Sopir Yang Baik

1063 Kata
Malam semakin hening dan larut. Menyisakan suara hewan yang terdengar dari balik jendela kamar. Sosok wanita muda yang sedang berusaha belajar hanya bisa pasrah saat berbagai rumus di depannya tak mampu memecahkan soal yang sedang dikerjakan. "Ahhhh, kenapa tugas sekolah bisa barengan gini sih. Ada pr matematika sama ulangan bahasa inggris muncul bareng-bareng. Jangan-jangan mereka udah janjian," keluh Kayla di meja belajarnya. Gadis itu kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja. Tumpukan buku dibiarkan begitu saja menjadi saksi bisu rasa lelahnya malam ini. "Tadi siang semangat banget pas belajar bareng Fajar. Kalau dipikir-pikir, dia udah kayak matahari. Matahari pemberi semangat," ucap Kayla yang mulai kembali mengingat saat-saat manisnya bersama Fajar. Dalam lelahnya, mata Kayla perlahan merasa mulai berat. Ia ingin tidur, tapi rasanya masih harus belajar. Sekelebat ingatan saat dirinya berada di rumah Fajar tadi siang muncul lagi. Rasanya yang dialaminya tadi seperti mimpi yang menjadi nyata. Begitu hangat keluarga Fajar kepada dirinya. Khususnya sang mama yang terlihat tak canggung sama sekali. Masih ingat jelas dalam benak Kayla yang begitu mengagumi rumah besar Fajar. Ia yang sampai tersesat saat kembali dari kamar mandi. Dari situlah percakapan akrab dengan mama Fajar, mama Maya dimulai. "Kamu mau kemana cantik?" tanya Mama Maya kepada Kayla yang terlihat bingung. "Eh, Tante Maya, maaf Tante saya tadi abis dari kamar mandi. Tapi, kayaknya lupa tempatnya Fajar belajar tadi di mana," sahut Kayla buru-buru. Ia cemas dirinya dianggap lancang karena berjalan sendirian di rumah yang baru pertama kali didatangi itu. "Ohhh, kasihan sampai tersesat. Ya udah biar Tante anter. Sekalian bantuin bawa cemilan, ada di dapur. Kita ambil sama-sama dulu. Biar ada yang temani kalian belajar." "Hah, ehmmm, ngerepotin pake cemilan segala. Nggak perlu Tante, saya belum lapar." Kayla menolak sambil tersenyum. Ia merasa sangat merepotkan dan sungkan. Tanpa pikir panjang, mama Maya meraih tangan Kayla. Memaksa untuk mengikutinya ke dapur. "Nggak merepotkan tahu. Justru Tante seneng, ada teman Fajar datang ke rumah. Lagian baru kamu yang dibawa Fajar ke sini. Pasti kamu istimewa sekali buat dia," terang mama Maya. Ia begitu antusias berbicara dengan Kayla. Kayla hanya bisa terdiam tanpa tahu harus berbuat dan berkata apa. Ia merasa begitu bahagia melihat tangannya dipegang mama Maya. Apalagi mendengar bahwa baru dirinya yang dibawa Fajar pulang. "Tante bener-bener bikin aku nyaman," batin Kayla saat itu. Ia pun kembali melempar senyum. "Kalau begitu makasih ya Tante. Jadi merepotkan!" ucapnya untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan mengikuti mama Maya ke dapur bersamanya. ** Matahari pagi ini begitu panas menyapa penduduk bumi. Termasuk Kayla Handyta Rahmi. Ia dengan langkah yang pasti berjalan menuju sekolah dengan cepat. "Kayla!!!!!" panggil Fajar pada Kayla yang baru akan masuk ke dalam kelas. "Eh, Fajar!" sahut Kayla sambil menoleh. "Kamu berangkat sama siapa?" tanya Fajar yang mengikuti Kayla hingga masuk ke dalam kelas. "Ohhh, sama tetanggaku yang biasanya," jawab Kayla. "Lain kali biar aku yang jemput ya. Lagian kenapa kamu malah minta antar orang sih. Kan udah ada pacar." Fajar kemudian duduk di bangku Kayla tanpa disuruh. Ia juga menunjukkan wajah yang tak suka pada Kayla. "Bukan orang lain Fajar. Dia tetanggaku, kamu tahu kan!" jelas Kayla. Rasanya kesal dan gemas menjadi satu dalam hati Fajar. Ia pun sontak saja mencubit kedua pipi Kayla secara bersamaan dengan kedua tangannya. Lalu menggoyangkan ke kanan dan ke kiri secara terus menerus. "Awww, syakitttt Fajar." Kayla mengeluh sakit. Ia melepas paksa kedua tangan Fajar yang menempel di pipinya. "Lain kali biar aku yang jemput." "Kenapa sih, cemburu?" tanya Kayla sambil memiringkan wajah. Ditatap serius wajah Fajar yang sedikit terlihat redup. "Aku cemas, aku kepikiran kalau bukan aku yang bonceng kamu." Diusap lagi kepala Kayla. Ia selalu melakukan itu untuk menunjukkan rasa sayangnya. "Gimana kalau terjadi sesuatu. Aku pasti merasa sangat bersalah." Kayla tersenyum manis. Ia menatap lekat-lekat Fajar. "Besok kamu jemput aku kalau gitu!" ucap Kayla ragu. Ia sebenarnya tak ingin merepotkan kekasihnya. "Jadi, kamu udah bolehin aku buat jemput ke rumah kamu. Tiap pagi?" tanya Fajar meyakinkan. Ia juga membalas tatapan mata Kayla yang tertuju pada dirinya. Malu sebenarnya untuk mengakui. Tapi, ada rasa bahagia yang meletus di hati Kayla. Ia hanya mampu mengangguk sebagai tanda setuju pada pernyataan Fajar barusan. Fajar juga merasa sangat senang. Sesederhana itu, senyuman bisa kembali merekah di bibirnya. "Kalau gitu, besok kamu tungguin aku ya. Aku bakal jadi sopir yang baik buat majikannya," terang Fajar sambil meraih tangan Kayla dan menggenggamnya dengan begitu kuat. "Apa sih. Ini di sekolah. Malu kalau ada anak yang lihat," ucap Kayla sambil melepaskan tangannya yang digenggam Fajar. "Kamu itu makin cantik kalau malu-malu gini." "Ihhhh, dibilangin!" "Iya iya, aku mau ke bangku dulu kalau gitu." Kayla mengangguk, ia merasa begitu bahagia melihat mataharinya bisa tersenyum ceria lagi. ** Kayla merasa sangat bersemangat. Semua yang menjadi beban untuk hari ini sudah dilewati. Ia kini sedang memasukkan buku ke dalam tas. Tampaknya sebentar lagi bel pulang sekolah akan berbunyi. Lani, teman sebangku Kayla sejak tadi memperhatikan temannya itu. "Kayla, akhir-akhir ini kamu kayaknya bahagia banget ya," ucap Lani sambil mengemasi barangnya. Kayla tidak langsung menjawab. Ia hanya menunjukkan senyumannya untuk membalas ucapan Lani barusan. "Anak-anak banyak yang iri lho sama kamu, apalagi teman sekelas kita. Soalnya enggak nyangka kalau Fajar maunya pacaran sama kamu dan bisa bertahan lama sampai hari kenaikan kelas," ucap Lani. Kayla menghirup nafas begitu panjang. "Aku juga nggak nyangka, rasanya semua ini seperti mimpi," sahut Kayla. Dirinya kemudian memasang wajah datar menatap ke depan kelas. "Udah, jangan melamun! Kamu beruntung Kayla. Siapa tahu kalian berdua memang berjodoh. Kalau bisa sih, kalian terus bareng-bareng sampai kuliah dan jadi orang sukses. Habis itu kayaknya bisa deh ngeresmiin hubungan kalian ke KUA." Lani mulai berceloteh tentang hubungan fajar dengan Kayla. "Apaan sih. Jauh banget. SMA aja belum lulus. Udah bayangin ke KUA." "Ya kan, namanya harapan. Nggak papakan kalau bermimpi sampai sana." Lani tak mau kalah berdebat dengan Kayla. Karena yang dilihat Lani, Fajar begitu menyayangi Kayla dan bisa bersikap dewasa. "Ya udah, aku Aminin aja. Tapi, kita emang ada rencana buat kuliah bareng. Gara-gara itu, aku jadi semangat buat nabung," jelas Kayla. "Cieee, yang dapat semangat dari pacar. Sekarang, coba lihat ke belakang. Dia pasti lagi lihat ke arah sini." Entah mengapa Kayla ingin membuktikan ucapan Lani. Ia pun spontan saja melihat ke belakang, tepat di bangku Fajar berada. "Hah, kenapa pas banget dia lihat sini," ucap Kayla yang sorot matanya yang langsung tertangkap oleh kedua mata Fajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN