bc

THE FORBIDDEN FLOWER

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
friends to lovers
prince
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
childhood crush
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Leon Wilson adalah putra tunggal keluarga Wilson, keluarga bangsawan paling terpandang di kotanya. Di usia 22 tahun, Leon tumbuh menjadi pria sempurna di mata banyak orang—bertubuh tegap dengan tinggi 192 cm, rambut pirang yang selalu rapi, serta mata biru tajam yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan. Kehidupannya dipenuhi kemewahan, kehormatan, dan aturan keluarga yang tak boleh dilanggar.

Berbeda jauh dengannya, Evelyn Estelle hanyalah gadis sederhana berusia 17 tahun. Rambut cokelat dan mata hangatnya menyimpan banyak kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sejak ibunya jatuh sakit, Evelyn terpaksa menggantikan pekerjaan sang ibu sebagai perawat taman di kediaman megah keluarga Wilson. Di usianya yang masih muda, ia harus membagi waktu antara sekolah tingkat akhir dan bekerja demi mempertahankan hidup mereka berdua.

Dunia mereka seharusnya tidak pernah bersinggungan lebih jauh. Namun semuanya berubah ketika Leon tak sengaja bertemu dengan Evelyn saat berburu burung. Mulai dari sana, takdir seakan mendorong keduanya untuk terus berpapasan. Hingga perlahan, rasa asing dan janggal mulai tumbuh di hati Leon—perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada siapa pun.

Dan tanpa ia sadari, gadis sederhana itu perlahan menjadi satu-satunya hal yang tidak mampu ia lepaskan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Pertemuan di Tengah Hutan
Langit sore tampak keemasan ketika rombongan keluarga Wilson memasuki kawasan hutan bagian utara. Derap kaki kuda terdengar memenuhi jalan setapak yang dipenuhi dedaunan kering, berpadu dengan suara angin musim gugur yang berembus pelan di antara pepohonan tinggi. Leon Wilson berada paling depan. Pria berusia dua puluh dua tahun itu duduk tegak di atas kudanya yang berwarna hitam pekat. Mantel berburu berwarna gelap membungkus tubuh tingginya, membuat sosoknya terlihat semakin gagah dan berwibawa. Rambut pirangnya tertata rapi meski beberapa helai bergerak tertiup angin. Sementara mata birunya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar yang sulit ditebak. Dua pengawal mengikuti di belakangnya sambil membawa perlengkapan berburu. “Yang Mulia ingin menuju area timur?” tanya salah satu pengawal dengan sopan. Leon mengangguk singkat. “Ayah bilang banyak burung pegar muncul di sana.” “Baik, Yang Mulia.” Leon menarik tali kekang kudanya perlahan. Hutan ini memang sering menjadi tempat berburu keluarga Wilson sejak puluhan tahun lalu. Selain luas, kawasan itu juga termasuk wilayah pribadi milik keluarga bangsawan tersebut. Tidak ada warga biasa yang berani masuk tanpa izin. Namun Leon sebenarnya tidak terlalu peduli soal berburu. Ia hanya membutuhkan alasan untuk keluar dari rumah megah keluarganya. Rumah besar itu selalu terasa sesak baginya. Segala hal diatur dengan sempurna. Cara berbicara, cara duduk, cara berpakaian, bahkan wanita seperti apa yang pantas berada di sisinya nanti. Sejak kecil, Leon sudah dibentuk menjadi penerus keluarga Wilson yang sempurna. Dan ia sedikit membencinya. “Yang Mulia terlihat murung hari ini,” ujar salah satu pengawal hati-hati. Leon tersenyum tipis tanpa benar-benar merasa lucu. “Aku hanya lelah.” Ia mempercepat langkah kudanya sedikit, meninggalkan kedua pengawal beberapa meter di belakang. Leon menghirup udara hutan dalam-dalam. Aroma tanah, dedaunan, dan udara dingin terasa jauh lebih menenangkan dibanding aroma parfum mahal di pesta-pesta bangsawan. Tak lama kemudian, Leon menghentikan kudanya. Matanya menangkap pergerakan kecil di balik semak. Seekor burung pegar. Leon turun dari kudanya dengan tenang. Ia mengambil senapan dari salah satu pengawal, lalu berjalan perlahan mendekati arah burung itu berada. Suasana hutan mendadak sunyi. Leon mengangkat senapannya pelan, membidik dengan fokus penuh. Namun tepat sebelum ia menarik pelatuk— Brak! Suara benda jatuh terdengar cukup keras dari arah belakang pohon. Burung pegar itu langsung terbang menjauh. Leon menurunkan senapannya dengan kesal. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Dan saat itulah ia melihat seorang gadis tengah jongkok panik sambil membereskan beberapa pot tanaman kecil yang terjatuh dari keranjang anyamannya. Rambut cokelat panjangnya tergerai berantakan karena angin. Pakaian sederhananya sedikit kotor oleh tanah, sementara kedua tangannya dipenuhi bekas lumpur dan goresan kecil. Ia terlihat sangat berbeda dari wanita-wanita yang biasa Leon temui “Sa-saya minta maaf...” ucap gadis itu gugup. Matanya seolah takut menatap Leon yang berjalan menghampirinya. Leon tak membalas ucapan gadis itu. Pria dengan mantel hitam itu hanya diam memperhatikan. Matanya masih menjelaskan bahwa ia masih kesal dengan kejadian barusan. Biasanya para wanita bangsawan akan langsung tersenyum manis ketika bertemu dengannya. Mereka mencoba terlihat anggun dan sempurna di depan putra keluarga Wilson. Pakaian mereka juga selalu mewah, mutiara yang tak pernah tertinggal selalu menempel di pergelangan tangan ataupun melingkar di d**a mereka. Namun gadis ini berbeda. Ia malah ketakutan, tak mencoba menggoda Leon dengan senyuman. Ia hanya mengenakan wrap dress berwarna merah muda tanpa aksesoris apapun. Rambutnya digerai begitu saja hingga anak rambutnya berantakan menutup matanya. “Karena kau, buruanku kabur,” kata Leon datar. Gadis itu langsung pucat. “M-maaf... saya tidak sengaja, Tuan.” Ia buru-buru menundukkan kepala, tangannya masih memunguti tanaman yang berserakan. Tangannya bergerak cepat, seolah ingin segera pergi dari sana. Leon tidak tahu kenapa, tetapi matanya terus mengikuti setiap gerakan gadis itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya akhirnya. Gadis itu terdiam sesaat sebelum menjawab pelan. “Saya mencari tanah untuk mengisi pot bunga, Tuan.” Leon sedikit mengernyit. “Untuk apa?” "Untuk saya bawa ke taman keluarga Anda.” "Keluargaku?" Evelyn mengangguk kecil tanpa menatap pria yang sangat tinggi di depannya itu. "Saya anak tukang kebun keluarga Anda. Tapi Ibu saya sakit, jadi saya yang menggantikannya." jelas Evelyn. "Kau terus melihat ke bawah. Apa kau melihatku di sana?" Evelyn buru-buru mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya saling beradu beberapa detik. Leon akhirnya bisa memandang wajahnya lebih jelas sekarang. Gadis itu cantik, tapi bukan cantik seperti para wanita bangsawan. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. “Siapa namamu?” tanya Leon. Gadis itu tampak ragu sebelum menjawab. “Evelyn Estelle.” Leon mengangguk pelan. “Kau sudah tau namaku kan?" Evelyn mengangguk kecil, "Ya, Anda Tuan Leon." ucapnya, tatapan mereka kembali bertemu. "Maaf, Tuan." kata Evelyn cepat-cepat menundukkan kepalanya lagi. “Maaf karena sudah mengganggu perburuan Anda.” Leon sedikit heran melihat reaksinya. Biasanya orang-orang justru berusaha mendekatinya ketika tahu identitasnya. Namun Evelyn terlihat semakin gugup. “Kau tinggal di sekitar sini?” tanya Leon lagi. Evelyn mengangguk. “Rumah saya di dekat perkebunan utara.” Leon mengenal daerah itu. Tempat tinggal rakyat biasa. “Siapa nama Ibumu?” Evelyn menggigit bibir pelan. Seolah takut menjawab. "Emma.” Leon mengingat beberapa tukang kebun yang bekerja di rumahnya, tetapi ia tidak pernah benar-benar memperhatikan mereka. “Ibumu yang merawat taman mawar?” Evelyn tampak sedikit terkejut. “Iya.” Leon terdiam beberapa detik. Taman mawar belakang memang selalu terlihat paling indah dibanding taman lainnya. “Saya menggantikan pekerjaan Ibu sementara beliau sakit,” lanjut Evelyn pelan. Nada suaranya terdengar tenang, tetapi Leon bisa melihat kelelahan di matanya. Angin kembali berembus pelan melewati mereka. Hutan sore terasa semakin dingin, tetapi Leon justru merasa anehnya nyaman berdiri di sana bersama Evelyn. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia berbicara dengan seseorang tanpa memikirkan status atau aturan keluarga. “Kau masih sekolah?” tanya Leon tiba-tiba. Evelyn mengangguk kecil. “Tingkat akhir.” “Kau bekerja sepulang sekolah?” "Benar, Tuan.” Leon memandang gadis itu cukup lama hingga Evelyn mulai merasa tidak nyaman. "Jangan sampai kebun mawar yang indah itu jadi rusak karena kau yang merawatnya." kata Leon. "Dan jangan pernah mengganggu perburuanku lagi kedepannya. Leon langsung berjalan menuju kuda hitamnya. Ia langsung pergi menjauh bersama dua pengawalnya, meninggalkan Evelyn yang langsung menghela napas lega. **** "Ev, apa obat Ibu masih banyak?" Evelyn yang sibuk merajut di teras rumah langsung menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat keluar dari dalam rumah. "Sepertinya sisa sedikit. Tapi Ev akan menjual rajut ke pasar besok. Uangnya akan Ev belikan obat untuk Ibu." "Jangan. Simpan saja uangnya untuk keperluan kuliah nanti, justru Ibu ingin kau berhenti beli obat. Obat hanya membuang-buang uang, keadaan Ibu sama sekali tidak membaik." Evelyn terdiam. Jari-jarinya yang tadi lincah kini berhenti di tengah rajut tas yang belum selesai. Matanya menatap wajah ibunya—wajah yang semakin hari semakin kehilangan warna. “Bu…” suaranya pelan, hampir tenggelam oleh angin sore. Wanita itu tersenyum tipis, ia mengelus puncak kepala Evelyn. "Di kehidupan kedua nanti, Ibu akan cari Ayah yang baik untukmu. Agar kita bisa hidup berkecukupan. Ibu minta maaf karena sudah memberimu hidup yang seperti ini."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
12.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.6K
bc

Kali kedua

read
222.4K
bc

TERNODA

read
202.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook