Hembusan angin malam coba dirasakan oleh seorang Fajar. Ia yang berdiri sendiri di tepi balkon, sedang menikmati pemandangan langit yang hanya ada bulan di sana.
"Hay bulan. Kamu, aku temani ya. Rasanya malam ini aku juga gundah banget," gumam Fajar sambil menatap gelapnya langit.
Sesaat dirinya merasa terganggu dengan apa yang terjadi pagi tadi di rumah Kayla. Namun, jika dipikir, wajar saja itu terjadi. Itu memang pengalaman pertama bagi seorang Fajar.
Tubuhnya bergerak mengganti posisi. Duduk di sebuah kursi santai untuk beberapa saat. Ia mulai bersandar. Mencoba istirahat di tengah pikirannya yang berjalan ke mana-mana.
"Kayla, kenapa dia masih mikir aku ini nggak bisa dipercaya sih. Padahal kan udah pacaran cukup lama. Dia bahkan nggak mau cerita kalau keluarganya lagi krisis keuangan. Dasar emang Kayla, padahal jujur aku pengen dan mau banget bantuin dia. Tapi gimana caranya?"
Fajar berusaha berpikir keras. Ia selama 30 menit menghabiskan waktunya sendirian di balkon bersama dengan angin dingin yang semakin malam semakin menyiksanya dirinya.
"Sial dingin banget lagi!" keluh Fajar.
Fajar memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon yang menghadap ke bagian samping rumah.
"Jadi pengen minum," batin Fajar. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menuju tempat tidurnya.
**
Seorang wanita sedang bercermin untuk membersihkan sisa riasan di wajahnya. Ia tampak merasa lelah setelah seharian penuh menemani sang suami untuk bertemu beberapa klien penting.
"Akhirnya selesai juga," ucap bu Maya. Ia pun mengikat rambutnya membentuk sebuah cepol.
Melangkah kakinya menuju pintu kamar. "Kayaknya bikin teh hangat, enak nih!" batin Bu Maya.
Wanita itu kemudian menuju dapur. Sesampainya disana, ia melihat Fajar yang tengah menikmati minuman dingin sambil duduk di meja makan.
"Kok kamu belum tidur?" tanya bu Maya pada Fajar.
"Belum ngantuk Ma," jawab Fajar singkat.
Bu Maya melanjutkan kegiatannya. Ia berjalan ke dapur dan menyiapkan sebuah gelas. Dipenuhi gelas tadi dengan air hangat dan meletakkan sebuah kantung teh di dalamnya.
"Mama mau buat apa?" tanya Fajar menghampiri sang mama.
"Teh hangat."
"Aku mau Ma."
"Oke, kalau gitu Mama buatkan sekalian."
Sambil menunggu mamanya membuat dua cangkir teh hangat. Fajar duduk termenung di meja yang berada di dekat dapur. Kedua matanya menerawang ke langit-langit yang kosong. Ia terlihat seperti sedang berpikir.
Bu Maya segera menyelesaikan teh hangatnya. Kemudian segera membawanya ke meja tempat Fajar berada.
"Ini teh hangatnya," ucap bu Maya sambil memberikan secangkir teh kepada Fajar.
"Makasih Ma!"
Awalnya Fajar menghirup dulu aroma teh yang masih begitu kuat itu. Membiarkannya sejenak kemudian mulai meminumnya dengan perlahan. Tatapan matanya masih sama seperti tadi. Kosong dan tak bisa ditebak. Entah apa yang terjadi pada Fajar. Ia memang terlihat melamun sejak sore tadi.
"Fajar, kamu kenapa sih Nak?" tanya Bu Maya. Diperhatikan putra tunggalnya itu seperti sedang memiliki masalah.
"Nggak kenapa-napa kok Ma. Cuma ada sedikit masalah di sekolah," jawab Fajar dengan begitu santai.
Bu Maya semakin mendekat. Ia ingin melihat wajah putranya yang tak mau menatap dirinya saat berbicara. "Masalah apa? Kasih tahu Mama. Jangan dipikir sendiri. Entar jadi jerawat, gimana. Hilang dong kegantengan kamu," ucap bu Maya. Ia sedikit mengusili putranya yang hanya bisa murung dan diam saja.
"Kok gitu sih Ma. Mama mau aku jadi jelek ya?"
"Abis kamu diam aja. Kalau ada masalah ngomong. Biar bisa dicari solusinya."
Fajar sejenak terdiam. Ia tampak berpikir. "Lucu nggak sih, kalau aku cerita masalah Kayla ke Mama. Nanti dipikir aku nggak becus pacaran lagi. Ah sial. Kenapa mama malah makin tajem ngelihatin aku kayak gitu?" batin Fajar berbicara sendiri. Ia melihat mamanya masih memandang fokus pada dirinya.
"Oke, kalau kamu mau mikir sendiri sampe tumbuh jerawat. Terserah. Mama tidur aja ke kamar." Bu Maya mengambil langkah lain untuk memaksa anaknya mau bercerita.
"Eh, tunggu Ma. Iya aku mau cerita. Tapi, mama jangan ngatain aku ya. Please!"
"Oke, no problem!" jawab bu Maya sambil tersenyum puas.
**
Seperti biasanya, pagi ini Kayla bangun dengan membuat secercah harapan untuk dirinya agar bisa lebih bersemangat. Dia tak mau kalah dengan keadaan hidup dan kenyataan yang ada. Meski sulit, namun seharusnya dirinya tidak menyerah.
"Sepulang sekolah aku harus datangi kafe yang baru buka itu deh. Kali aja nerima pekerja part time," gumam Kayla di depan cermin kamarnya.
Ia masih sibuk merapikan baju yang sedang digunakan hari ini. Sambil merasakan hangatnya sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka. Kayla berusaha mengumpulkan kekuatan untuk meraih hari yang lebih indah.
"Mataharinya hangat banget. Aku jadi kangen Fajar. Dia pasti cemas banget gara-gara kondisiku kemarin yang tiba-tiba nggak stabil. Ahhh, gara-gara kepikiran buat bayar uang sekolah sih," keluh Kayla.
Ia merasa sudah siap. Dilihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih. Diraih tasnya dan bersiap berangkat sekolah.
"Bu, Ibuuu, Kayla mau cium tangan Ibu, Kayla mau berangkat nih," ucap Kayla sambil mencari ibunya.
"Kok sepi. Ibu mana?" pikir Kayla. Dipanggil sekali lagi ibunya. "Ibuuuuuu, Ibu di mana sih?" Kayla bertanya sendiri. Tak ada jawaban atau tanda-tanda ada orang di rumahnya. "Mana lagi Ibu?" pikir Kayla.
Karena waktu hampir mendekati pukul tujuh. Kayla akhirnya memutuskan untuk langsung berangkat sekolah saja. Namun, alangkah terkejut dirinya saat kakinya menginjak pintu utama rumahnya. Ia melihat pemandangan yang tak sepenuhnya bisa dipercaya begitu saja.
"Itukan Ayah. Kok masih di rumah. Tapi, kok ada Fajar sama ibu juga," gumam Kayla.
Kayla semakin memperhatikan apa yang terjadi di depannya dengan seksama. Rasanya ini seperti mimpi, dicoba mencubit salah satu lengannya. "Awww, sakit! Ini nggak mimpi. Mustahil Ayah bisa akrab sama Fajar. Dapat ilmu dari mana Fajar bisa pdkt sama ayah secepat itu," ucap Kayla begitu saja. Ia pun berjalan mendekati ketiga orang yang tampak begitu akrab.
"Ayah, Ayah kok belum berangkat kerja?" tanya Kayla.
“Iya, Ayah mau temani teman kamu ngobrol dulu. Anaknya asik ya ternyata,” ucap pak Setyo sambil menepuk pundak Fajar agar terlihat akrab. Tampak Ayahnya juga tersenyum cukup lebar.
“Hah, Ayah bilang Fajar anaknya asik, nggak salah. Sejak kapan mereka bisa bareng kayak gini,” batin Kayla. Ia merasa harus menenangkan dirinya.
“Ya udah, cepetan berangkat. Bentar lagi mau jam tujuh lho,” ucap bu Rima.
Mendengar itu, Kayla spontan meraih tangan sang ibu dan mengecup punggung tangannya. Hal yang sama dilakukan juga pada pak Setyo.
“Kami berdua berangkat dulu ya!” ucap Kayla.
“Iya hati-hati.”
Fajar kemudian melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kayla pada kedua orang tuanya.
“Sekali-kali bawa motor kamu ke bengkel Om. Kita otak atik bareng,” ucap pak Setyo.
“Masih mau lanjut ngobrolnya. Kita bisa terlambat lho,” celetuk Kayla. Ia kemudian meraih helm yang selalu ada di motor Fajar.
“Kalau gitu, kami berangkat. Assalamualaikum,” ucap Fajar.
“Waalaikum salam,” sahut bu Rima dan pak setyo bersamaan.