Memperkenalkan Kepada Ibu

1119 Kata
Suasana meja makan sudah seperti suasana dalam ruangan bimbingan dan konseling di sekolah Kayla. Ia tidak hanya takut, tapi sangat takut. Bayangan ibunya akan marah, rasanya terus saja muncul. Perlahan tapi pasti Kayla mencoba merangkai kata. Ia tak bisa menunggu lama. Apa yang menjadi beban pikirannya harus segera diceritakan. Bisa meledak jika tetap dipendam sendiri. "Ibu, aku mohon maafin Kayla. Kalau Ibu nggak izinin aku pacaran, aku bisa kok minta putus sama pacarku sekarang juga," ucap Kayla. Ia harap dirimya bisa melanjutkan hubungan. Akan tetapi, jika sang ibu melarang. Apalah daya, ia hanya bisa menjadi anak yang berbakti. Maka putus dari Fajar akan menjadi pilihannya. "Beneran kamu mau putus sama dia, kalau ibu enggak setuju. Apa kamu nggak akan menjalin hubungan sembunyi-sembunyi dari Ibu. Ibu rasa kalau sudah begini. Kamu bisa aja nekat berbohong," ucap Bu Rima. "Aku nggak bohong Bu," ucap Kayla. "Kalau misalnya ibu memperbolehkan kamu buat pacaran. Kamu gimana?" tanya Bu Rima. "Kalau ibu bolehin aku pacaran. Aku mau kenalin Ibu sama anak yang jadi pacar Kayla," jawab Kayla sambil menunduk. Karena rasanya hal itu seperti tidak mungkin lagi untuk terjadi. Bu Rima lagi-lagi hanya diam. Dia tidak mengatakan satu katapun kepada Kayla setelah itu. "Gimana Bu? Apa aku boleh kenalkan pacarku ke ibu. Tapi, kalau Ayah lagi nggak ada di rumah. Soalnya aku masih takut sama Ayah. Apa Ibu keberatan?" tanya Kayla dengan suara yang berat. Bu Rima mencermati wajah Kayla. Ia tahu saat ini putrinya bersungguh-sungguh. "Ibu nggak keberatan kok. Kalau kamu mau memperkenalkan pacar kamu ke Ibu. Justru, lebih suka begitu. Ibu jadi bisa tahu pacar kamu kayak gimana," sahut Bu Rima. Ia mulai menunjukkan senyuman yang sejak tadi, sengaja disembunyikan. Kayla yang hanya berani melirik ibunya sejak tadi. Spontan merasa berkurang kesedihannya. Ia bisa sedikit melihat ibunya tersenyum tipis. Rasanya ada separuh hati antara percaya dan tidak percaya. Jika sang ibu tidak jadi marah. Namun, dilihat sekali lagi lebih teliti. Bu Rima sangat tenang tanpa guratan emosi sama sekali. Kayla sadar, ibunya memang tidak memarahinya. "Jadi ibu nggak marah?" tanya Kayla. Ia ingin memastikan bagaimana perasaan ibunya. "Enggak! Ibu kan suka kamu jujur," jawab bu Rima. Ia kemudian berdiri dan membawa cangkir berisi teh di tangannya. "Lebih baik, kita ke Ayah yuk! Ceritanya dilanjutkan besok. Kasihan Ayah dari tadi udah nungguin." "Iya Bu," jawab Kayla. "Kalau gitu biar aku buatkan satu cangkir teh lagi buat ayah," sahut Kayla sekali lagi dengan penuh semangat. "Ya udah, terserah kamu. Ibu duluan ke ayah ya!" Kayla tersenyum, ia merasa sangat senang. "Akhirnya aku nggak perlu takut buat ngenalin Fajar ke ibu. Jadi, lebih tenang. Tapi, kenapa tadi ibu wajahnya serem sih. Kan aku jadi cemas banget. Ihhh, emang dasar ibu. Pasti aku mau digodain biar sedih dulu," batin Kayla. Ia kini mulai menyiapkan teh untuk ayahnya yang sedang berada di ruang keluarga. ** Malam pun berlalu dengan sangat sempurna. Tampak jelas wajah Kayla begitu bahagia. Ia berhasil mengembalikan suasana hatinya yang sempat risau karena memikirkan respon sang ibu. Saat dirinya memberitahu tentang Fajar. Beruntung, imajinasi buruk yang tadi sempat menghantuinya tidak terjadi. "Semoga nanti, kalau sampai aku bisa bersatu dengan Fajar. Aku harap bisa punya keluarga yang hangat seperti keluargaku ini. Meski kadang kita semua harus merasa kekurangan," batin Kayla yang sudah berada di depan tv bersama kedua orangtuanya. Kayla yang terlihat melamun dengan iseng dicubit hidungnya oleh pak Setyo. Ia duduk tepat di sebelah