(31) Mencari Fajar

1772 Kata
Dengan uang yang ditinggalkan Suarez, Raa membeli banyak sekali minuman ringan dan makanan instan untuk dimasak di kamar hotel. Pedro dan Kefas yang sepanjang siang ditinggal untuk menjaga ruangan juga mendapat jatah beberapa cokelat serta keripik. "Emangnya kita habis, makan sebanyak ini?" Pedro bertanya. Mulutnya penuh dan ia berusaha untuk bicara sambil terus mengunyah. Raa mengendikkan bahu. "Biar saja. Sudah beberapa hari kita jadi pengamen, sekarang waktunya kita foya-foya sedikit." "Lo masih sebal sama Suarez, ya?" "Iyalah," ucap Raa. "Mumpung di sini, gue abisin aja uang yang dia kasih!" Mereka bertiga merubung dekat kasur Kefas, karena teman mereka yang satu itu masih belum bisa banyak bergerak. Televisi dinyalakan. Raa membuka beberapa kripik dan cokelat kemudian memakannya sembari menonton. "Kita mau ngapain lagi ya, habis ini?" "Begini-begini aja," Raa menjawab pertanyaan Pedro. "Bosen." Raa mengendikkan bahunya. Apa lagi yang mereka mau lakukan? Suarez dan Ayahnya di luar sana sedang sibuk dengan urusan 'rahasia' mereka, dan Raa terjebak di sini tanpa mengetahui apapun. "Tangan lo udah enakan, Kefas?" "Sekarang rasanya pegel banget karena gak bisa digerakin sama-sekali." "Di-gips, yah?" Pedro bertanya, yang dijawab anggukan oleh Kefas. "Maaf, ya, gue gak tahu sama sekali—" "Udah, gapapa Raa," Kefas menyela ucapan Raa. "Kita semua gak ada yang tahu kalau ujungnya bakal jadi kayak gini." "Tapi gue gak terima banget." "Gak terima?" "Kalian tahu gak sih, rasanya kita tuh cuma dipake buat umpan. Begitu ketemu Wira Nagara, Ayah gak peduli. Suarez gak peduli. Kita ditelantarin kayak begini. Sekarang bukan lo doang yang kena peluru, tapi Keno sama Fajar juga. Gue gak tahu mereka dimana... hiks, gue gak tahu mereka masih hidup apa enggak...." "Raa..." "Gue ngerasa bersalah sama mereka, Hiks," Raa mulai menangis tersedu-sedu. Kefas dan Pedro menatap gadis itu dengan pandangan sedih yang tak bisa disembunyikan. Mereka semua sama frustasinya. "Gue sama Fajar ... udah kenal lama. Dia yang banyak dengerin gue waktu gue stress, dia yang nemenin gue waktu gue habis dimarahin Ayah. Sekarang gue gak tau dia dimana, hiks." "Mungkin dia juga udah diobatin," Kefas berusaha memberi pendapat yang dapat menenangkan Raa. "Kayak gue." Air mata masih keluar dari mata Raa. Ia berkata, "Gak, gue tahu dia cuma ditinggalin begitu aja kemaren sama tiga orang ninja yang ngejemput kita." Pedro sedikit nyengir ketika Raa berkata mengenai ninja. Memangnya ini tahun berapa? "Dia sama Keno ditembak, entah dimana, dan kayaknya lebih parah dari lo, Kefas. Mereka mungkin pingsan dan kehabisan darah di sana tanpa ada yang menolong. Orang-orang lain juga gak ada yang tahu dimana Wira Nagara tinggal, jadi mereka gak akan bisa menolong Kefas maupun Fajar. Mereka dimana ... hiks, hiks. Gue jahat banget, ya...." "Jangan ngomong gitu ah, Raa. Kan lo juga gak tahu." "Tapi 'kan gue yang punya ide supaya kita nyamar. Gue yang bikin mereka percaya kalau kita dateng tanpa maksud apa-apa. Gue jahat banget, huaaa!" Baru kali ini, Kefas dan Pedro melihat Raa sebegitu emosional. Mereka berdua sangat jarang melihat Raa menangis. Bahkan saat sedih, gadis itu sangat pandai menyembunyikannya. Baru kali ini mereka merasakan sisi kewanitaan Raa yang lembut dan mudah tersentuh. Dan karena ini adalah kali pertama buat mereka, mereka juga tidak tahu harus melakukan apa. "Hmm, gimana, ya..." Pedro bergumam. "Lo mau ketemu Fajar ... ?" Kefas bertanya ragu-ragu. Raa mengangguk sembari sesenggukan. "Gue mau ketemu dia, kalau bisa ... sebelum dia sekarat. Huaaaa!" Kefas melirik Pedro. Keduanya sama sekali tak punya ide bagaimana menemukan Fajar Nagara. Laki-laki itu bisa beraa dimana saja! Namun, kalau itu bisa membuat Raa kembali senang dan berhenti menangis, mereka akan melakukannya. "Yaudah, yaudah, kita cari yuk," Pedro berkata. "Daripada bosen gak ngapa-ngapain di sini." Raa mengelap ingus-nya. "Beneran?" Kefas mengangguk. "Iya, ntar kita bantuin supaya ketemu. Gimana? Tapi jangan sedih lagi, Raa." "Huhuhu... Kalau udah ketemu, baru gue berhenti nangis." "Yah, susah banget, dong," Pedro bergumam. "Lo mau nangis sampe besok?" "Huaaaa.... Pedro, lo jahat banget! Lo tega ngeliat gue nangis sampe besok?" "Yaudah, yaudah, gue cari deh. Pedro, lo bantuin gue, ya," Kefas berkata. "Bantuin apa?" "Bantuin ngetik. Tangan gue kan gak bisa ngapa-ngapain!" Kedua bersahabat itu kini ribut bekerja-sama mencari jejak Fajar. Mereka menemukan ipad yang ditinggalkan Suarez dan menggunakan gawai itu untuk mencari informasi. Pedro bertugas mengetik, sedangkan Kefas-lah yang memberi perintah dengan mulut. "Pencet yang itu, yang itu." "Yang ini?" "BUKAN! Duh, yah, back dulu, back Nah. pencet yang warna biru itu, lho!" "Yang ini?" "Kita kan mau log in, Pedrooo. Pencet yang warna biru, yang tulisannya log in. Bukan sign in!" "Aduh, gimana sih! Susah amat. Lo ketik sendiri, deh!' Raa nyengir mendengar kedua temannya kerepotan seperti itu. Ia sendiri tahu, menemukan Fajar dengan gawai adalah upaya yang hampir mustahil dilakukan. Selain karena kejadian itu baru saja terjadi tadi malam, kegiatan mereka juga dilakukan secara sangat rahasia. Suarez adalah seorang ahli, ditambah dengan kemampuan Ayahnya menyusun strategi. Ia hanya berharap, mungkin ada sedikit keajaiban yang bisa dilakukan mereka berdua. Ia masih berusaha mengatur emosinya agar tidak meledak-ledak seperti tadi. Walau ia sudah tidak menangis, Raa masih sedih membayangkan keadaan Fajar dan Keno sekarang. Ia tahu Kefas bisa sembuh lebih cepat akibat penanganan medis yang cepat dan tepat, dan karena ia dirawat di hotel berbintang lima ini selama beberapa hari bersama beberapa teman. Namun bagaimana dengan Fajar? Apakah laki-laki itu bisa sembuh? Separah apakah penyakitnya? Raa memilih menghabiskan sore itu dengan menonton film-film series di televisi besar yang terpasang di kamar mereka. Ia juga membuat mi gelas instan dengan pemanas air yang telah disediakan dan memberikan kepada Kefas dan Pedro masing-masing segelas untuk camilan. Kedua laki-laki itu hanya mengangguk dan meletakkan mi gelas mereka. Mereka sedang sibuk! Raa duduk lagi dan menonton televisi. Ia tidak sadar, waktu berjalan begitu cepat. Adzan maghrib terdengar. Langit mulai gelap. "Udah malem," Raa bergumam. "Dan seharian ini gue gak ngapa-ngapain." "Udah ketemu nih, Raa." "Hah?" Raa menoleh, terkejut. Ia tidak yakin dengan apa yang ia dengar barusan. "Udah ketemu?" "Iya." "Hah?!" Raa segera menghampiri kedua temannya itu. Mereka menunjukkan layar ipad yang sedang membuka laman sebuah berita lokal, Yogyakarta News. Raa membaca situs itu. 'Dua orang laki-laki ditemukan pingsan bersimbah darah di sebuah jalan kecil. Menurut dugaan sementara polisi, mereka berdua adalah korban p********n motor lantaran tidak ada kendaraan bermotor yang ditemukan di sekitar tempat kejadian. Saat ini, keduanya sedang dalam proses penyelidikan dan pemulihan di Rumah Sakit Polri, Yogyakarta.' Mata Raa melotot, menatap Kefas dan Pedro. "Lo yakin ini Fajar?" "Tuh, ada fotonya. Perhatiin bajunya, deh." Raa menatap situs tadi. Ternyata, di bawah tayangan berita itu, ada foto korban yang di-blur. Gambarnya tidak jelas dan tampak diambil dari jauh, namun Raa dapat memperkirakan warna baju yang dikenakan korban sama dengan warna baju Fajar dan Keno kemarin malam. "Iya.... Ini Fajar, dan ini Kefas...." Raa bicara dengan terbata-bata. "Keren gak, gue," ujar Pedro. "Beritanya gak masuk koran nasional, cuma ada di laman ini aja." "Keren banget, Pedro..." Raa masih belum dapat menguasai dirinya dari keterkejutan itu. Ia tidak menyangka, teman-temannya mendapat ide untuk mencari informasi di kanal berita lokal. Ia sendiri bahkan tidak mampu berpikir jernih seperti itu. "Kefas, makasih ya...." "Iya, Raa, no problem." "GILA! Kalian keren