Sebuah meja telah penuh dengan hidangan makan siang. Ada beberapa jenis olahan seafood yang sangat digemari Bu Maya. Ia sangat menikmati hidangan itu.
"Sini, aku suapin buat suami tercinta," ucap Bu Maya sambil menyiapkan satu sendok penuh makanan yang siap meluncur ke mulut sang suami.
Pak Faris membuka mulutnya. Membiarkan sang istri bersikap romantis di usia yang sudah akan mendekati setengah abad. "Kamu bikin aku terharu," ucap Pak Faris.
"Apaan sih. Justru aku yang terharu. Kamu semakin hari semakin sukses," sahut Bu Maya.
Pak Faris tersenyum. Ia menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat. "Makasih ya, kamu udah menemaniku mulai dari nol."
Bu Maya mengangguk. "Iya Sayang. Oh iya, akhir-akhir ini. Fajar dekat sama cewek di sekolah. Kayaknya mereka pacaran."
"Anaknya gimana?"
"Baik, cantik, lucu dan supel. Kamu nggak masalah kan kalau misal Fajar dekat sama cewek biasa-biasa aja. Maksudku, dia bukan dari orang kaya," ucap Bu Maya ragu. Ia kemudian menatap serius sang suami.
"Nggak papa, kita dulu juga bukan orang kaya. Lagipula asal baik dan peduli sama Fajar. Papa sih, oke aja."
Bu Maya meletakkan satu tangannya untuk ikut serta menggenggam tangan suaminya. "Papa pengertian banget. Sebenarnya mama suka banget sama anaknya, sederhana dan nggak neko-neko."
"Iya, papa percaya kok! Cepetan makannya. Abis ini, Papa masih ada satu klien buat meeting lagi."
"Iya Sayang!"
**
Siang yang sudah hampir menjelang sore. Panas terasa memancar dengan sangat sempurna. Menerpa apa saja yang ada di jalanan.
"Kita minum dulu yuk. Haus nih!" ucap Fajar yang akan mengantar pulang Kayla.
"Tapi Fajar. Aku pengen langsung pulang!" sahut Kayla.
"Kay, aku yang bayarin. Tenang aja!"
Fajar membujuk Kayla agar mau sedikit menghabiskan waktu siang bersamanya. Ia ingin melihat senyum Kayla yang seharian ini, hilang entah kemana.
Dua gelas minum es kelapa yang dijual di pinggir jalan sudah dipesan oleh Fajar. Setelah mendapatkannya, diberikan salah satu gelasnya kepada kekasihnya itu.
"Makasih," ucap Kayla menerima minuman dingin tersebut.
"Iya!" sahut Fajar.
Fajar mengaduk minumannya. Ia lalu melihat wajah Kayla yang masih redup tak bercahaya. "Kamu masih kepikiran masalah bayar sekolah ya?" tanya Fajar.
"Iya, tapi please. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Aku cerita masalahku ke kamu bukan berarti aku minta bantuan kamu," terang Kayla.
"Ya ampun Kay, aku nggak pernah mikir kayak gitu. Aku yakin kamu cewek yang baik. Tapi Kayla, kalau kamu mau. Kamu bisa kok, jual gelang yang tempo hari aku berikan ke kamu sebagai hadiah jadian kita," terang Fajar.
Kayla menoleh dan berusaha mengingat gelang tersebut. "Bukannya itu cuma gelang mainan."
"Ya enggaklah. Itu gelang mahal. Hiasan yang ada di sana, yang nempel di gelang kamu itu asli."
Kayla tak percaya. "Yang bener."
"Iya Kayla. Itu sebagai bukti cinta aku ke kamu. Aku beri yang asli dan orisinil. Tapi, kalau kamu jual juga nggak papa. Coba kamu cek di situs online, kali aja harganya naik," jelas Fajar.
"Ogah, aku nggak mau jual itu. Itukan kenang-kenangan dari kamu," ucap Kayla menolak. Ia harap tidak ada satupun barang dari Fajar yang akan dijual.
**
Dalam keheningan waktu sore ini. Pak Setyo dan bu Rina sedang berbicara berdua saja di dapur. Mereka berdua terlihat serius.
"Ibu sih ada sedikit uang Pak. Tapi, itu buat bayar sekolah Kayla," ucap Bu Rima.
"Apa Bapak jual aja ya bengkelnya. Makin hari makin sepi."
"Jangan Pak, itukan satu-satunya usaha keluarga kita," cegah Bu Rima. Wanita itu tak bisa membiarkan tempat untuk suaminya mencari uang dijual begitu saja.
"Tapi Bu, uang kita makin tipis. Belum lagi buat bayar sekolah Kayla."
"Pak," panggil Bu Rima dengan lirih. "Urusan bayar sekolahnya Kayla. Bapak serahkan aja sama ibu. Sekarang, Bapak fokus aja mengembangkan usaha bengkel keluarga kita."
Pak Setyo menggerakkan tangannya menggenggam tangan Bu Rima dengan erat dan penuh kasih sayang. "Makasih ya Bu. Aku cinta banget sama kamu," ucap Pak Setyo.
"Bapak ini, ingat umur Pak. Jangan gombal terus," sahut Bu Rima.
"Bapak nggak gombal Bu. Bapak ini ngomong terus terang. Bapak ucapin makasih, soalnya Ibu masih temani bapak sampai detik ini.
"Iya Pak, kita berjuang sama-sama ya."
Di saat yang bersamaan tanpa diketahui oleh pak Setyo dan bu Rima. Ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Seseorang yang berada di balik dinding penyekat antara ruang tengah dan ruang makan.
"Jadi keuangan bapak lagi menipis. Padahal aku tadinya mau bilang ke mereka kalau udah waktunya buat bayar uang sekolah. Tapi, aku jadi ragu," batin Kayla yang tanpa sadar meneteskan air mata.
Gadis itu sadar kedua orangtuanya akan beranjak dari meja makan. Ia pun segera pergi kembali masuk ke dalam kamar. Benar-benar diurungkan niatnya untuk bercerita tentang desakan untuk segera membayar uang sekolah.
"Biar aku pikir dulu aja sendiri, sambil nunggu kondisi keuangan ibu sama bapak membaik. Aku enggak mau menyusahkan mereka dulu," pikir Keyla sambil menutup pintu kamar tidurnya.
**
Di dalam kamarnya yang sangat bersih dan nyaman. Kayla menghabiskan waktunya hanya di meja belajar. Memandangi sebuah kotak yang berisi hadiah dari Fajar. Ia amat menyayangi benda tersebut. Tak mungkin tega jika harus menjualnya di situs online.
"Apa aku cari kerja part time aja ya. Kayaknya ada kafe baru buka di sekitar sini. Mungkin aku bisa tanya-tanya aja dulu. Daripada harus jual gelang dari Fajar. Kan sayang banget."
"Tok tok tok." Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk perlahan.
Kayla yang bersandar di kursi langsung bangun dan membereskan gelang yang sedang dipandanginya itu.
"Kayla, kamu udah tidur ya?" tanya Bu Rima dari luar pintu.
"Belum kok Bu!" jawab Kayla. "Masuk aja!"
Bu Rima masuk ke kamar Kayla. Dilihat putrinya sedang duduk di meja belajar. Namun, tak ada buku yang tergeletak. Heran menyelimuti perasaan Bu Rima.
"Kamu lagi apa?" tanya Bu Rima.
"Aku lagi." Kayla hampir saja menjawab dirinya akan belajar. Namun, dirinya sadar jika tak ada buku yang sedang dipegang. Sementara sang ibu juga melihat ke arah meja yang kosong. "Aku cuma lagi mikir aja Bu!"
"Mikir apa? Mikir Fajar?"
"Enggak Bu, aku lagi mikir duit buat bayar sekolah. Bentar lagi ujian kelulusan Bu. Kita harus bayar banyak," jelas Kayla dengan ragu. Padahal tadinya ia masih belum ingin bercerita tentang hal itu.
Bu Rima memberi kode untuk Kayla agar dirinya mau duduk di sebelahnya, di atas tempat tidur.
"Ada apa Bu?" tanya Kayla sambil duduk di samping sang ibu.
Diusap lembut kepala Kayla. Dirapikan rambutnya yang seperti belum disisir sore ini. "Kamu kenapa nggak kasih tau ibu?"
"Aku mau cerita, tapi kayaknya ibu juga lagi kekurangan. Bengkel bapak lagi sepi kan?" Kayla mengungkapkan isi hatinya.
"Tapi, kamu harusnya bilang Kayla. Ibu udah nabung dikit-dikit. Kamu nggak perlu khawatir Sayang," ucap Bu Rima.