendengarnya, dan berpikir bahwa sahabatnya ingin bertemen dengan cewek aneh.
"Lo boleh pake atap, bebas mau ngapain aja." Suara Vero berhasil membuat Biru angkat suara.
"Apa? bebas ke atap?" Biru mendekat.
Kedua pasang mata kini menatapnya datar.
"Iya, kenapa?" Tanpa rasa bersalah Vero bertanya.
"Atap cuma___" ujar Biru.
"Milik lo? Ini sekolahan bukan gedung pribadi lo!" sela Anael tegas.
"Heh."
"Biru, biar gue jelasin. Jadi___" Vero menghentikan ucapannya ketika Biru mengangkat tangannya, tanda bahwa Vero harus diam.
Anael tersenyum tipis, "Kenapa sih, ribet banget kayaknya. Siapa aja boleh ke atap, termasuk juga gue. Walaupun cuma seorang anak baru, tapi gue juga masuk di sini nggak gratis."
"Menarik, cewek aneh kayak lo ada di sekolah ini." Mata Biru menatap tajam ke arah Anael.
"Lebih menarik mana? gue atau hubungan lo sama Sian," ucap Anael.
Biru sangat kaget mendengarnya. Bagaimana bisa, seorang anak baru tahu tentang dirinya dan Sian.