Merenung Di Perpustakaan

1039 Kata
Bu Rima meneliti pacar Kayla yang sedang ada di depannya. "Nama kamu siapa?" "Ehm, Fajar Bu. Fajar Syafruddin," jawab Fajar dengan hati yang masih gugup. "Ya ampun Fajar, pake nyebutin nama panjang segala. Dikira mau bikin KTP apa," ucap Kayla dalam hati. Ia masih berusaha menahan diri agar tidak tertawa. "Iya, nama yang bagus," sahut Bu Rima. "Bu, kami berangkat dulu ya. Udah jam segini," ucap Kayla. Ia kemudian meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya. "Iya!" sahut Bu Rima. Hal itu, ternyata dilakukan juga oleh Fajar. Ia meraih tangan Bu Rima dan mencium punggung tangannya. Rasa hormat dan sopan, ingin ia tunjukkan. "Kami berdua berangkat dulu ya Bu. Assalamualaikum," ucap Kayla. "Iya Bu, assalamualaikum," tambah Fajar. Ia berusaha mengikuti setiap gerak gerik Kayla yang dianggapnya harus dilakukannya juga. "Waalaikum salam," sahut Bu Rima. "Hati-hati ya!" "Iya Bu!" Kayla dan Fajar akhirnya berangkat ke sekolah. Bu Rima masih melihat mereka berdua hingga menghilang dari pandangannya. "Fajar, anak yang ganteng, kayaknya juga baik. Semoga Kayla bisa jaga dirinya. Bagaimanapun dia nggak boleh terlena dan lupa tujuan hidupnya," gumam bu Rima. Setelah ini dan seterusnya, ia akan mengamati perkembangan Kayla. Ia tidak ingin anak gadisnya salah mengambil langkah. Namun, dirinya juga tidak mungkin membatasi pergaulan di sekolah. Ia justru cemas jika Kayla tidak mau jujur. Akan semakin sulit untuk menjaganya dari hal yang tidak diinginkan. ** "Rame banget," batin Kayla sesampainya di dalam kelas. "Hey Lani!" panggil Kayla pada temannya. "Lho, Kayla, tumben nggak bareng Fajar?" "Dia masih di koperasi. Mau beli pulpen katanya. Ngomong-ngomong kenapa rame banget?" "Oh, itu, dengar-dengar hari ini banyak guru yang nggak masuk. Jadi, anak-anak pada heboh." "Ohhh," sahut Kayla. "Kayla!" panggil Lani dengan wajah serius. "Ada apa?" "Kamu tahu kan, kita bentar lagi mau ujian kelulusan. Apa kamu udah ada dana buat bayar sekolah? Kan semuanya harus dilunasi?" "Deg." Hati Kayla merasa sangat terkejut. Ia memang sudah menabung. Namun, itu akan digunakan untuk biaya kuliahnya nanti. Ia masih belum memikirkan untuk mencari tambahan uang. Beberapa hari belakangan, ia memang terlalu senang karena bisa semakin serius dengan Fajar. Sampai-sampai ia lupa waktu berjalan begitu cepat. "Kayla!" panggil Lani menyadarkan dirinya. "Iya, aku juga belum bicarakan ini sama ibu. Aku lupa kalau hampir mendekati bulan ujian," ucap Kayla. Terlihat ada sedikit kecemasan di wajahnya. ** Sebuah restoran mewah menjadi tempat pertemuan untuk meeting siang ini. Terlihat beberapa orang berpakaian rapi dengan jas yang lengkap. Ada papa dari Fajar, Faris Aditama juga berada di sana. "Pak Faris, tolong tanda tangani sebelah sini," ucap seorang klien yang sedang bersamanya. "Sebelah sini ya?" tanya Pak Faris untuk memastikan. "Iya!" Tanda tangan telah tersemat di lembar seharga ratusan juta itu. Pak Faris yakin setelah ini, perusahaannya akan semakin berkembang karena keuntungan yang begitu besar dari kliennya. "Kalau gitu, kami permisi Pak Faris. Besok perwakilan perusahaan akan menemui Pak Faris lagi di kantor. Pak Faris tinggal cek hasil awalnya dulu." "Iya, besok saya tunggu kedatangan perwakilan dari perusahaan Bapak. Semoga kerjasama kita ini sukses," ucap Pak Faris optimis. "Iya!" Bersamaan dengan itu, Pak Faris dengan kliennya saling berjabat tangan. Menunjukan hormat dengan cara khas orang berdasi. "Kalau gitu, kami berdua permisi!" "Iya silahkan," ucap Pak Faris pada kliennya. Kini, tinggal Pak Faris dan asisten pribadinya, Salsa yang sedang berada di sana. "Apa kita langsung balik ke kantor?" tanya Salsa. "Jangan, saya udah bilang Bu Maya buat makan siang bareng di sini. Jadi, kamu aja yang balik duluan. Nanti biar saya diantar sama Bu Maya," jelas Pak Faris. "Oh, kalau gitu, saya balik duluan ya Pak. Biar saya makan siang di kantor aja!" "Iya!" Salsa pergi meninggalkan Pak Faris sendirian di meja restoran. Pria yang usianya sudah berkepala empat itu meraih ponsel di saku jasnya. "Hallo Ma, aku udah selesai meeting nih. Aku tunggu di meja VIP atas nama Faris Aditama. Nomor enam. Hati-hati ya. Aku tunggu di sini!" ucapnya di sambungan telepon kepada sang istri. ** Dalam kelas yang ramai, Fajar sedang memainkan bukunya. Ia tidak bisa berhenti mengingat, betapa memalukan dirinya tadi saat bertemu ibu dari Kayla. "Kenapa juga aku minta ketemu sama ibunya Kayla. Jadi, nyesel. Tapi, hubungan ini kan udah lama. Udah sewajarnya kan kalau kedua orang tua kita tahu," pikir Fajar. "Woy, mikir apa sih Bro?" tanya teman sebangku Fajar. "Hahaha, dia pasti mikir ceweknya. Nggak asik ah, saat bareng sama kita malah mikirin ceweknya mulu," sahut teman Fajar yang lain. "Apaan sih. Lagi mikir mau jual motor," sahut Fajar dengan asal. "Hah! Emang kenapa dijual?" "Mau ganti yang baru lah. Gimana sih." Fajar membalasnya dengan gaya sombong. Namun, teman-temannya sudah terbiasa dan menganggap itu sebuah guyonan. "Ahhh, bisa aja tong. Paling motor gitu dijual di situs purbakala," sahut temannya lagi. Sontak saja, suara ramai dengan tawa khas anak SMA bergemuruh di bangku Fajar. Kekasih Kayla itu ikut tersenyum. Namun, dirinya segera pergi dari sana, sesaat usai melihat bangku Kayla ternyata sedang kosong. "Eh, mau kemana Bro?" "Kamar mandi. Mau ikut?" sambung Fajar seenaknya. "Ogah!" ** Hanya butuh waktu beberapa menit saja. Fajar sudah berhasil menemukan tambatan hatinya yang sedang tidak berada di dalam kelas. Ia melihat gadis itu berada di pojok perpustakaan. Tempat favorit Kayla untuk merenung dan belajar. "Suka banget, tiba-tiba menghilang!" ucap Fajar dengan suara lirih. Ia langsung mengambil posisi duduk di sebelah Kayla. "Ahh, aku lagi males di kelas, rame banget," jawab Kayla. Fajar kemudian memperhatikan wajah Kayla lebih teliti. Tampak pucat dan tidak bersemangat. "Kamu kenapa? Sakit?" tanya Fajar setelah itu. "Enggak kenapa-kenapa." "Bohong. Kamu pasti lagi mikirin sesuatu," ucap Fajar menyelidiki. Kayla menggelengkan kepalanya. "Jangan-jangan kamu kepikiran yang tadi pagi ya?" tebak Fajar. "Enggak kok! Ngapain aku mikirin itu," jawab Kayla sambil mengerucutkan bibir. Fajar mengubah posisinya agar lebih dekat dengan Kayla. Dipandangi wajah kekasihnya yang tak seceria tadi pagi. "Terus kamu mikirin apa? Nggak mungkin kalau tiba-tiba kamu diam melamun di sini tanpa alasan," ucap Fajar dengan sangat serius. "Masak iya, aku cerita masalah keuangan keluargaku yang cuma cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jangan ah, nanti dikira aku minta bantu buat dibayari uang sekolah lagi. Kan banyak banget. Terus ujung-ujungnya aku bakal dikira matre. Uhh, ngeselin kan!" batin Kayla. "Ahhh, pusingg banget," gerutu Kayla sambil memegangi keningnya. "Kayla, kamu nggak papakan?" tanya Fajar merasa cemas. Ia melihat Kayla sedikit terpejam seperti menahan sakit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN