Di atas sajadah, Kayla berusaha duduk dengan khikmat. Membiarkan seluruh tubuhnya mengenakan ruku' serba putih. Tertutup begitu sempurna. Sepasang tangannya menengadah keatas. Berharap ia bisa menyalurkan kesedihan dan kegalauan karena masalah di dunia. Ada bulir air mata yang sebenarnya ingin ia teteskan, tapi rasanya sudah begitu kering dan gersang. Tak ada lagi yang bisa membasahi kedua pipinya. Tapi sesak di d**a masih saja terasa. "Mungkin ini salahku karena dulu aku terlalu larut untuk mencarikan kebahagiaan buat Fajar," ucap Kayla. Ia berusaha beristighfar, menjadikan hatinya agar lebih pasrah dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya. "Maafkan aku ya Allah, aku telah menganggap Fajar sebagai matahari. Padahal matahari yang sesungguhnya adalah yang Engkau ciptakan untuk m

