Fajar Kenapa?

1046 Kata
Seperti biasanya, sebuah motor klasik yang usianya bahkan melebih pemiliknya sedang diparkir di depan rumah Kayla. Motor yang dulu digunakan oleh Fajar untuk memikat hati pak Setyo. “Pagi Nak Fajar!” sapa pak Setyo yang sedang akan berangkat ke bengkel. “Pagi Om,” sahut Fajar. “Pagi banget datangnya. Tumben!” tegur pak Setyo yang seketika membuat wajah Fajar terlihat sedang berpikir. “Ahhhh, aku nggak mungkin bilang kalau aku malas sarapan bareng papa sama mama karena mereka pagi ini ribut masalah perusahaan,” batin Fajar. Ia mulai memutar bola matanya mencari jawaban. “Iya Om, Mama tadi nggak sempat menyiapkan sarapan. Kayaknya beliau kecapekan. Pengennya sih, ikut sarapan di sini,” ucap Fajar berbohong. “Boleh nggak Om?” “Apa kamu bilang! Ya boleh aja Nak. Kenapa nggak. Ayo masuk. Biar saya anterin ke meja makan langsung.” Pak Setyo tanpa canggung memeluk bahu Fajar dan mengajaknya masuk. Tampak ada bu Rima dan juga Kayla. “Fajar, kamu pagi banget datang ke sini. Pasti udah kangen ya sama aku?” tegur Kayla dengan wajah yang terpesona dan terharu. Fajar hanya membalasnya dengan senyuman yang biasa ia tunjukkan pada Kayla. “Dia mau ikut sarapan Bu,” ujar pak Setyo sambil mempersilahkan Fajar duduk di samping Kayla. “Ohh, tenang aja. Kamu mau sarapan berapa banyak?” tanya Bu Rima. “Aduh, jadi merepotkan. Saya makannya sedikit kok!’’ jawab Fajar. Seketika suasana meja makan semakin ramai. Fajar merasa ada kekuatan baru dari sana. Ia sedikit bisa tersenyum. Namun, itu tidak mengubah sebagian besar pikirannya yang kacau sejak kemarin sore. “Fajar, kamu kenapa Nak?” tanya bu Rima. Ia melihat pemuda itu sedikit berbeda pagi ini. “Nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Fajar yang gugup. Ia tadi sempat melamun disaat yang lain tertawa. “Kenapa Fajar? Kamu mau aku suapi?” Kayla berusaha mengeluarkan kata-kata manis untuk menghibur kekasihnya. “Apa sih Kay, ada ibu sama Ayah kamu lho!” Fajar menatap bergantian bu Rima dan pak Setyo. Spontan pak Setyo memukul kening kayla yang berponi pagi ini. “Awww, sakit Ayah.” Kayla memegang keningnya. Ia melirik tajam pada pak Setyo. “Abis kamu ini, malu-maluin ayah. Harusnya cowok yang godain cewek. Ini kamu, malah agresif banget,” sahut pak Setyo. “Jadi malu Ayah sama Nak Fajar.”’ “Ihhh, Ayah. Akukan cuma mau menghibur Fajar,” bela Kayla. “Udah Om, nggak papa. Aku senang dihibur Kayla kayak tadi. Tapi, aku nggak mau disuapin ya. Aku masih bisa makan sendiri,” ucap Fajar sambil menahan tawa. “Ahhh Fajar, aku nggak papa kok kalau emang harus beneran nyuapin kamu.” Kayla kembali berbicara sesuka hatinya. “Kayla!!!!” panggil ayahnya dengan nada gemas. “Oke-oke Yah. Aku cuma bercanda kok.” Kayla menyipitkan kedua matanya sambil memasang senyum manis untuk merayu sang ayah. ** Suasana sekolah Kayla semakin hari semakin ramai di tiap kelasnya. Hari-hari yang berlalu begitu cepat tak terasa sudah hampir mendekati liburan semester akhir. Ada banyak guru yang sibuk menyiapkan arsip nilai para siswanya. Hal itu membuat banyak kelas kosong. Apalagi di minggu terakhir ini. Sebagian siswa juga ada yang menyiapkan untuk acara hiburan saat pelepasan murid. “Kayla, kamu makin hari makin cantik aja,” celetuk Lani yang sedang duduk bersama di bangku mereka. “Enggak ah, biasa aja. Kamu berlebihan,” ucap kayla sambil mengamati jumlah pulpen yang ada di kotak pensilnya. “Sejak aku pacaran sama Fajar, pulpenku banyak ya. Nggak kayak dulu. Punya satu aja udah seneng banget. Dijagain terus lagi,” ucap kayla mencurahkan isi hatinya. Lani mengangguk. “Dulu kamu kesusahan banget Kayla. Sekarang secara finansial, Fajar berarti besar buat kamu." "Iya! Dia juga udah bantuin bengkel Ayahku biar rame. Dia bantuin promosi dan ikut ngatur suasana bengkel biar nyaman kalau ada yang servis di situ," sambung Kayla. Ia kemudian menutup kotak pensilnya. "Fajar berarti banget buat aku." "Iya Sayang, aku pahammmmm," sahut Lani dengan nada menggoda. "Ihhh, Lani. Temannya lagi cerita malah diledek." "Ihhh, bisa banget deh ini anak. Aku nggak ngeledek kamu. Aku tahu kok, Fajar itu udah kayak matahari kedua kamu. Iyakan? Beberkan? Benerlah." "Iyaya!" "Eh, tapi Fajar di mana? Tumben dia nggak kumpul temannya di kelas," ucap Lani, sesaat setelah melihat ke arah bangku Fajar yang ditempati temannya. Kayla ikut melihat ke belakang. Memang terlihat tidak ada Fajar di sana. "Iya, mana Fajar. Kok aku nggak tahu kalau dia keluar dari kelas." ** Sebuah perpustakaan yang dulu tidak pernah didatangi Fajar jika Kayla tidak berada di sana. Kini menjadi salah satu tempat untuk merenung dirinya. Ruangan yang jauh dari keramaian itu juga sedang tidak ada banyak murid. Hanya beberapa saja yang tengah berkepentingan untuk mengembalikan buku. Fajar menopang dagu dengan tangan kanannya. Melihat ke depan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang jauh entah ke mana. Sesaat bayangan Kayla yang tersenyum membuat hati merasa bahagia. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Fajar penuh tanya. Pertengkaran papa dan mamanya tadi pagi juga sangat membuatnya terpuruk. Ia merasa dunianya hancur seketika. Tak pernah terpikirkan jika akan terjadi hal seperti itu akan menimpa keluarganya. "Ya ampun. Kenapa di saat seperti ini datang masalah begitu berat. Gimana aku ngomong ke Kayla kalau aku nggak jadi kuliah bareng dia. Rasanya aku nggak pantas buat dia. Dia bisa dapat cowok yang lebih baik secara finansial daripada aku. Dia butuh itu. Dia nggak butuh cowok miskin kayak aku," batin Fajar. Kepalanya terasa berat. Ia mulai menjatuhkannya perlahan ke atas meja. Kedua matanya secara tak sadar ikut terpejam. ** Sementara itu, Kayla sedang berjalan keluar kelas. Ia sedang mencari keberadaan Fajar. "Ada apa sama Fajar. Dia nggak pernah menghilang tiba-tiba seperti ini. Biasanya dia bakal ngomong ke aku kalau mau kemana-mana. Ah, disaat seperti ini aku malah nggak tahu dia ada di mana," batin Kayla. Kakinya terus berjalan menyusuri lorong kelas. Ia sama sekali tak tahu mencari Fajar di mana. Sesaat ia berdiam di tepi lapangan. Sinar matahari membuat silau kedua matanya hingga menyipit. "Ahh, matahari. Kamu kelihatan jelas ada di sana," pikir Kayla. Ia pun menegakkan tubuh lagi. Ia akan mencari sekali lagi di mana Fajar berada. "Nggak mungkin kalau dia pulang duluan. Penumpangnya kan masih ada di sekolah," gumam Kayla sambil tersu berjalan. Merasa lelah karena sudah berputar ke seluruh penjuru sekolah. Kayla tiba-tiba tertarik untuk masuk ke perpustakaan. Ia ingin mendinginkan diri di sana. Berjalan tanpa curiga apapun. Kayla segara menuju ke tempat favoritnya. Ia sangat terkejut melihat ada mataharinya di sana. "Itukan matahariku. Ah, bukan maksudku Fajar. Dia ngapain tidur di situ. Enak banget. Pasti dia semalam begadang. Sampai ketiduran di perpustakaan," batin Kayla. Ia kemudian berjalan ke sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN