Fajar dengan tenang berjalan menuju kelas bersama Kayla. Ia masih tidak bisa berhenti tersenyum karena terlalu senang bisa berbicara akrab dengan kedua orang tua Kayla.
“Kamu kenapa sih Fajar? Kok bisa cepet banget akrab sama bapakku?” tanya Kayla.
“Rahasia,” jawab Fajar seenaknya sambil berjalan masuk ke dalam kelas.
“Hah. Apa! Kamu bilang rahasia.” Kayla dibiarkan penasaran. Matanya melotot karena kesal. “Ah dasar Fajar. Awas kamu ya!”
**
Siang ini, sepulang sekoolah. Kayla mengajak Fajar mendatangi sebuah kafe yang baru dibuka. Tampak begitu ramai dengan karyawan yang tidak sedikit.
“Kay, kita mau ngapain sih ke sini. Udah nggak ada tempat duduknya.” Fajar mulai menggerutu. Padahal dirinya berencana akan pergi ke bengkel pak Setyo sepulang mengantar Kayla.
“Udah diam, aku mau cari owner kafe ini,” sahut Kayla sambil melihat ke segala sisi.
“Hah, buat apa?” tanya Fajar penasaran.
“Buat ngelamar kerja part time.”
“Hah, apa! Kerja part time. Nggak boleh. Kamu kan masih sekolah. Bentar lagi juga masuk ujian dan bakalan banyak ulangan yang harus kita tempuh,” jelas Fajar pada Kayla yang sejak tadi berputar-putar mencari pemilik kafe.
“Aku tahu. Tapi, aku butuh duit.”
“Ya nggak gini juga caranya.”
Kesal karena tak didengarkan. Fajar pun menyeret paksa Kayla keluar kafe. Itulah kali pertama pasangan muda itu bertengkar hebat.
"Fajar, sakit!" Kayla berusaha melepas paksa tangan Fajar yang menarik pergelangan tangannya. "Kamu kasar banget sih."
“Kay, kamu ngapain kerja part time.” Fajar sedikit meninggikan suaranya. Hanya sedikit, tapi sudah ada sebagian orang merasa tertarik untuk menjadikan pertengkaran Fajar dan Kayla sebuah tontonan.
“Fajar Syafruddin. Aku beda sama kamu. Aku dan keluargaku nggak punya uang yang banyak buat bayar uang sekolah. Kamu tahu hal itu kan!” ucap Kayla. Ia menjelaskan dengan nada sedikit tinggi dan tidak mau kalah dari kekasihnya. Tampak wajahnya juga menahan emosi.
Fajar memperhatikan sekitar. Ia sudah merasa jika pertengkaran mereka sudah mengundang perhatian. “Aku tahu Kayla. Tapi, aku nggak akan biarin kamu capek. Makanya tolong izinkan aku bantuin kamu. Ku mohon!” ucap Fajar. Ia mulai merendahkan nada suaranya.
“Aku nggak butuh. Aku nggak mau memelas di depan kamu.” Kayla memutar tubuhnya. Ia berpikir untuk kembali masuk ke dalam kafe dan menemui segera pemiliknya.
“Kay! Please, biarin aku bantuin kamu,” ucap Fajar sekali lagi dan akhirnya membuat langkah Kayla berhenti. “Kalau kamu nggak mau aku bantu. Anggap aja kamu hutang sama keluargaku. Nanti kalau kamu udah sukses dan punya penghasilan sendiri. Kamu bisa membayarnya,” terang Fajar dengan begitu berat.
Fajar harap kalimatnya barusan, bisa dicerna dengan baik oleh Kayla. Ia tak mungkin menganggap kekasihnya itu merepotkan. Apalagi sampai berpikir Kayla gadis yang hanya menyukai Fajar karena hartanya.
Sesaat Kayla menoleh pada kekasihnya yang masih berdiri mematung di tempatnya tadi. Ia menatapnya ragu. “Apa aku boleh memilih itu. Bagaimana nanti respon keluargamu, Fajar. Nanti kalau mereka mengira aku cuma memanfaatkanmu, bagaimana. Apa aku masih punya muka buat ketemu mama kamu lagi. Sementara aku sudah terlanjur juga sayang sama mereka. Aku nggak mau kehilangan.” Kayla mengatakannya sendiri dalam hati. Ingin rasanya, ia kembali memegang tangan Fajar. Namun, bagian hatinya yang lain mencegahnya.
“Maaf, tapi ini sudah keputusanku,” ucap Kayla. Ia pun memantapkan diri masuk kembali ke kafe tersebut.
Beberapa menit telah berlalu begitu cepat. Fajar masih tetap setia menunggu di depan kafe tempat Kayla melamar kerja part time. Ia masih mencoba untuk bertahan di sana. Meski, ada sedikit rasa kecewa karena ucapannya tidak didengar oleh kekasihnya sendiri.
“Semoga dia nggak keterima,” batin Fajar penuh harapan.
Fajar terus berdo’a. Bagaimanapun, ia tak akan setuju keputusan Kayla itu. Hari-harinya pasti akan berat jika harus sekolah sambil bekerja part time di kafe. Belum lagi ulangan yang akan diadakan secara terus menerus untuk melengkapi nilai mereka yang akan lulus tahun ini.
“Siallll, aku malah makin cemas. Kayla keras kepala sekali sih,” pikir Fajar sambil menginjak daun kering yang ada di hadapannya hingga hancur.
Tak lama setelah berhasil meredakan kemelut di hatinya. Kayla keluar dari kafe tersebut dengan wajah yang ditekuk.
“Gimana, apa kamu dapat kerjaan part time nya?” tanya Fajar antusias.
Kayla memasang wajah malas. “Kenapa kamu masih ada di sini? Kenapa kamu nggak pulang?”
“Ya kan, aku harus tanggung jawab buat ngantar kamu pulang sampai rumah,” sahut Fajar.
Kayla tiba-tiba menunjukkan rasa sedihnya. Ia mulai membuat kedua matanya terlihat sedikit basah. Ada genangan bulir yang akan jatuh dari sana.
Fajar sadar akan hal tersebut. Ia pun menggerakkan tangannya untuk mengusap salah satu mata Kayla yang hampir saja menangis.
“Udah, jangan nangis. Aku akan selalu ada di sini. Aku bakalan bantuin kamu. Tapi, kamu jangan mikir yang macam-macam. Aku tulus ikhlas mau bantu kamu. Oke!” Fajar berusaha menenangkan perasaan Kayla. Ia tahu kekasihnya itu sebenarnya adalah seorang gadis yang rapuh dan tak sekuat apa yang selama ini dibayangkan.
Kayla mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun.
**
Hari-hari berlalu begitu cepat. Hubungan keluarga Kayla dengan Fajar semakin terjalin dengan baik. Kayla semakin dekat dengan bu Maya. Sementara Fajar semakin dekat dengan pak Setyo.
“Akhirnya tinggal satu ujian lagi buat kelulusan kita,” ucap Kayla yang sedang
menghabiskan waktu siangnya di kantin sekolah dengan Fajar.
Fajar mengaduk minuman dinginnya yang sangat segar. Ia sebenarnya juga ikut merasa lega. Karena selangkah dari secuil masa depannya sudah dilalui.
“Rencana kamu selanjutnya apa?” tanya Fajar. Ia kemudian menatap serius ke arah Kayla.
“Aku pengen kuliah di kampus negeri,” jawab Kayla.
“Aku juga, kita sama-sama berjuang ya buat masa depan kita.”
“Pasti!” jawab Kayla dengan semangat.
Fajar mengusap lembut kepala Kayla. “Pokoknya, kamu yang sabar ya. tunggu aku sukses, nanti aku akan secepatnya melamar kamu,” ucap fajar.
“Hah, apaan sih. jauh amat mikirnya.” Kayla merasa malu. Ia sampai harus berpura-pura sibuk meminum minuman dinginnya yang jelas-jelas sudah habis.
“Apa sih minum di gelas kosong. Pesan lagi sana ke ibu kantin.”
“Ihhh Fajar, kamu nggak tahu ya. Aku malu denger kamu bicara kayak tadi.”
Fajar tak bisa menahan senyumnya. Ia pun merasa gemas dan mencubit pipi Kayla.
“Satu lagi,” ucap Fajar dengan wajah tidak kalah serius.
“Apa!” sahut Kayla.
“Kamu jangan terbebani sama uang yang aku pinjamkan buat bayar sekolah kamu ya. Terus sama bengkelnya pak Setyo. Aku ikhlas bantuin. Aku seneng kalau bengkelnya ramai. Lagian pelayanan di bengkel Pak Setyo emang luar biasa. Jadi, banyak orang yang suka benerin motornya di sana,” terang Fajar. Ia kemudian tersenyum lega karena berhasil memberi kekuatan untuk Kayla dan keluarganya.