Kayla. "Ayah!!!! Sakit tahu!" ucap Kayla. "Makanya jangan melamun kalau lihat tv. Ini makan kacang dulu," ucap Pak Setyo sambil menyuapi putrinya dengan sebuah kacang. Cemilan khas keluarga Kayla saat menonton tv bersama. Kayla membuka mulutnya. Berharap sang ayah memang menyuapi dirinya. "Ahhhh, Ayahhhhh, iseng banget sih!" kembali Kayla berteriak karena kesal. Ibu Rima spontan menoleh pada Kayla. "Kay, ada apa sih?" "Ayah ni Bu. Masak aku disuapi kacang sama kulitnya sih. Harusnya kan isinya doang." Mendengar itu, dan melihat wajah Kayla yang kesal. Rasanya Bu Rima tak bisa menahan untuk tidak tertawa. Ia pun mengusap rambut Kayla. "Ayah, Kayla ini udah gede. Jadi, jangan digodain melulu," ucap Bu Rima. Pak Setyo ikut mengusap rambut Kayla. Ia melihat putrinya itu memang sudah menjadi seorang remaja. "Bagi Ayah, Kayla itu putri kecil Ayah. Dari dulu sampai sekarang. Bahkan sampai nanti," jelas Pak Setyo. "Ihhhh, Ayah kok gitu. Jadi, aku nggak gede-gede dong!" saut Kayla dengan nada bicara yang manja. ** Tidak ada yang tahu bagaimana hari akan menjemput setiap insan di dunia. Bagi Kayla, saat ini rasa bahagianya seperti berada di titik maksimal. Ia dikelilingi orang-orang yang sangat sayang pada dirinya, termasuk Fajar. Mataharinya itu, kini sedang menunggu di depan rumah. Lebih tepatnya di depan pagar bagian luar. Ia tidak diizinkan masuk ke dalam rumah oleh Kayla. Bahkan atas perintah pacarnya itu, Fajar hanya akan menanti kedatangannya sambil duduk di atas motor. Fajar memperhatikan jam di tangan. Sesekali, ia juga melihat ke arah pintu rumah Kayla. Belum ada siapapun yang keluar dari sana. "Kayla mana ya? Jangan-jangan dia udah berangkat lagi," batin Fajar penuh tanya. Sementara itu, usai sarapan. Kayla menyempatkan diri untuk belajar sebentar di meja makan. Sementara ayahnya ternyata harus berangkat pagi-pagi ke bengkel. Jadi, pagi ini, Kayla bisa sedikit lega. Karena ia dengan tenang bisa menghampiri Fajar. Bahkan, ia juga bisa memperkenalkannya kepada sang ibu. "Ibu, aku berangkat dulu. Kayaknya Fajar sebentar lagi mau jemput," teriak Kayla. Bu Rima yang sedang di kamar mandi segera keluar. "Oh iya, kamu jadi ngenalin ibu sama Fajar?" "Jadi, kalau ibu emang mau," jawab Kayla. "Ya mau lah." Bu Rima kemudian mengikuti langkah kaki Kayla menuju teras. Di sana, ia bisa melihat Fajar yang sudah ada di sana. "Hay!" tegur Kayla. "Eh, aku pikir aku udah ditinggal," sahut Fajar. "Ditinggal ke mana?" "Ke sekolah lah." "Enggaklha, buktinya aku masih di rumah. Oh iya, itu ibuku. Kamu bisa turun bentar buat salam kenalkan?" Fajar memperhatikan sosok ibu dari Kayla. Dari wajahnya, cara berdiri, dan juga rambut lurus hitam legam. Hampir semuanya sangat mirip dengan yang dimiliki Kayla. "Yuk!" ajak Kayla. "Iya!" Fajar turun dari motor. Dirasakan degup jantungnya mulai tidak normal. Ia merasa sedikit agak takut menghadapi Bu Rima. "Oke, tenang Fajar. Ibu pacar kamu tidak akan memakan kamu buat sarapannya pagi ini," batin Fajar. Selangkah demi selangkah. Akhirnya, Fajar berada di depan Bu Rima. Ia mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku. Ia mencoba merangkai kata untuk menyapa, meski pikirannya bingung harus bicara apa. "Pagi ibu guru." Fajar mencoba menyapa lebih dulu. Namun, ia sadar jika kata-katanya sudah salah. "Ehmmm, maaf, maksud saya, pagi ibunya Kayla." Kayla yang mendengar rasanya ingin tertawa. Ia pun hanya tersenyum dan menahan diri agar tidak membuat malu kekasihnya. "Pasti Fajar grogi banget. Aku kira dia udah siap lahir batin. Ternyata dia gugup juga. Ahhh Fajar, matahariku, kelihatan lucu kamu," batin Kayla.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN