Raa membuka matanya. Sinar matahari menyinari matanya begitu terik sampai ia merasa silau di dalam tidur. Saat ia mengedip-ngedipkan mata, ia merasa tidak mengenal tempat dimana ia bangun.
Raa segera duduk. Nalurinya merasa ada yang tidak beres. Ia ternyata berada di sebuah kamar hotel mewah dengan tiga tempat tidur. Di sebelah kanannya, Pedro tertidur nyenyak di ranjang yang nyaman sambil menyelimuti diri dengan selimut putih tebal. Kemudian, di sebelah kirinya, ada Kefas yang tangannya dibebat perban. Ia juga sudah bangun, namun masih mengerjap-ngerjapkan matanya dalam posisi berbaring.
Ternyata, semalaman ini, Raa tidur satu kamar dengan dua laki-laki. Ia mengembuskan napas sebal. "Kita dimana?" Raa bertanya setengah berbisik kepada Kefas.
"Gak tahu, Raa... gue baru bangun."
Raa berdiri, memperhatikan seisi ruangan itu. Ada tiga buah tas besar yang tampaknya berisi pakaian-pakaian mereka. Raa membuka tas yang berada paling dekat dengan ranjangnya dan menemukan ponsel serta beberapa keperluan mandi lainnya.
"Sudah disiapkan," gumamnya. "Sepertinya Suarez sengaja menempatkan kita di sini."
"Ini masih ada di Yogyakarta," Kefas menambahkan. Napasnya yang terdengar ngos-ngosan ketika berbicara membuat Raa menoleh.
"Kok lo gitu?"
"Apanya?"
"Napasnya," Raa berjalan mendekati Kefas. Ia khawatir dengan keadaan temannya itu, terutama setelah ia ingat bahwa semalam ia baru saja terkena tembakan peluru di tangan.
"Gak apa-apa, Raa. Cuma masih nyeri ... sedikit."
Raa mengobservasi tangan Kefas yang telah diperban rapat. Tampaknya ia sudah mendapat penanganan profesional kemarin sementara mereka semua tidak ada yang menyadarinya. Laki-laki itu masih berbaring, mungkin tidak terbiasa dengan rasa sakit akibat terkena tembakan peluru.
"Raa, raa. Bangunin si Pedro, dong. Kok dia belum bangun, ya."
Mereka berdua menatap Pedro. Ia tampak sedang asik sekali bermimpi. Raa memanggil. "Pedro, pedro, ayo bangun. PEDRO!"
Pedro terduduk, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. "Duh, jam berapa ini?"
Raa menoleh, menatap jam yang tergantung di ruangan itu. "Sekitar jam sebelas, kalau jam itu tidak salah. Ini sepertinya hotel yang ada di pusat kota Yogyakarta. Gue gak tahu kenapa Suarez membiarkan kita di sini semalaman."
"Enak banget tidurnyaaaaaaa," Pedro berkata, kemudian ia menguap. "Boleh tidur lagi?"
"JANGAN!" Kali ini Pedro yang menjawab. "Temenin gue! Gak kasian sama gue?"
"Eh, lo kenapa, Kef?"
"Dia kemarin cidera, terkena tembakan peluru nyasar di tangan. Untungnya sudah diobatin."
"Peluru nyasar? Emang, peluru itu harusnya buat ... siapa?" Pedro bertanya lagi, lugu.
Raa terdiam. Itulah yang menghantui pikirannya. Ia tidak menyangka, Suarez akan mengambil tindakan sejauh itu. Ia sendiri tidak tahu bagaimana perkembangan misi mereka sekarang. Kefas menyadari kecanggungan itu juga hanya dapat diam. Ia tidak pernah berminat melibatkan dirinya dalam sebuah misi berbahaya, dan sepanjang pengetahuannya, tugas yang ia jalani bersama teman-temannya ini tidak mengandung bahaya sedikitpun.
"Kita mandi dulu atau gimana, nih?" Pedro bertanya. Ia bangun dari kasurnya dan memperhatikan seluruh ruangan, menggerak-gerakkan tubuh seperti seorang yang sedang berolahraga.
"Kita telpon Suarez saja dulu," ucap Kefas. "Aku ingin tahu kabar terbaru darinya."
Raa mengangguk. Ia membuka telepon genggam yang ditinggalkan Suarez dan mengetikkan nomor yang sudah ia hapal di luar kepala.
Nomor Suarez.
Nada dering terdengar. Bersamaan dengan itu, Pedro keluar dari kamar mandi. Ia mendengar nada deirng dari telpon yang Raa pegang dan bicara tanpa suara.
"Nelpon siapa?"
Kefas menjawab dengan bisik-bisik yang sama. "Suarez."
Pedro mengangguk-angguk, ikut duduk di kasur Kefas dan memperhatikan tangannya yang dibebat perban.
Sebuah suara terdengar menjawab telpon Raa. "Halo, Raa."
"Suarez!"
"Apa yang terjadi dengan tangan Kefas? Apa perbannya perlu diganti?"
Raa menoleh. Pedro menyela bicaranya dengan bertanya mengenai lengan Kefas. Ia sebal, namun tidak berkata apa-apa.
Suarez, di ujung sana, menjawab. "Hei, hei, hei. Tahan dulu pertanyannya. Kefas, apa semuanya oke?"
"Oke, Suarez. Hanya terasa agak nyeri dan badanku kaku semua."
"Itu akibat biusnya. Berbaring saja dulu sampai kau merasa enakan."
"Apa yang kau lakukan padanya?" Raa protes. Ia bicara dengan cepat. "Aku tidak pernah bilang soal penembakan sebelumnya, apalagi sampai beresiko melukai teman-temanku. Kau bertindak di bawah perintah siapa? Bukankah aku pemimpinnya?"
"Sejak mula, begitulah rencananya, Raa."
"Rencana apa?! Bukankah kita hanya akan menangkapnya saja?"
Terdengar suara decakan Suarez di ujung sana. "Kau tidak mengerti, Raa. Beginilah yang kita lakukan sejak dulu, menangkap dan mengeksekusi orang-orang yang tidak pernah mau mengikuti arahan negara."
"Mengeksekusi ... ?" Pedro berbisik. Ia merinding. Raa ikut melongo mendengarnya.
"Siapa kita yang kau maksud?!"
"Kita, Raa," sebuah suara lain menjawab dengan suara rendah di latar belakang. Raa mendengar ayahnya bicara di belakang Suarez. "Kau, aku, Suarez, dan banyak orang lain yang bergerak sebagai pion dalam tugas penting ini. Itu adalah tugas kita."
"Tapi mengapa—?"
"Karena ia meresahkan negara kita, Raa, dan banyak orang ingin sekali mengenyahkannya. Kita hanya kaki tangan yang penurut yang melaksanakan kehendak mereka itu."
"Tapi tenang saja, Raa," Suarez menambahkan lagi. "Tanganmu bersih. Peluru-peluru kemarin tidak membawa korban jiwa. Tujuannya hanya melumpuhkan kedua orang yang menyertai kalian serta Wira Nagara, kalau-kalau ia melawan. Ternyata satu peluru malah nyasar ke lengan Suarez, dan untuk itu aku minta maaf."
"Wira Nagara, dimana dia?" Raa bertanya. Sebetulnya, di benaknya kini ada lebih banyak pertanyaan. Mengenai Fajar, mengenai Keno, dan mengenai Wira Nagara, yang baru semalam ia lihat berdiri tegap di depan matanya ...
Suara Suarez yang dingin menjawab pertanyaan Raa. "Saat ini, Wira Nagara sudah ditahan dan berada di sebuah rumah isolasi milik kita yang ada di pinggiran Jakarta. Tenang, Raa, ia sehat dan luar biasa segar saat aku tangkap kemarin."
"Kau membiusnya!" Raa berteriak. Emosi memenuhi rongga dadanya, dan apabila ia dapat melihat Suarez, ia pasti sudah menonjok laki-laki itu tepat di wajah. "Aku melihat kau membiusnya!"
"Ya, itu alternatif yang lebih baik daripada menembaknya, bukan?"
Raa emosi. Ia terdiam dengan pandangan gambang sembari merenungkan segala yang dikatakan Suarez. Menyadari hal itu, Kefas mengambil alih panggilan telepon dan berkata pada Suarez. "Suarez, mengapa kau tempatkan kami di sini?"
"Ah, ya, soal itu," Suarez berdehem. "Sebaiknya kau mengistirahatkan diri di sana sampai enakan, Kefas. Dan untuk Raa dan Pedro, silakan berlibur dua sampai tiga hari, kemudian kalian akan ku jemput kembali ke Jakarta."
"Dua sampai tiga hari?" Pedro bertanya.
"Ya. Kalau ada sesuatu yang kalian butuhkan, silakan telpon aku atau gunakan saja semua yang sudah kutinggalkan di situ. Ku rasa semuanya cukup."
"Dia hanya tidak ingin kita ikut campur," Raa bergumam kecil, "setelah semua yang kita lakukan...."
Kefas dan Pedro terdiam. Mereka ikut merasakan kesedihan dan kegamangan yang dirasakan Raa.
"Halo? Baik, kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, izinkan aku kembali bekerja."
Tut. Telepon dimatikan. Raa masih memasang wajah frustasi dan kini ia berjalan mondar-mandir di kamar hotel itu. Pedro sibuk mengalihkan perhatiannya dari Raa dengan membantu Kefas duduk di posisi yang nyaman.
Jendela kamar terbuka lebar, menunjukkan kondisi jalan raya yang ramai di luar sana. Kendaraan lalu-lalang seakan-akan tidak ada kejadian buruk yang baru saja terjadi. Raa merenungi mengenai kehidupan semua orang di luar sana, yang sedang sibuk bekerja atau berdagang, tanpa mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi di balik bayangan.
Tiba-tiba, sebuah mobil ambulans lewat. Sirinenya terdengar kencang sampai ke kamar hotel itu, dan lampu sorotnya yang terang-benderang membuat seluruh kendaraan lain menyingkir.
Raa tidak dapat melihat siapa yang ada di dalam, namun suara ambulans itu langsung mengingatkannya pada sesuatu.
"Apa yang terjadi pada Fajar?" Ia berkata terbata-bata. "Apa yang terjadi pada Keno?"
"Apa yang sudah kita lakukan, Kefas, Pedro?!"
Teman-temannya memperhatikan Raa ketika ia menyumpal teriakannya sendiri dengan bantal. Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Matahari cerah berada tinggi di cakrawala, namun Raa menangis dengan sendu di kamar hotelnya.