Memikirkan Jawaban

1301 Kata
Sepasang mata tidak bisa terpejam malam ini. Beberapa buku dibiarkan tergeletak di tiap sisi tempat tidur. Ada yang terbuka, dan ada yang tanpa sengaja tertutup selimut dan bantal. Gadis itu berguling ke sana ke sini. Hampir seluruh bagian ranjangnya ia jelajahi. Membiarkan tubuhnya berpindah dengan cepat hingga tempat tidurnya semakin berantakan. "Ahh, otakku nggak waras. Cowok seganteng Fajar lebih baik dijadikan pacar," ucap bibir Kayla begitu saja. Gadis itu sendirian berada di dalam kamar. Menatap langit kamarnya yang polos. Hanya ada lampu dan sedikit tampak rumah laba-laba yang cepat sekali muncul padahal dua hari yang lalu sudah dibersihkan. "Jangan ah, kalau pacaran berarti aku nggak berpegang teguh pada pendirian kalau aku nggak mau pacaran selama sekolah. Tapi, Fajar itu ganteng pinter, nggak banyak tingkah. Apalagi dia juga bukan tipe cowok yang suka tebar pesona. Emang dasarnya aja anaknya cakep," ucap bagian hati Kayla yang lain. Seolah sedang terjadi pertarungan batin yang menyiksa pikiran Kayla. "Kling." Suara pesan masuk di ponsel Kayla yang tergeletak di atas mejanya. Kayla meraihnya. Betapa terkejut, pesan yang masuk ternyata dari Fajar. Ia pun membaca berulang kali, karena bisa saja ada kesalahan. "Tapi, ini emang pesan dari Fajar. Dia lagi ada di warung bakso depan dan ngajak ketemuan. Ya Allah, gimana ini. Penampilanku kan lagi kacau. Ergggg, kok jadi gini sih!" Kayla bangun dari tempat tidur. Diambil sisir untuk merapikan rambutnya. Diikat dengan tali berwarna merah muda yang terlihat manis jika dipakai Kayla. "Cantik. Tapi," ucap Kayla di depan cermin. Karena merasa kurang cantik. Kayla melepas ikatannya. Ia kira, dirinya akan lebih terlihat cantik alami jika rambutnya dibiarkan tergerai tanpa mengenakan apapun. "Lha, gini kan cakep," ucap Kayla. Namun, gadis remaja itu kembali ragu saat melihat pantulan dirinya di depan cermin. Kenyataannya, sebuah rasa yang bernama jatuh cinta sudah berhasil membuat seorang Kayla tidak memiliki pendirian dan akal sehat. Dirapikan lagi rambutnya yang panjang sebahu. Terlihat tebal dan hitam. "Kalau dilihat-lihat, malah kayak mak lampir. Ah, udah deh. Diikat aja." Kayla merapikan lagi rambutnya. Dicari tali pengikat rambut merah mudanya yang tadi sempat dilempar entah ke mana. "Ahhh," jerit Kayla frustasi. "Ikat rambutku mana? Kenapa tadi aku buang." Kayla mencarinya dengan buru-buru. Disaat seperti ini, gadis itu justru tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Jatuh cinta benar-benar membuat dirinya lupa. ** Derap langkah kaki terkesan buru-buru. Meninggalkan jejak rasa lelah pada si pemilik langkah kaki tersebut. "Mana dia. Aku nggak lihat Fajar di manapun," batin Kayla memperhatikan sekeliling. Ia berusaha mengatur nafasnya. Dilempar ke segala penjuru tatapan mata untuk mencari. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu membuat terkejut. "Hah, Fajar." Kayla menoleh, ia membulatkan mata melihat Fajar berada tepat di belakangnya. "Aku udah pesan tempat di sana." Fajar menunjuk sebuah meja yang tak jauh dari sana. "Ohhh," sahut Kayla gugup. Ia masih berusaha mengatur nafas agar lebih tenang. Sebuah meja sedang digunakan oleh sepasang muda mudi berdua. Kayla dan Fajar berada dalam posisi hening yang tak tahu sampai kapan. Kayla memberanikan diri melirik lawan jenis di depannya. Begitu tampan dan idola wanita. Gaya berpakaiannya, kulit bersihnya, bibir tipis mempesona. Belum lagi alis tebal menambah kesan tegas. Kayla benar-benar mendapatkan pemandangan indah malam ini. "Ehmmmm," ucap Kayla dan Fajar bersamaan. "Kamu aja dulu!" pinta Kayla tanpa berani memandang Fajar lama-lama. "Enggak, kamu aja. Ladies first!" sahut Fajar. "Kamu aja deh! Aku udah lupa mau ngomong apa." Kayla menghindar dari pembicaraan. Ia benar-benar salah tingkah. Fajar tersenyum begitu manis. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Kayla. Namun, dalam hati ia berusaha menahan keinginannya. "Belum waktunya Fajar. Dia harus mau jadi pacar kamu dulu," batin Fajar memandang Kayla. "Udah kamu aja yang bicara dulu. Aku mau makan baksonya aja!" ucap Kayla. Karena merasa terus menerus dipandangi Fajar. Kayla pun menjadi semakin salah tingkah. Pipinya semakin berwarna merah diterpa sinar bola lampu kuning yang nyalanya tak begitu terang. Belum lagi, ia tak bisa mengontrol diri. Setiap gerak tubuhnya terasa kaku dan dibuat-buat. "Ehm, kamu lapar ya. Ini baksonya yang paling gede." Fajar memberikan bulatan bakso yang paling besar ke dalam mangkok Kayla. "Lho, emang nggak kamu makan?" Fajar menggeleng cepat. "Buat kamu aja. Kalau mau aku pesankan lagi juga bisa." "Hahhh, jangan. Udah cukup. Ini aja aku udah kenyang banget," sahut Kayla sambil terus menikmati baksonya. "Lucu banget sih," gumam Fajar sambil tersenyum. Ia mengatakannya dengan suara lirih dan tanpa sadar saat melihat pipi gadis di depannya membesar karena menyimpan bulatan bakso yang akan dimakan. "Apa, kamu ngomong apa barusan?" "Eh, enggak kok. Nggak ngomong apa-apa. Mungkin suara angin yang kamu dengar barusan." Kayla melanjutkan suapannya. Bisa makan bersama Fajar, sebenarnya adalah sebuah kebahagiaan. Jika dirinya saat ini di tempat sepi, pastinya ia akan melompat kegirangan. Ingin sekali dirinya bernyanyi dan menari seperti di film India. "Kay!" panggil Fajar perlahan. Kayla mengangkat wajahnya yang sejak tadi hanya berani menatap mangkok bakso. "Apa!" "Gimana?" "Apanya yang gimana?" "Itu." Fajar berusaha menjelaskan tapi, Kayla berpura-pura seperti tidak tahu. Lebih tepatnya, dia memang tak ingin membahas itu. "Apa, kamu mau bakso lagi?" "Bukan." "Terus?" Fajar menarik nafas dalam. "Gimana? Apa kamu mau coba pacaran denganku?" Rasanya masih tidak percaya. Akan tetapi, pendengaran Kayla tidak mungkin salah. "Aku nggak akan ganggu sekolah kamu," sambung Fajar. Ia berharap bisa mendapatkan jawaban iya dari gadis di depannya. "Tapi, kita itu beda kasta. Kamukan …!" Kayla ragu melanjutkan kata-katanya. "Jangan gitu lah. Aku juga nggak bisa milih harus lahir dari rahim siapa kan." Kayla menunduk. Ia bingung harus berkata apa. "Coba pacaran denganku. Nanti kamu pasti tahu kalau aku serius," ucap Fajar berusaha meyakinkan. Malam pun menjadi semakin larut, dua insan yang sedang sibuk dengan pemikiran masing-masing hanya membiarkan saat-saat manis itu dengan kehampaan. Mereka masih diam dalam lamunan. Setelah selesai makan bersama dan Fajar mengantar Kayla pulang. Ia masih berusaha mencari sinyal cinta. Tak akan dibiarkan detik-detik yang berjalan begitu manis ini menyisakan tanda tanya. Fajar akan berusaha menerima jika Kayla tetap menolak keinginannya. "Kay!" Lagi-lagi dengan suara lirih dan manja. Fajar meraih jari jemari Kayla yang jatuh bergelayut di sampingnya. Sebelum membiarkan gadis itu masuk ke dalam rumah dan menghilang dari pandangan. Ia akan tetap berusaha kembali meyakinkan jika dirinya serius dalam menjalin hubungan. Kayla ingin menolak tangan Fajar yang berusaha menyentuh. Rasanya seperti ada sengatan listrik yang mengejutkan, tapi membuat ketagihan. Gadis itu nyatanya tak bisa melepaskan tangannya dari tangan Fajar. Seperti ada magnet di antara mereka berdua. "Andai kamu nggak mau sama aku. Aku nggak akan berhenti menyatakan cinta sampai kamu punya pacar," ucap Fajar dengan begitu serius. Matanya teduh dengan manik matanya yang lurus memandang Kayla. Kayla masih diam. Ia memikirkan apa yang harus diperbuat. "Apa aku terima aja tawaran Fajar. Tapi, aku yakin perasaan yang ada buat dia saat ini bukan cinta. Cuma kagum aja lihat dia kece kayak artis," ucap hati Kayla. "Kay!" panggil Fajar dengan lembut. "Kamu tahu aku bukan seperti anak-anak yang lain. Aku ini gadis pelit. Bahkan selama ini, kalau kita keluar yang traktir makanan selalu kamu. Andai aku jadi cewek kamu. Pasti aku bakalan jadi cewek yang paling nggak berguna sedunia." Kayak memberanikan diri menatap Fajar. Fajar membalas tatapan matanya. Ia yakin ada jawaban di sana. "Aku cari pacar bukan barang. Kalau kamu mikir betapa bergunanya kamu. Kalau sebagai barang mungkin nggak akan berguna. Tapi, kalau sebagai pacar kamu berguna buat mengisi hati aku yang kosong. Aku janji aku nggak akan ganggu waktu sekolah kita. Beri kesempatan aku Kay, aku yakin kalau kita berdua pacaran. Kita bisa saling support satu sama lain," ucap Fajar. Sudah pasti Kayla tersentuh dengan ucapan Fajar. Ia merasa ini saatnya membalas cinta. Namun, apa ibunya membolehkan dirinya berpacaran. Apa nanti tidak akan ada masalah. Apalagi ayahnya yang selalu berharap dirinya untuk sekolah dengan benar. "Kita nggak akan tahu kalau belum mencobanya." Fajar kembali mengeluarkan kalimat manisnya. Ia merasa tidak boleh menyerah untuk mendapatkan cinta Kayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN