Pertengkaran Papa Dan Anak

1066 Kata
Di dalam ruangan yang begitu gelap. Ada sosok yang sedang menunggu kedatangan Fajar. Kedua kakinya tidak bisa berhenti untuk tidak menghentak di lantai marmer. Kesabaran rasanya sudah terkuras habis. "Sepertinya dia sudah pulang." Mengetahui kedatangan Fajar, ruangan tersebut dibiarkan gelap begitu saja. Tak ada cahaya sedikitpun kecuali cahaya dari ruang tengah. Memantul ke cermin yang menjadi hiasan dinding. Menampakkan sekilas cahaya yang tak banyak. "Ceklekk." Suara dari pintu yang dibuka. Muncul seseorang dari sana. Seseorang yang kedatangannya sudah ditunggu sejak tadi. "Kenapa kamu tadi pergi begitu saja Fajar Syafruddin?" teriak pak Faris kepada anaknya. "Papa," ucap Fajar terkejut dengan sambutan dari papanya. Pak Faris menyalakan lampu ruang tamu yang sejak tadi gelap. Ia kemudian mempersilahkan fajar untuk berkenan duduk tepat di sebelahnya. Awalnya Fajar membuang muka. Entah apa yang merasuki. Tanpa mengatakan apapun Fajar menuruti keinginan papanya tersebut. Ia meletakkan tas di atas meja, kemudian duduk di sebelah papanya. "Papa mohon kerjasamanya Fajar." "Kerjasama apa Pa?" tanya Fajar pura-pura tidak tahu. "Papa cuma mohon, kamu mau memberikan kunci motor kamu. Dan rela jika motor kamu dibawa oleh pihak bank," ucap pak Faris dengan sangat tegas. "Maaf Pa, kalau itu. Aku nggak bisa!" Fajar menatap wajah papanya dengan serius. Tak terlihat sedikitpun jika ia sedang bercanda. "Fajar, please! Papa lagi kesulitan sekarang. Jadi tolong bantu Papa untuk kali ini." "Tapi, itu motor kesayanganku Pa," sahut Fajar sedikit naik pitam. "Mau kamu apa sih Nak?" tanya pak Faris dengan nada yang juga ikut meninggi. "Kamu pasti tahu, Papa nggak akan meminta barang kesayangan kamu jika bukan karena keadaan yang memaksa." "Terus kenapa Papa membiarkan keadaan itu terjadi. Kenapa Pa. Mana tanggung jawab Papa sebagai kepala rumah tangga!" "Kamu pikir yang selama ini, Papa lakukan buat keluarga apa! Bocah baru kemarin berani ngelawan orang tua," ucap Pak Faris penuh emosi. Ia kemudian tanpa sadar mengangkat tangan ke langit-langit bersiap untuk menampar Fajar. "Papa, jangan lakukan itu!" cegah Bu Maya yang mengetahui kejadian tersebut. Ia langsung berlari dan memegangi lengan sang suami. "Biarin Ma, biarin papa melakukan apa yang diinginkan," ucap Fajar yang kembali terdengar menantang sang papa. "Fajar, jaga kelakuan kamu Nak. Ini semua terjadi bukan karena kesalahan Papa. Tapi karena memang roda kehidupan itu berputar Nak. Kita sekarang lagi diuji," ucap bu Maya menjelaskan. Fajar terdiam beberapa detik. Ia mencoba memahami apa yang diucapkan mamanya. Dalam benak dirinya merasa kasihan pada masalah yang menimpa papanya. Namun, sebagian hatinya tak bisa menerima kenyataan. Apalagi jika kenyataan ini suatu saat akan diketahui Kayla. "Maafin aku Pa. Fajar nggak bermaksud marah. Cuma mungkin ini semua terlalu cepat. Fajar nggak nyangka di saat Fajar harus memulai hidup baru setelah SMA, yang terjadi malah hal seperti ini," ungkap Fajar dengan terbata-bata. "Papa juga minta maaf, nggak bisa kasih yang terbaik buat kalian. Papa terlalu terlena, sampai menjadi lemah dan ambil projects sesuka hati Papa," sambung pak Faris. Ia memang tak mengira jika kerja sama terakhir yang dilakukan dengan nominal yang cukup fantastis akan berakhir seperti ini. ** Di dalam kamarnya, Fajar tak bisa tidur. Mimpi yang dialami di perpustakaan benar-benar membuatnya takut dan risau. Segala pikiran buruk coba ia tepis. Tapi, tetap saja bayangan buruk yang akan terjadi mengganggu sebagian akal sehatnya. "Gimana kalau mimpi itu jadi nyata. Gimana kalau Kayla benar-benar mikir aku udah nggak pantas buat dia," batin Fajar di atas tempat tidur. Fajar merasa semakin tidak nyaman. Karena perasaan dan pikirannya yang kacau. Ia pun hanya berguling-guling saja di atas tempat tidur. "Ahhhh, siallll, aku beneran nggak bisa tidur." Ia pun memutuskan untuk pergi saja ke dapur. Mungkin saja di sana ada mamanya yang sedang membuat teh hangat seperti malam kemarin. Siapa sangka apa yang diduga oleh Fajar benar-benar terjadi. Tepat di depan matanya sang mama sedang sibuk membuat teh hangat di dapur. Ia pun segera menghampirinya. "Aku mau dong Ma, satu cangkir teh hangat," pinta Fajar pada bu Maya. "Ah, Fajar, kamu belum tidur Nak?" tanya bu Maya melihat putranya masih tersadar di jam selarut ini. "Belum Ma. Aku nggak bisa tidur," jawab Fajar sambil mencari tempat duduk untuk menunggu sang mama. "Kamu pasti kepikiran ya? Mama tahu alasan utama kamu nggak mau ngasih kunci motor itu ke papa," ucap bu Maya sambil mengaduk teh hangat yang akan diberikan pada Fajar. "Ehhh …. Jadi Mama tahu?" "Tahu lah, Mama kan pernah muda," jawab bu Maya. Ia kemudian memberikan secangkir teh hangat buatannya pada Fajar. "Sekarang, coba jawab pertanyaan Mama dengan jujur. Apa dia udah tahu kondisi kamu yang sebenarnya?" Fajar mengangkat wajahnya. "Maksudnya Mama sama dia?" "Masak Mama perlu jelasin sih!" goda bu Maya sambil mengedipkan salah satu matanya. Terdengar Fajar membuang nafasnya cukup panjang. "Belum Ma. Kayla belum tahu apa-apa. Aku sampe stres mikirin itu." "Terus kapan kamu mau kasih tahu dia?" "Fuuuh, pengennya setelah selesai acara perpisahan." "Kapan acaranya?" "Sabtu besok Ma. Jadi, tinggal besok aja, aku bisa antar jemput dia. Please Ma, biarin aku bawa motorku dulu ya. Aku mohon!" Bu Maya terlihat sedang berpikir. "Gimana kalau orang suruhan bank cariin kamu di luar. Maksud Mama, mereka jelas tahu mana motor yang akan disita, dan mereka pastinya akan mengejar sampai dapat," jelas bu Maya. "Aku nggak akan pergi kemana-mana. Aku besok cuma jemput dan antar Kayla pulang ke rumahnya. Udah itu aja. Abis itu, aku janji langsung pulang ke rumah," jelas Fajar. Tak lupa juga wajahnya dipasang memelas mungkin untuk merayu mamanya. Bu Maya memutar bola matanya. Ia tak bisa menolak keinginan Fajar. Apalagi ia sudah dirayu dengan wajah seperti itu. "Ya udah, tapi hati-hati. Jangan sampai ada masalah baru. Apalagi sama Kayla yang belum tahu apa-apa," jelas bu Maya. "Siap Ma!" ** Pagi telah menampakkan fajar dengan begitu sempurna. Lukisan merah menyala di langit menyapa Kayla yang baru selesai lari di sekitar rumahnya. Bu Rima sedang menjemur beberapa baju di halaman samping rumah. Ia segera mengingatkan Kayla untuk segera mandi. Jam untuk bersiap sekolah sudah akan dimulai. "Baik Bu, Kayla mau siap-siap." Gadis itu dengan semangat segera masuk ke dalam rumah. Ini akan menjadi hari terakhir dirinya ke sekolah. Esok, ia dan teman-temannya akan melakukan acara perpisahan. Ditatap wajah polosnya di cermin kamar mandi. Dalam beberapa detik, kenangan dirinya saat bersama Fajar datang begitu saja. "Nggak berasa ya, waktu berjalan begitu cepat. Kehidupan yang sebenarnya akan dimulai. Aku janji bakal cari kerjaan buat biaya kuliahku sendiri. Nggak akan merepotkan bapak sama ibu," batin Kayla sambil membasuh tubuhnya dengan air dingin di kamar mandi. "Ahhhh, dinginnya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN