Pura Pura Lupa

1043 Kata
Bu Rima baru selesai menjemur baju.Ia bersiap untuk masuk ke dalam rumah sambil membawa timba yang digunakannya tadi. "Akhirnya selesai juga cucian segunung," batin Bu Rima. Ia pun bermaksud untuk masuk ke dalam rumah. Saat akan menuju pintu yang ada di teras. Betapa terkejut dirinya mendapati ada Fajar berdiri di sana. "Nak Fajar!" tegur Bu Rima. "Pagi Tante," balas Fajar sambil meraih tangan bu Rima untuk mencium punggung tangannya. "Ehhh, Kayla paling masih mandi. Kamu masuk aja dulu!" pinta bu Rima. "Iya Bu." Bu Rima pun mengajak Fajar masuk. Ia langsung duduk di kursi dapur. "Kamu tunggu dulu. Tante, mau nyiapin buat sarapan." "Iya Tante." Dengan santai Fajar menikmati saat terindah dalam hidupnya. Belum tentu besok ia bisa seperti ini. Apalagi jika kabar kebangkrutan keluarganya terdengar di telinga Kayla. Secara bersamaan, Kayla yang baru keluar dari kamar mandi. Membiarkan tubuhnya hanya dibalut dengan handuk. Fajar tanpa sengaja melihatnya. "Fajar! Jangan lihat sini!" teriak Kayla tersadar ada sepasang mata bukan muhrimnya melihat dirinya yang baru selesai mandi. "Ahhhh, sorry, aku nggak sengaja," ucap Fajar yang langsung memalingkan muka. Spontan telapak tangannya juga menutup sepasang matanya sendiri. “Kayla, kamu kebiasaan deh. Selalu cuma pakai handuk kalau keluar kamar mandi. Sekarang cepetan masuk kamar!” perintah ibunya. “Iya Bu!” jawab Kayla dan segera berlalu pergi. “Aku kan nggak tahu kalau Fajar datang sepagi ini,” gumam Kayla yang tanpa sadar terdengar bu Rima. “Cepetan ganti baju sana. Jangan ngedumel.” Bu Rima langsung menekan nada bicaranya. “Iya Buuuuu!” jawab Kayla setengah teriak. Fajar mulai menurunkan telapak tangannya. Ia melihat bu Rima menyiapkan beberapa piring dan sebuah wadah berisi nasi goreng. Dilempar pandangannya ke segala penjuru, sudah tak ada batang hidung Kayla. Ia pun sedikit bisa bernafas lega. "Maafin Fajar ya Tante. Harusnya Fajar datangnya masih nanti," ucap Fajar. "Kamu ngapain minta maaf. Yang salah bukan kamu. Tapi, Kayla. Dikira kamar mandinya di dalam kamar mungkin. Iya kalau rumah nak Fajar, tiap kamar ada kamar mandinya. Iyakan?" ucap Bu Rima yang masih menganggap Fajar anak orang kaya. "Eh, eum, iya Tante," jawab Fajar sambil tersenyum kecut. Rasanya apa yang dibilang Bu Rima akan menjadi bukan miliknya lagi. "Tragis banget hidupku," batin Fajar. Sementara itu, di dalam kamarnya. Kayla sedang mengenakan seragam dan merapikan penampilannya. Ia ingin hari ini tampak istimewa. Apalagi, sepagi ini ia bisa melihat matahari miliknya sudah ada di rumah. "Kenapa pagi-pagi gini Fajar udah datang ya. Aku ngerasa ada yang aneh sama dia," batin Kayla. Ia kini sedang menatap wajahnya di cermin. Sedikit memberi polesan bedak tabur agar tidak terasa kering di pipinya. Diperhatikan lagi wajahnya lebih teliti. "Udah rata bedaknya. Aku mau langsung ke meja makan," gumam Kayla. Ia pun bergegas menuju ke sana. ** Begitu ramai suasana meja makan keluarga pak Setyo. Kehadiran Fajar menambah warna sendiri di saat pagi seperti ini. "Enak banget ya masakannya Tante Rima. Kalah sama masakan chef," celetuk Fajar saat menikmati nasi goreng di piringnya. "Chef? Apa itu chef. Nama kecap ya?" tanya bu Rima yang tidak mengerti. "Ahhh, ibu nggak ngerti artinya chef?" Kayla menatap ibunya tidak percaya. Tampak ibunya menggelengkan kepala berkali-kali. Lalu kembali memakan nasi goreng buatannya. "Bu, chef itu tukang masak" ucap Kayla memberitahu. "Ohhhh, kenapa nggak bilang aja koki," tambah Bu Rima. "Chef itu bahasa kerennya Bu!" "Ihhh, ngomong sama ibu, nggak usah pakai bahasa keren. Bahasa normal aja," sahut bu Rima. Tanpa sadar Fajar mengulum senyum di bibir. Semakin lama senyum itu menjadi tawa yang lepas. Ia seperti menemukan nyawa tambahan dalam hidup. Di saat ada banyak masalah yang menimpa, ia bisa bahagia dengan menghabiskan waktu bersama keluarga Kayla. ** Hari ini, wajah majalah dinding di sekolah Kayla begitu ramai dan berwarna-warni. Ada banyak selebaran yang menempel di sana. Selebaran tentang perguruan tinggi yang membuka penerimaan mahasiswa baru. "Kamu tertarik?" tanya Fajar yang menemani Kayla melihat majalah dinding. "Ya iyalah. Ini kan cita-citaku," jawab Kayla. "Kamu juga ikut kuliah sama aku di kampus yang sama kan?" Mendengar itu, selama sepersekian detik, Fajar terdiam dalam pikirannya yang kacau. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Kayla barusan. Jantungnya mulai berdegup tidak normal. Ada rasa kecewa dan ingin marah. Bagaimana bisa hidupnya bisa berubah 360 derajat. Bahkan untuk kuliah pun, tampaknya akan sulit terpenuhi. Padahal beberapa waktu yang lalu, ia bisa bebas menentukan pilihannya. "Fajarrrrr!" panggil Kayla membuyarkan lamunan. "Ahhhh, iya, kamu tadi bilang apa?" tanya Fajar pura-pura lupa. "Ahhh, lupain aja. Kita masuk dulu yuk. Mungkin ada pengumuman buat pelepasan murid besok di dalam kelas," ucap Kayla sambil menarik lengan Fajar. Fajar masih diam tak berkata apa-apa. Bibirnya keluh tak mampu berucap. "Andai aku memberitahu pada Kayla sekarang tentang keadaanku yang sebenarnya. Apa besok aku masih bisa bersamanya dengan kondisi yang ada di level terendah seperti sekarang. Aku takut kehilanganmu Kay. Tapi, kamu pantas mendapatkan yang terbaik, dan itu kayaknya bukan aku." Fajar kembali dalam pertentangan batinnya. Ia kembali merasa kacau karena keadaanya yang berada di tingkat paling bawah selama hidupnya. ** Suasana kelas begitu tenang dan senyap. Hanya terdengar suara seorang guru yang sedang menjelaskan di depan kelas. Ada beberapa hal yang ingin disampaikan berkaitan acara pelepasan murid besok. tentang urutan acara dan siapa saja tamu penting yang akan datang besok. “Baik, sebelum pertemuan ini saya akhiri. Apa ada pertanyaan dari kalian untuk acara besok?” tanya pak guru sambil memperhatikan para murid di kelas. “Nggak ada Pak!” sahut seluruh penghuni kelas. Tidak terkecuali Lani dan Kayla. “Oke, karena nggak ada yang mengajukan pertanyaan. Saya akhiri sampai di sini, dan saya rasa karena kemungkinan ini adalah pertemuan terakhir kita. Saya selaku wali kelas kalian kalau punya kesalahan, mohon dimaafkan. Jangan sampai ada dendam di antara kita ya!” jelas pk guru lagi. Para murid serempak mengatakan iya, dan tak butuh waktu lama. Kelas sudah sangat ramai usai ditinggal guru wali kelas tersebut. “Eh Kay,” panggil Lani pada Kayla di tengah hiruk pikuk ramainya kelas. “Hemb, ada apa?” tanya Kayla sambil menatap terus ke depan. “Udah ada rencana buat kuliah nggak?” tanya Lani. Kayla terlihat berpikir. Ia masih bingung untuk kuliah di mana. Sementara jurusan yang ingin diambil ada di beberapa fakultas negeri. Namun, keputusannya itu harus didiskusikan terlebih dahulu dengan Fajar. Apa dirinya akan mengambil kuliah di kampus yang sama dengannya. “Kayla kebanyakan mikir ih,” kesal Lani. Kayla merengut. Ia pun mencoba menoleh ke belakang untuk melihat Fajar yang masih ada di bangkunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN