Usai wisuda pelepasan siswa, Fajar berusaha menggenggam tangan Kayla. Ia ingin mengajaknya berjalan bersama.
Namun, sikap Kayla berbeda dengan yang biasanya. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan itu dengan perlahan. Semakin lama tangannya semakin terlepas dan menjauh dari Fajar.
"Kayla, kenapa kamu nggak mau pegang tanganku?" tanya Fajar sambil melihat Kayla berdiri sambil menjaga jarak dengannya.
"Aku rasa kita nggak usah berhubungan lagi," ucap Kayla.
Fajar memiringkan wajah menatap Kayla dengan serius. "Kenapa tiba-tiba kamu bicara kayak gitu?"
Kayla menarik senyum tipis seperti mengecoh sosok kekasihnya yang sudah menemani selama ini. "Aku nggak pantas dapatkan kamu."
"Siapa bilang? Ayolah Kayla, bukannya kita udah bicarakan ini. Aku nggak masalah walau kita berasal dari keluarga yang berbeda."
Kayla menatap angkuh. "Bukan kamu yang bermasalah. Tapi, aku. Aku yang bermasalah. Aku nggak mungkin terus bersama dengan orang yang udah jatuh miskin. Kamu udah nggak bernilai apa-apa lagi Fajar Syafruddin."
"Apa kamu bilang?" Fajar merasa tidak percaya. Lututnya lemas seperti tak kuat menopang badan. "Kamu nggak bermaksud ninggalin aku kan. Bukannya aku dulu juga terima kamu apa adanya?" Fajar berusaha kuat untuk membuat dirinya bisa berdiri tegak.
Dibalas ucapan Fajar hanya dengan sorot mata tajam penuh kebencian dari Kayla.
"Kayla Handyta Rahmi. Kamu beneran pengen berpisah dari aku?" tanya Fajar.
Kayla mengangguk perlahan dan penuh keyakinan. Ia merasa memang harus membuang Fajar saat ini. Sosok laki-laki yang sudah menemaninya selama kurang lebih dua tahun itu memang pantas mendapatkan hal tersebut. Karena sudah tidak bernilai lagi di depan mata Kayla.
"Dengar aku baik-baik. Aku mau kita berpisah. Setelah ini, aku akan dapatkan pria yang lebih baik dari kamu. Yang lebih kaya tentunya," ucap Kayla.
Kayla melangkahkan kaki dengan pasti. Ia beranjak pergi meninggalkan Fajar yang semakin terpuruk meratapi nasib sendiri.
"Kayla, aku nggak mau kamu ninggalin aku Kay! Kaylaaaa! Jangan tinggalkan aku! Ku mohon!!!!" Fajar berteriak di dalam hati. Ia tak mengira kisah cintanya akan berakhir seperti ini.
**
"Fajar, Fajar. Bangun Fajar. Kamu mimpi buruk ya. Fajar, ayo bangun! Jangan bikin aku takut," panggil Kayla sambil menepuk pipi Fajar yang selalu bersih dan terawat.
Fajar tampak terperangkap di dalam mimpinya. Ia tak bisa bangun. Kedua matanya terpejam dengan begitu kuat. Keningnya juga terlihat basah karena keringat.
"Fajar, kamu kenapa ketakutan. Apa yang kamu takutkan. Aku ada di samping kamu sekarang. Ayo cepat bangun," batin Kayla. Ia masih menepuk pipi Fajar dengan perlahan.
"Ahhhh, Kayla, Kaylaaaaa!" panggil Fajar yang masih bermimpi buruk. Ia kemudian mulai membuka matanya perlahan.
"Fajar, kamu nggak papa. Kamu mimpi apa. Kenapa susah banget buat dibangunkan. Apa kamu digangguin hantu perpustakaan?" Kayla mencecar dengan berbagai pertanyaan. Ia sangat cemas melihat Fajar begitu ketakutan saat bermimpi tadi.
Fajar kemudian menatap Kayla. Ia masih bisa melihat gadis impiannya itu ada di depan mata. Lega rasanya, perlahan-lahan ia memegang tangan Kayla. Menyatukan jari jemari miliknya dengan jari jemari milik Kayla.
"Rasanya tenang sekali," pikir Fajar merasakan tangannya bersatu dengan Kayla.
Kayla sendiri tak bisa berkata apa-apa. Ia terhanyut dengan suasana yang baru saja diciptakan oleh Fajar.
"Fajar, kamu tadi mimpi buruk ya?"
Fajar lalu menatap Kayla. Ia masih belum bisa mengatakan satu katapun.
"Fajar!" panggil Kayla sekali lagi.
"Eum, iya. Aku tadi mimpi buruk banget."
"Mimpi buruk kayak apa? Coba cerita. Biar nggak jadi beban."
"Kamu yakin mau dengar cerita dalam mimpiku tadi?" Fajar menatap Kayla dengan begitu dekat. Ia memastikan bola mata mereka saling beradu satu sama lain. Dengan begitu, ia bisa melihat kejujuran yang ada di sana. Kejujuran yang tersimpan di manik mata Kayla.
Kayla mengedipkan matanya begitu cepat. "Iya aku yakin," jawabnya sambil menahan diri agar tidak tergoda dengan tatapan mata Fajar.
Fajar tersenyum penuh makna. Ia harusnya bahagia jika yang barusan terjadi ternyata cuma bunga tidur.
"Tapi, nggak jadi. Aku nggak jadi ceritain mimpiku tadi," ucap Fajar sambil tersenyum. Ia berusaha menghapus jejak buruk yang ada di dalam dirinya karena mimpinya barusan.
"Hey, kenapa nggak jadi. Nggak asik ah."
Fajar tak menanggapinya. Ia rasa memang seharusnya mimpi barusan dilupakan saja.
"Cuma bunga tidur, ngapain diingat-ingat," ucap Fajar pada Kayla. Berharap Kayla tidak menyuruh untuk menceritakan mimpinya lagi.
**
Semilir angin sejuk menyentuh kulit yang terasa kering. Daun berjatuhan karena hukum alam yang semestinya. Di bawah pohon rindang yang ada di belakang sekolah. Kayla mencoba menikmati suasana alami itu. Sejuk dan menenangkan. Apalagi ditemani seseorang yang paling disayang.
"Matahariku kenapa ilang lagi sih," batin Kayla yang sedang menunggu Fajar. Ia melihat kursi di samping masih kosong.
Beberapa menit yang lalu, Fajar merasa haus. Ia ingin pergi ke kantin untuk membeli minuman. Namun, sampai sekarang ia belum juga kembali dari sana.
"Fajar, lama banget," tegur Kayla melihat kekasihnya itu muncul. Terlihat di tangannya hanya ada satu buah botol minuman. "Tumben cuma beli satu. Tapi, nggak papa sih. Aku nggak ngerasa haus-haus banget."
"Eum … biar romantis. Beli satu buat kita berdua aja," ucap Fajar sambil tersenyum palsu. Ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya harus belajar untuk berhemat. Uang yang ada di dompetnya hanya tinggal beberapa lembar saja. Itupun tak ada yang berwarna merah.
Setelah penutup botol yang cukup keras berhasil dibuka oleh Fajar. Ia menyerahkannya pada Kayla. "Nih, kamu minum dulu."
"Enggak ah. Kamu aja yang minum dulu. Kan kamu yang beli. Biar aku yang minum bekas kamu. Aku nggak masalah kok." Kayla mendorong botol minuman itu kembali kepada pemiliknya.
Fajar menolak. "Aku mau minum bekas kamu aja. Hitung-hitung ciuman nggak langsung. Kita kan nggak pernah melakukan itu," gurau Fajar dengan caranya yang selalu santai dan enak didengar.
"Apa sihhh. Kenapa jadi bahas ciuman. Kita kan udah janji buat nggak melakukan itu."
"Iyaaaa bawelll. Cepetan kamu minum dulu. Aku juga haus nih. Pokoknya kalau kamu nggak mau minum dulu. Aku juga nggak mau minum ah." Fajar berkelit agar Kayla mau menikmati minuman dingin itu lebih dahulu.
"Okey, so ladies first," ucap Kayla sambil menerima minumannya.
Fajar bisa melihat wajah ceria Kayla. Ia merasa begitu senang. "Aku ingin seperti ini terus. Bisa melihat kamu senyum tanpa ada beban. Bisa bersama kamu tanpa takut kehilangan. Tapi, itu tidak bisa berlaku lagi untuk selanjutnya. Bagaimana kalau kamu berubah setelah mengetahui keluargaku jatuh miskin. Bahkan lebih miskin daripada keluarga kamu, Kayla. Apa yang akan terjadi jika kamu beneran tahu itu semua. Aku nggak ingin kamu ninggalin aku. Aku pengen bisa jadi sukses bareng sama kamu, Kayla Handyta Rahmi," batin Fajar dalam lamunannya menatap Kayla.