Jam sekolah sudah selesai, Fajar langsung mengantarkan Kayla untuk pulang. Sesaat mereka tak langsung berpisah setelah sampai di depan rumah Kayla. Mereka sempat berdiri bersama sekedar menghabiskan waktu dan mengatakan salam perpisahan.
"Aku langsung balik ya. Nanti kalau Om Setyo pulang. Bilang aja, aku lagi nggak enak badan, soalnya abis mimpi buruk di sekolah," ucap Fajar sambil tertawa renyah.
"Iya," ucap Kayla sambil mengangguk. "Hati-hati kalau gitu. Sampai ketemu besok."
"Oke, bye. Aku pulang dulu."
"Bye juga!"
Fajar kembali menyalakan mesin motor. Ia mulai melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kayla.
"Hati-hati Fajar," ucap Kayla mengantar kepergian motor klasik kekasihnya.
Tak lama motor klasik itu telah menembus keramaian dan padatnya jalanan. Berkendara dengan kecepatan yang tidak terlalu kencang. Membiarkan motor-motor yang lain menyalip begitu saja.
"Cepat atau lambat, aku bakal kasih tahu kamu Kayla tentang kondisi keluargaku sekarang. Mungkin setelah kelulusan. Setelah tugasku menjadi sopir pribadi kamu selesai. Aku akan terima semua keputusan yang kamu ambil Sayang. Kalau memang mimpiku tadi siang memang harus jadi nyata!"
Fajar terus memikirkannya. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, ia tak hanya fokus memperhatikan jalanan. Namun, ia juga memikirkan bagaimana nasib cintanya setelah ini.
"Terserah bagaimana rencana Tuhan," pikir Fajar sekali lagi. Ia pun menambah kecepatan agar motor klasiknya bisa segera sampai di rumah.
**
Sebuah rumah terlihat begitu luas dan memiliki tiga lantai, tampak pintu pagarnya terbuka cukup lebar. Membuat halaman yang penuh bunga anggrek bisa dilihat oleh orang-orang yang sedang berjalan di tepi jalan.
Fajar baru sampai rumah. Ia melihat pintu pagarnya sudah dibuka cukup lebar. Dalam hati bertanya, ada siapa di rumah saat ini.
"Tumben," batin Fajar. Ia pun merasa tak perlu menyalakan klakson untuk memanggil asisten rumah tangga yang biasa membuka pintu pagar rumah.
Fajar turun dari motor, memarkirkan kendaraannya di tempat biasa yang digunakan. Namun, sepasang matanya menangkap ada kendaraan lain yang ikut berjejer di sana.
"Ini mobil siapa?" tanya Fajar dengan suara lirih. Ia tak pernah melihat mobil itu sebelumnya.
Fajar pun melangkahkan kakinya untuk masuk. Ia melihat pintu rumah terbuka cukup lebar. Padahal biasanya tidak pernah seperti itu. Perlahan dilihat apa yang sedang terjadi di ruang tamu. Ada beberapa orang di sana, termasuk papanya.
"Papa lagi ngobrol sama siapa, kayaknya serius banget. Apa mungkin pengacara keluarga, tapi kayaknya bukan. Asistennya papa juga bukan. Terus mereka siapa. Apa staf baru di kantornya papa," batin Fajar penuh tanya sambil berjalan semakin masuk ke dalam rumah.
Belum sampai langkahnya berhenti. Ia mendapat sebuah pemandangan yang mengejutkan. Terlihat mamanya sedang terisak di balik dinding yang ada di dekat ruang tamu.
"Mama, Mama kenapa?" tanya Fajar melihat mamanya sudah dalam keadaan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
Kedua mata bu Maya sudah basah. Tak tampak juga warna merah cerah di bibir, selain warna alami yang terlihat begitu pucat. Belum lagi penampilan tanpa perhiasan yang begitu sangat berbeda.
"Mama, mereka siapa? Mama baik-baik aja kan? Kenapa kondisi Mama kayak gini?" Fajar mencoba kembali bertanya. Ia merasa dirinya seperti sosok anak yang tak berguna karena tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan keadaan mamanya sendiri pun, ia tak bisa mengerti.
"Kita, kita harus angkat kaki dari sini Fajar. Kita akan cari tempat tinggal yang lain. Kamu nggak papa kan Nak?" tanya bu Maya sambil memegang pundak sang anak.
Fajar menatap ibunya tak percaya. Ia tak mengira itu akan terjadi secepat ini. Tak lama kemudian, papanya yang sedang menemui tamu tak dikenal tadi berjalan menghampiri mereka.
"Fajar!" panggil pak Faris dengan wajah yang tak kalah menyedihkan.
"Iya, ada apa Pa!" sahut Fajar sambil menoleh ke arah Pak Faris.
Pak Faris menengadahkan tangan kanannya. "Mana kunci motor kamu Nak!"
Fajar memasang wajah bingung. "Untuk apa Pa?"
Terjadi adu pandang antara Pak Faris dengan bu Maya. "Maaf Fajar, maafin Papa Nak. Motor kamu harus dibawa sama pihak bank yang akan menyita aset kita. Sementara ini, baru kendaraan yang mereka minta." Pak Faris akhirnya mengatakannya dengan begitu berat.
"Apa, mereka mau bawa motor kesayangan Fajar. Itu nggak boleh terjadi. Fajar nggak akan izinkan mereka bawa motor kesukaanku."
"Tapi Nak. Kamu harus serahkan motor itu!" pinta pak Faris sambil memegang lengan anaknya.
"Please Nak, bantuin kami berdua," tambah bu Maya. Ia juga ikut meyakinkan Fajar agar mau menyerahkan kunci motornya.
"Kalau aku serahkan kunci motor ini, besok aku enggak bakalan bisa jemput dan antar pulang Kayla. Terus aku harus bicara apa sama Kayla. Apa dia bakalan percaya kalau keluargaku bangkrut. Enggak, itu nggak boleh terjadi dulu. Aku nggak siap kalau harus kehilangan Kayla sekarang. Tapi gimana dengan papa sama Mama?" batin Fajar berkecamuk.
Ia kemudian merogoh saku celana untuk mengambil kunci motor. Perlahan kunci motor itu akan diserahkan kepada pak Faris. "Yang paling utama adalah keluarga, tapi gimana sama Kayla. Aku harus ngomong apa sama dia?"
Kurang sedikit lagi kunci motor itu akan berpindah ke tangan papanya. Namun, Fajar segera menarik tangannya dan membatalkan niatnya untuk memberikan kunci motor itu.
"Fajar, mana kuncinya. Mereka udah menunggu," ucap pak Faris sedikit memaksa.
"Maafin Fajar, Papa, Mama," ungkap Fajar penuh penyesalan. Ia kemudian mengambil langkah seribu. Kemudian keluar dari rumah, menyalakan mesin motor dan pergi secepatnya dari tempat tinggalnya itu.
"Fajarrrrr, tunggu Nak!" teriak sang papa tapi tidak dihiraukan.
Fajar sudah pergi. Sedangkan dua orang yang menunggu kunci motor Fajar hanya berdiri sambil memasang wajah penuh emosi.
"Bagaimana ini Pak. Seharusnya kami bawa mobil dan motor sekaligus. Ini malah cuma bawa mobil aja," ucap salah satu dari mereka kepada pak Faris.
"Iya Pak, saya minta maaf. Saya nggak tahu kalau anak saya akan pergi seperti tadi."
**
Senja sore telah berganti menjadi kegelapan tanpa bintang. Tak ada yang menghias di atas sana kecuali bulan yang tampak sendiri. Mungkin ada beberapa bintang yang terlihat kecil sekali. Tapi, jumlah mereka yang terlihat tidak banyak.
Fajar bingung harus ke mana. Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Minimal tidak akan ada orang yang berusaha merampas motornya di hari yang telah sangat larut. Kecuali jika ada seseorang yang memang sedang berjaga dan mengintai kedatangan dirinya.
Pintu pagar dibuka oleh seorang petugas keamanan. Minimal mereka masih bertugas untuk menjaga agar pintu pagar ada yang membuka saat Fajar pulang.
"Ahhh, aku rasa sudah aman. Sekarang masuk dulu ke rumah," ucap Fajar setelah meletakkan motornya di tempat yang aman.
Fajar mulai berjalan masuk rumah yang kondisinya sudah gelap gulita.
"Kenapa kamu tadi pergi begitu saja Fajar Syafruddin!" teriak seseorang yang sedang menunggu di sofa ruang tamu.