Ruang kerja pak Faris tampak sedikit lenggang pagi ini. Ia tidak melakukan banyak kegiatan seperti biasanya.
Sosok dari papa Fajar itu sedang berdiri tegap menatap jendela kaca di ruang kantornya yang berada di lantai atas sebuah gedung pencakar langit. Ia terlihat sedang melamun. Rasanya ada beban berat yang sedang dihadapi. Sorot matanya tajam menatap angkasa yang ada di depan.
“Hahhh.” terdengar suara nafas yang dibuang begitu panjang dan berat.
“Gimana bisa ini terjadi sama perusahaanku. Apa yang harus kulakukan sekarang. Sebentar lagi, Fajar juga akan kuliah. Pasti butuh dana terus-menerus untuk pendidikannya,” batin pak Faris. Ia kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa pening memikirkan nasib perusahaannya yang berada di ujung tanduk.
Beberapa hari yang lalu, ada beberapa orang polisi yang menyamar dan mendatangi perusahaannya. Mereka menanyakan perihal kerjasama perusahaan pak Faris dengan perusahaan Gama. Sebuah perusahaan yang ternyata melakukan aliran dana korupsi ke perusahaan pak Faris untuk memberikan laba dari kerjasama di antara mereka berdua.
“Maaf pak polisi, saya benar-benar tidak tahu jika perusahaan Gama melakukan kecurangan seperti itu,” ucap Pak Faris dengan penuh rasa takut.
Papa dari Fajar itu takut jika dirinya dianggap terlibat, dan nantinya harus ikut bertanggung jawab atas dana yang sudah terlanjur masuk ke rekening perusahaannya. Apalagi kalau sampai masuk penjara. Padahal dana tersebut juga sebagian besar telah digunakan untuk keperluan kantor dan gaji karyawan.
“Iya, kami tahu. Tidak ada bukti bahwa Pak Faris ikut melakukan penggelapan uang ini. Namun, mungkin nantinya kami akan menarik dana yang sudah masuk ke rekening perusahaan Bapak,” ucap pak polisi tersebut.
Seketika langit seperti runtuh. Hancur dunia yang selama ini sudah dibayangkan dan dibangun begitu indah oleh Faris Aditama. “Gimana ini, uang dari mana aku buat ganti rugi sebanyak itu. Sedangkan, laba perusahaan juga belum aku dapatkan semuanya,” batin pak Faris saat itu.
“Kalau begitu kami permisi. Terimakasih atas kerjasama yang baik dari pak Faris untuk pihak polisi,” ucap seorang polisi sambil memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
“Iya, sama-sama Pak. Senang bisa membantu.”
Flash back off
**
Fajar lega rasanya hari ini. Ia merasa sangat senang karena mendapati bengkel ayah dari Kayla dipenuhi banyak pelanggan. Dibuka lemari dingin yang ada di dekat meja pak Setyo. Ada pak setyo juga di sana.
“Wah, kayaknya Om harus nambah pegawai deh!” ucap Fajar sambil melihat ada banyak motor antri untuk diperbaiki.
“Belum perlu banget. Abis ini Om mau turun lagi buat bantuin perbaikan,” sahut Pak Setyo setelah menghabiskan satu botol sedang minuman dingin.
“Aduh Om! Om nggak capek?” tanya Fajar.
“Hah! Capek! Ya enggaklah. mana mungkin ngerasa capek, kalau bisa dapat uang banyak,” gurau pak Setyo. ia kemudian tertawa lepas dengan Fajar yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
“Kalau gitu, biar saya bantuin Om!” ucap fajar.
“Lha, kamu kan udah bantuin sejak tadi. Udah istirahat ja. Emang kamu nggak capek, abis ulangan terus bantuin di bengkel?” tanya pak Setyo dengan nada bergurau.
Fajar tertawa lagi. “Ya enggak lah Om. Aku nggak akan capek, kan nanti cintanya Kayl makin banyak buat aku.”
“Kamu bisa aja. Ya udah, ganti baju dulu. Jangan ganti seragam!”
“Oke, siap Bos!”
**
Ujung langit menampakkan sinar yang cukup indah untuk dinikmati. Sore ini, entah ada angin apa. Rasanya Fajar ingin sekali menghabiskan waktu santainya di balkon kamar. Seakan ada hal yang mendorongnya dan merasa ingin sekali berada di sana.
“Langit yang indah, seindah masa depanku sama Kayla,” batin Fajar. Ia tersenyum sangat tampan di bawah langit yang mulai berwarna orange kegelapan.
Tanpa diduga sebuah langkah kaki berjalan perlahan mendekati Fajar. Ia dengan wajah yang sedikit murung mengambil tempat untuk berdiri tepat di sebelah Fajar yang sedang menatap matahari sore.
“Mama!” sapa Fajar melihat mamanya sudah ada di sebelahnya.
Sang mama hanya tersenyum. Namun, beda sekali senyum yang dilakukan bu Maya barusan.
“Ada apa Ma?” tanya Fajar. Ia kemudian memegang pundak mamanya yang tampak tidak sekuat seperti biasanya.
Perlahan terdengar mamanya sedikit terisak. Salah satu tangannya mulai menutupi sepasang mata yang ingin menangis. Hal itu membuat Fajar tiba-tiba cemas.
“Mama! Mama kenapa? Ada apa Ma? Ada yang menyakiti Mama? Atau Mama ada masalah? Bilang Ma!” tanya Fajar yang semakin khawatir.
Fajar memegang kedua pundak mamanya. Membuat tubuh sang mama agar sejajar dengan dirinya dan mau menatap ke wajah yang sudah dipenuhi banyak tanda tanya itu.
“Ma, katakan sesuatu. Ku mohon!” pinta Fajar.
“Papa.”
“Papa kenapa Ma?”
“Perusahaan Papa bangkrut Nak. Kita akan jatuh miskin. Kita akan kehilangan rumah, mobil, perhiasan dan semuanya. Kita bahkan kehilangan uang simpanan di bank yang akan digunakan untuk membiayai kebutuhan kuliah kamu,” terang bu Maya. Ia semakin tak bisa membendung air matanya dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan putra semata wayangnya itu.
Fajar berusaha tegar. Pandangan matanya seketika kosong. Pikiran indah tentang masa depannya hancur sudah. Bayangan wajah Kayla yang sempat muncul di benaknya beberapa menit yang lalu terhapus begitu saja. Bibirnya beku tak dapat tersenyum. Kedua matanya perlahan ikut sedikit sembab dan basah.
“Tenang Ma. Kita boleh kehilangan semuanya. Tapi, mama masih punya aku sama papa kan. Kita masih punya keluarga,” ungkap Fajar yang ingin menenangkan sang mama. Dipeluk dengan erat mamanya. Ia tak ingin mamanya melihat dirinya yang ternyata juga ikut menangis.
**
Dengan wajah yang penuh semangat. Kayla menikmati matahari yang mulai tenggelam di belakang rumah.
Sebenarnya ia tidak bisa melihatnya dengan sangat sempurna seperti pemandangan indah yang ada di tepi pantai atau di puncak gunung. Namun, satu hal yang selalu membuatnya rindu dan ingin menyaksikan matahari baik itu terbit atau tenggelam adalah Fajar. Ia melihat Fajar adalah mataharinya. Penyemangat sekaligus penolongnya disaat susah.
“Makasih Ya Allah, Engkau telah memberiku dua matahari,” batin Kayla tersenyum.
“Kaylaaaa! Kayla, kamu masih di luar Sayang. Ayo masuk! Udah mau masuk waktu magrib!” perintah ibunya yang sedang berada di dapur.
Kayla beranjak dari duduknya. “Iya Bu! Kayla segera masuk!”
Gadis itu kemudian menghampiri ibunya. Memeluknya dari belakang hingga membuat ibunya terkejut.
“Kayla, kamu mau ngapain?”
“Mau peluk Ibu lha.”
“Ayo lepas. Ibu lagi cuci piring. Nggak lucu kalau piringnya jatuh terus pecah,” terang bu Rima.
Baru saja bu Rima mengatakannya dan Kayla akan melepas rangkulan di tubuh ibunya. Sebuah piring terpeleset dari tangan bu Rima hingga jatuh ke lantai dan pecah menjadi beberapa bagian.
“Pyarrrr!”
“Awas Bu!” teriak Kayla. Namun, ternyata pecahan piring itu ada yang melompat mengenai kaki Kayla. “Awww,” ucapnya sambil melihat ada sedikit darah di sana.
“Aduhhhh, kan udah dibilangin Ibu. Kamu sih!”
“Awww sakit Bu!”
"Lain kali jangan gitu!"
"Iya Bu!"
"Kok rasanya, perasaanku nggak enak ya. Ada apa sih?" batin Bu Rima. Namun, ia segera menepisnya.