banget! Oke deh kalo gitu, gue siap-siap dulu ya!" Kefas dan Pedro menatap gadis itu terheran-heran. Matanya tadi berkaca-kaca, seakan hendak menangis, namun tiba-tiba ia lari secepat kilat ke kamar mandi sambil membawa tas pakaian yang ditinggalkan Suarez. Ia sibuk berkedebak-kedebuk (alias berisik dan banyak gerak) di dalam kamar mandi itu, dan mereka berdua hanya bisa menunggu. Lima menit kemudian, Raa keluar dari kamar mandi. Pakaiannya sangat berbeda dengan pakaiannya tadi. Kalau sebelumnya ia hanya menggunakan baju tidur berlengan panjang dan celana panjang, kini ia tampak necis dengan celana jins hitam dan kemejanya. Kefas dan Pedro semakin terheran-heran. "Kok lo malah ganti baju?" "Hmm?" Raa bertanya sambil menguncir rambutnya menjadi satu kunciran ekor kuda yang rapih. "Gue mau nyamperin Fajar." "Nyamperin Fajar?" "Iyaaa, Pedro. Mau nyamperin Fajar. Kan gue udah janji, kalau kalian ketemu lokasinya, gue gak bakal nangis lagi. Gue buktiin, nih. Gue gak nangis lagi. Gue mau langsung ke sana aja ketemuin dia." "Tapi lo mau ngapain Raa ke sana?" Kefas berkata. "Duh, udah malem." "Ah, biasanya juga kita nugas malem, kan. Gue mau minta maaf, gue mau bilang kalo gue yang salah, dan gue mau bantu sebisa gue. Kayak lo, Kefas, gue bakal pastiin dia dirawat dengan baik." "Raa..." "Kenapaaa, Pedro?" "Lo mau pergi sendiri?" "Kalian gak mau ikut?" "Kefas..." Pedro menatap Kefas dengan pandangan kasihan. Raa baru sadar. Ia lupa kalau teman-temannya tidak bisa sembarangan pergi karena Kefas masih dalam masa pemulihan. Ia tidak mungkin ditinggalkan sendiri. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata, "Gue juga pernah kok, tugas sendirian. Tenang aja. Nanti kalian gue kabarin." Kefas dan Pedro terdiam. Mereka berdua masih tidak ikhlas melepas Raa pergi sendirian di situasi seperti ini. Akhirnya, Kefas angkat bicara. "Raa, gue bukannya gak mau lo pergi. Gue tahu niat lo baik. Gue tahu lo mau minta maaf dan bantu Fajar. Tapi..." "Tapi apa? Plis, Kefas, gue harus banget ke sana, supaya gue gak kepikiran terus." "Tapi belom tentu semuanya sama kayak yang lo kira. Lo udah pikirin perasaan mereka berdua? Menurut lo, apa mereka gak langsung curiga dan nolak lo mentah-mentah? Mereka punya komunitas, Raa, dan bisa jadi sekarang semuanya lagi nyari-nyari lo buat balas dendam." Raa terdiam. Ia kini duduk di lantai hotel, memandangi kakinya yang sudah siap dikenakan sepatu. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab Kefas. Laki-laki itu bicara lagi. "Lagian, Raa, menurut lo kenapa Suarez bikin kita nginep di sini? Dia gak mau kita dilacak. Orang-orang yang bales dendam bisa ngikutin jejak mobil kemarin, bisa nyari ke beberapa rumah sakit, bahkan bisa ke Jakarta dan menelusuri asal kita. Namun, di hotel mahal seperti ini, privasi kita terjaga. Gue yakin Suarez sudah memilih tempat yang terbaik untuk kita agar tidak berbahaya." "Kefas..." "Raa, gue tahu maksud lo baik. Coba sekarang lo pikirin langkah apa yang tepat. Gue gak bakal nahan lo." Selama beberapa menit, Raa terdiam. Ia gelisah membolak-balik sepatunya, dipandangi oleh Pedro dan Kefas. Kedua laki-laki itu jelas tidak rela melepas dirinya pergi. Mereka berdua tidak dapat menemani dan bahayanya terlalu besar. Ada banyak resiko dalam perjalanan ini. Raa akhirnya menjawab. "Makasih ya, Pedro. Gue baru mikir yang lo bilang tadi." "Iya, Raa—" "—tapi gue juga yakin, kalau Fajar tahu gue gak bersalah. Gue masih mau temenan sama dia, Kefas, Pedro. Gue mau bantu dia. Sorry banget, gue minta maaf, tapi kali ini gue mau ambil resikonya." Raa memasukkan kakinya ke dalam sepatu, kemudian berdiri. "Gue gak bawa handphone karena masih di-charge setelah kemarin seharian dipake, tapi gue gak bakal pulang lama-lama. Kalau besok siang gue gak ada kabar sama sekali, tolong cari gue yah. Makasih, guys!" Raa berlari keluar kamar dengan tangan kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN