Cinta Yang Menggemaskan

1050 Kata
Angin malam berhembus semakin dingin. Kayla membeku dengan tatapan mata Fajar. Otaknya berusaha berpikir sehat. Jangan sampai dirinya terhanyut. Ini akan mempengaruhi segala hal yang terjadi setelah ini. "Aku sebenarnya juga suka sama kamu. Tapi, apa kamu bisa bersikap dewasa. Aku nggak mau pacaran yang cuma menghabiskan waktu dan uang. Aku nggak perlu cerita kondisiku yang sebenarnya, kamu juga pasti sudah tahu." Kayla menjelaskan apa yang dipikirkan. Dari awal memang sudah ada banyak keraguan menyerang hati Kayla. Kelas sosial yang begitu berbeda antara dirinya dengan Fajar. Belum lagi tentang penampilan dan latar belakang yang terpaut jauh. Anggaplah fajar pangeran impian, sedang Kayla hanya rakyat jelata. Fajar tersenyum tipis. Ia kemudian mengusap lembut kepala Kayla. "Aku tahu kamu pasti punya perasaan yang sama. Makanya aku nggak mau nyerah," sambung Fajar. Ia kemudian mengeluarkan sebuah gelang tali yang cantik. Warnanya cerah dan ada sedikit aksesoris tambahan yang membuatnya terkesan mahal. Tangan Kayla dipegang oleh Fajar. Perlahan, dipasang gelang tersebut. Begitu hati-hati dan lembut. "Ini apa?" tanya Kayla melihat gelang di tangannya. "Hadiah, itu kamu simpan baik-baik ya." "Iya. Makasih." Kayla menunduk karena sudah sangat malu rasanya mendapatkan perlakuan seperti barusan. Ia kemudian berjalan akan masuk dan meninggalkan Fajar. "Key, tunggu!" Kayla menoleh. "Apa lagi?" "Jadi kita udah bisa," ucap Fajar. Namun, kalimatnya tidak dilanjutkan. "Bisa apa? Yang pasti kita bukan teman lagi," sahut Kayla. Ia kemudian berlari kecil menghindari hal-hal yang rasanya sulit dipercaya. Fajar masih bingung. Ia membuat dirinya mematung saat melihat Kayla pergi. "Dia bilang bukan teman lagi. Tapi, apa maksudnya. Kalau bukan teman berarti musuh. Tapi, aku nggak musuhan sama dia. Jadi, mungkin hubungan ini emang udah naik level. Kayla udah setuju buat pacaran," gumam Fajar merasa bahagia. ** Para murid terlihat ramai. Mereka bersiap menyambut bel istirahat yang sebentar lagi akan berbunyi. Namun, tidak dengan kelas Kayla. Di sana gadis itu masih harus setia dengan buku karena tugas yang begitu banyak dan harus segera dikumpulkan. "Ahhh, pusing sama guru Bahasa Inggris, hobi banget sih kasih tugas banyak kayak gini," gumam Kayla. Lani menimpali ucapan Kayla dengan anggukan kecil. Lalu sebuah tangan menepuk bahunya dari belakang. "Fajar," ucap Lani pelan. Fajar hanya memberi isyarat untuk diam dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir. Ia kemudian memberikan buku pelajarannya yang sudah selesai pada Lani. "Contoh aja punyaku. Udah selesai kok!" "Yang benar?" Lani tak percaya. "Iya, tapi kerjain di belakang ya. Aku mau duduk di sebelahnya Kayla." Fajar menunjuk bangkunya yang kosong. Lani menunjukkan ibu jarinya yang berarti oke pada Fajar. Sedangkan Kayla yang penuh konsentrasi tidak menyadari kehadiran Fajar yang sudah berada tepat di sampingnya. "Belum selesai ya?" tanya Fajar yang selalu membuat kaget Kayla. "Hah, ngapain kamu di sini?" tanya Kayla. Ia merasa tak enak dengan kondisi ini. "Mau bantuin kamu kerjakan tugas." "Aku udah hampir selesai. Cepet pergi dari sini. Aku nggak mau seluruh kelas merhatiin kita!" Fajar tak percaya jika tugas Kayla sudah selesai. Ia pun memaksa untuk melihat buku Kayla. Diperhatikan dengan teliti. Masih ada beberapa soal yang belum diisi. Jarinya kemudian menunjuk ke arah jawaban yang masih kosong. "Kenapa belum diisi?" tanya Fajar. "Aku nggak bisa bahasa inggrisnya. Harus buka kamus dulu." Tanpa pikir panjang, Fajar segera mengambil pensil Kayla. Dilihat tulisan tangan Kayla yang ada di buku tersebut. Ia mencoba meniru tulisan itu untuk menjawab soal yang belum ada jawaban. "Hey, kamu mau apa?" tanya Kayla. "Biar aku yang isikan jawabannya. Aku jamin nilai kita sama besok. Nilai sempurna," sahut Fajar dengan begitu santai. Kayla mulai merasa salah tingkah. Diamati teman-teman di kelasnya mulai berbisik-bisik. "Mereka pasti ngomongin aku sama Fajar," batin Kayla yang baru selesai menoleh ke belakang. "Udah, jangan dilihat. Mereka cuma iri," ucap Fajar sambil tetap mengerjakan tugas Kayla yang belum selesai. Kayla diam sejenak. Ia merasa tatapan dari teman sekelasnya seperti intimidasi. "Disaat aku yang biasa-biasa saja punya pacar keren. Ahhh, aku emang nggak usah peduli mereka," batin Kayla. ** Hari-hari berlalu dengan caranya. Mentari saling bergantian dengan bulan. Menampakkan diri mereka untuk menjadi pertanda dimulai dan berakhirnya sebuah hari. Senja sore kali ini, terlihat di langit dihiasi banyak burung yang terbang pulang ke sarangnya. Memberi kesan indah di antara warna orange yang tumpah di angkasa. "Ahhhh, cantik banget langitnya," ucap Kayla saat berada di sebuah warung makan lesehan yang dekat dengan danau. Hari ini, ia sedang mengerjakan tugas untuk mengumpulkan ekosistem yang bisa ditemukan di danau yang tak jauh dari tempat tinggalnya berada. Fajar yang berada di sebelahnya. Tak sengaja mendengar kalimat Kayla barusan. "Lebih cantik kamu Kay," sahut Fajar. "Apaan sih." Fajar tersenyum. Ia bahagia sekali dengan keadaan ini. Digenggam tangan Kayla sambil memanjatkan doa agar senantiasa bisa bersama. Kayla membalasnya. Ia kemudian menatap wajah Fajar. "Kayla. Nanti kalau kita udah lulus. Aku pengennya kuliah satu kampus sama kamu," ucap Fajar. "Boleh. Iya, semoga tabunganku cukup untuk biaya kuliah. Ortuku nggak mungkin punya uang soalnya." Kayla masih menatap langit yang luas. Seolah ia menanamkan sejuta harapan dan mimpi di sana. "Pasti cukup. Kamu kan cewek paling irit yang pernah kukenal." "Bicara apa kamu barusan." Kayla kemudian mengerucutkan bibir. Menunjukkan bahwa dirinya sedang kesal. "Cuma bercanda. Jangan marah. Aku kan cowok baik-baik." "Enggak, kamu bikin aku kesel." "Cantiknya ilang kalau manyun. Aku kan bilang cuma bercanda." "Aku juga kok. Cuma bercanda," sahut Kayla dibarengi dengan tersenyum. "Nanti aku kenalin ke mama ya. Mau ya." Kayla spontan menatap Fajar. "Mau ngapain?" "Cuma kenalan aja. Kitakan udah berhubungan cukup lama." "Tapi." Kayla merasa ragu. Ia akan bertemu dengan calon mertua. Bukan, mungkin masih terlalu cepat jika disebut calon mertua. "Kayla, mikirin apa sih." "Enggak kok." "Ya udah abis ini pulang langsung ke rumahku. Besok, gantian ya!" "Gantian apa? Aku nggak mudeng!" Kayla merasa harus menghindar. Bertemu mamanya Fajar adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Padahal hal itu saja belum terjadi. Namun, Fajar sudah meminta bergantian yang artinya esok atau kapan. Dirinya harus memperkenalkan Fajar pada ibunya. Fajar mengusap kepala Kayla. "Jangan pura-pura nggak mudeng. Lebih baik sekarang kita cepat pulang. Besok masih ada ulangan harian." Kayla yang awalnya sedikit melamun karena perlakuan Fajar barusan, spontan menyadarkan diri. "Hah, ulangan apa?" "Bahasa inggris. Aku tahu kamu nggak jago pelajaran itu. Lebih baik kita pulang dan belajar." "Ahhh, iya. Berarti kita nggak jadi ketemu mama kamu kan!" Kayla tersenyum merayu. Berharap keinginan Fajar itu hanya omong kosong. "Jadilah! Kita kan bakalan belajar bareng di rumahku." "Apa!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN