(26) Menuju Cijantung!

1842 Kata
Tiga orang "musisi jalanan" memasuki stasiun kereta api sambil menenteng gitar dan krecekan (semacam alat musik ritmis yang terbuat dari botol berisi gelas atau papan yang ditempeli bekas tutup botol agar bersuara nyaring). Mereka bertiga berpakaian lusuh dan sederhana. Wajah-wajah mereka kotor terkena debu dan oli, yang sedikit membuat orang-orang menatap dengan aneh, namun dengan percaya diri mereka terus melangkah masuk. Langkah mereka itu dihentikan oleh seorang petugas satpam yang sedang berjaga di sana. Sebelum sampai ke depan konter untuk membeli tiket, ketiga "musisi jalanan" itu sudah lebih dahulu diamankan. "Maaf ya, Adek-Adek, tapi pengamen gak boleh naik kereta," Satpam itu berusaha menjelaskan perlahan-lahan sembari tersenyum. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan gestur kasar atau memarahi, karena kadang-kadang pengamen seperti ini bisa bertingkah menyebalkan kalau keinginannya tidak dituruti. Beberapa waktu lalu, rekannya pernah dipukuli sepulang kerja oleh sekawanan pengamen yang pernah dilarang naik kereta. Padahal kejadiannya sudah lama! Berita itu menyebar dan membuat ciut satpam-satpam stasiun, tapi mau tidak mau mereka harus melakukan tugasnya. Kecuali, tentu saja, kalau ada pelicin yang pas. "Kenapa gak boleh, Pak?" Seorang musisi jalanan yang berbadan jangkung bertanya. Satpam itu menjelaskan, "karena kalau ada yang ngamen di kereta, walah, jadi rame toh, Dik. Padahal orang-orang sedang pingin cepet, kasihan yang ngantri jadi gak kebagian tempat." "Kita kan cuma berempat Pak, beli tiket juga, kok. Gak bodong!" "Ya, Dik, tapi kalau kamu ngamen di kereta, nanti kasihan penumpangnya yang mau denger pengumuman. Jadi gak kedengeran karena lagu-lagumu! Nanti banyak yang kelewatan stasiun atau gak perhatiin peringatan keselamatan, lagi." "Kami gak ngamen di kereta kok, Pak! Kami cuma mau naik, nanti ngamennya waktu nyampe aja!" "Ah, Dik," satpam itu mencari alasan lain yang bisa dipakai, kemudian teringat, "kamu tahu, Ndak, ada banyak penjahat, perampok, pencuri, suka pura-pura jadi pengamen lalu beraksi di dalam kereta. Kalau kereta sudah jalan, kan, kami-kami ini yang di stasiun gak bisa berbuat banyak. Nanti kalau Adik naik, takutnya malah dijauhin sama penumpang lain, disindir-sindir, atau diusir sama sekali karena takut. Nggak mau kan kejadian seperti itu?" Sejenak, tidak ada jawaban. Orang yang tadi beradu-pendapat dengannya sepertinya sudah kehabisan argumen. Satpam itu tersenyum senang. Dalam hati, ia merasa bangga dengan kemampuannya merayu musisi jalanan ini. Mereka luluh! Namun, tidak disangka-sangka, seorang yang paling mungil di antara mereka menjulurkan tangannya dan menunjukkan lima lembar uang seratus ribuan. "Saya beli tiketnya empat, sisanya buat Bapak saja, tidak apa-apa, kan?" Katanya. Kini, ganti satpam itu yang melongo. Aduh! Uang yang disodorkannya banyak sekali. Harga tiket yang tidak seberapa itu pasti masih menyisakan jumlah yang cukup untuk membayar uang sekolah anaknya dan membeli popok. Satpam itu menimbang-nimbang dalam hati. Ia teringat celetukan istrinya tadi pagi yang minta tambahan uang belanja karena anak mereka sudah semakin besar. Ia ingat juga keinginannnya membeli makanan yang agak mahal, karena bosan makan telor dan ikan asin setiap hari. Semakin dipikirkan, godaannya semakin besar, sehingga ia lama-lama tak tahan untuk membiarkan uang sebanyak itu hangus dari genggamannya. Maka, dengan pelicin itu, berhasillah urusan pengamen-pengamen licik ini. Satpam itu menghembuskan napasnya pelan seakan-akan kecewa dengan dirinya sendiri, kemudian berkata, "Dik, saya belikan dulu tiketnya. Tapi kalian atur supaya gitar itu tidak terlihat oleh pengunjung yang lain." "Ya, Pak." "Kemana tujuannya?" "Cijantung." Satpam itu pergi meninggalkan mereka bertiga. Sejenak, tiga orang itu berpandang-pandangan, kemudian Pedro berkata, "Raa, gila lo!" "Lah, kok gila?" "Gue udah ngomong panjang-lebar, ternyata lo yang bisa bikin dia ciut!" Raa tersenyum kecil. "Ah, lo gak tau aja cara mainnya." "Tapi ini gimana cara ngumpetin gitarnya, ya?" Kefas bertanya. Pedro mengerling kepadanya, lalu menjawab sinis. "Makan aja tuh gitar! Gara-gara lo, kita hampir aja gak dikasih naik kereta." "Lahh, kok gue? Kan kita semua lagi jadi pengamen ini!" "Sssstttttt!" Raa memarahi teman-temannya. Akting mereka sangat tidak natural. Baru beberapa menit berlalu sejak pagi, mereka sudah berkali-kali menyebutkan kalau mereka sedang 'jadi pengamen'. Padahal seharusnya mereka tidak perlu mengatakannya. Itu menimbulkan kecurigaan. Raa berpikir sejenak bagaimana membawa gitar itu tanpa terlihat, namun rasanya mustahil karena gitar itu sangat besar dan berat. Teman-temannya juga tidak punya rencana. Ia akhirnya mengangkat telpon dan menghubungi sebuah nomor yang sudah sangat dikenalnya. "Halo, Suarez. Kami berhasil naik kereta, namun gitar Kefas terpaksa ditinggal di depan stasiun. Apakah kau bisa mengaturnya agar nanti bisa kami gunakan di sana? Oke, baik. Terima kasih." Telepon dimatikan. Raa tersenyum dengan penuh kemenangan. Ia membawa gitar Kefas dan meletakkannya di pintu depan stasiun. "Itu ... gak apa-apa ditaruh di situ?" "Gak apa-apa." "Kalau ada yang ambil gimana? Nanti dikira barang rongsok, lagi... Atau, kalau ada yang curi, gimana? Takutnya—" "Ssssttt, nanti diatur Suarez. Ia bilang taruh saja di situ, akan ada orang yang mengambil dan membawakannya untuk kita. Percaya saja padanya," tegas Raa. Setelah itu, mereka tidak banyak bicara lagi. Raa memperhatikan teman-temannya yang sudah sangat mirip pengamen jalanan itu bergerak-gerak gelisah sembari menunggu Satpam tadi kembali. Mereka belum pernah ikut dalam misi penyamaran seperti ini. Raa yang sudah terbiasa jadi lebih luwes dan tentu saja bersemangat, karena kini semua terkendali. Ia punya rencana! Satpam itu datang lagi. Di tangannya, terlihat ada tiga lembar tiket kereta api yang baru saja dipesan. Sisa uangnya entah diletakkan dimana. Ia menyerahkan ketiga tiket itu kepada Raa, kemudian berkata lagi dengan nada suara berbisik, "Tolong jangan terlalu menarik perhatian. Gitarnya sudah diurus?" "Ya, Pak. Tidak jadi kami bawa. Itu ditinggal di sana." Satpam itu melihat gitar yang diletakkan begitu saja di pintu stasiun dan mengerutkan alisnya. Ia berpikir, gitar itu kan barang mahal. Masa mereka meletakkannya begitu saja di pintu stasiun, seakan-akan tidak membutuhkannya lagi? Bisa-bisa, saat mereka kembali, gitar itu sudah raib diambil orang. Namun, ia tidak mau memperpanjang masalah. Begitu semua sudah beres, satpam itu meninggalkan kelompok pengamen itu dan pura-pura tidak melihat mereka masuk ke peron. Ia bergerak untuk menghampiri pengamen lain dan menahan gerak mereka. "Kita berhasil!" Pedro berkata ketika mereka sampai di peron. "Kita berhasil. Kita berhasil. Kitaaa berhasiiilll~" "Sssssttt!" Raa berbisik lagi. "Aduuh, aku sangat semangat tapi juga sangat nervous. Berhati-hatilah, kawan-kawan." Kefas mengangguk. Pedro masih bersenandung kita berhasil dengan semangat, seakan-akan menunjukkan kalau ia memang sudah melakukan latihan bernyanyi dengan serius selama beberapa hari ini. Dari ujung matanya, Kefas dapat melihat gitar yang tadi ia letakkan di pintu stasiun sudah tidak ada. Sepertinya ada orang yang sudah menunggu mereka masuk untuk segera mengambil gitar itu. Ia berdoa dalam hati agar orang yang mengambilnya betul-betul suruhan Suarez. Kalau tidak, itu berarti ia kehilangan gitarnya. Yang lebih parah, mereka tidak akan bisa menyamar sebagai pengamen kalau mereka tidak membawa gitar! Kereta menuju Cijantung yang akan mengangkut mereka bertiga berhenti perlahan-lahan. Suaranya begitu nyaring memekakkan telinga, namun banyak orang justru berdiri dan menunggu-nunggu kereta itu berhenti. Begitu pintu terbuka, semua orang tadi berebutan masuk dan berusaha memampatkan dirinya agar dapat ikut dalam kereta ini. Raa dan kedua temannya ikut masuk. Mereka terhimpit seperti sosis di antara daging hotdog, dan panas kereta langsung membakar wajah mereka. Orang-orang masih berusaha masuk dengan saling mendorong, sampai akhirnya kondektur berusaha menengahi dan menutup kembali pintu kereta. Kejadian itu berlangsung hanya lima menit saja, namun Pedro sudah tak sabaran. Ia mulai berseru agar pintu ditutup lebih kencang dan tak usah ada penumpang lagi yang naik. Ia sudah mulai dapat berdiri di udara! (Kereta pagi hari memang sangat ramai dan padat, sampai-sampai kalau kau mengangkat kedua kakimu secara bersamaan sampai tak menyentuh ubin, kau masih dapat berdiri tegap, karena badanmu terhimpit diantara dua orang). Akhirnya, kereta berangkat. Dalam hati Raa kini mengerti mengapa mereka tidak diperbolehkan masuk. Pengamen-pengamen yang bernyanyi dan meminta uang di situasi seperti ini hanya akan membuat semuanya terasa semakin runyam. Ia saja sudah merasa sangat malas mengobrol, karena semua orang dapat mendengarkan suaranya sekecil apapun. Raa akhirnya berdiam diri, begitu juga dengan Kefas dan Pedro. Kereta yang mereka tumpangi ini akan menuju langsung ke Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tidak ada transit, sehingga mereka bisa tidur saja sampai mereka tiba di sana. Menurut Suarez, di sanalah paling awal muncul pergerakan dengan lagu Bunga dan Tembok ini. Beberapa pengamen di sana menyanyikan lagu itu di tempat-tempat umum dan tempat makan. Ting! Lampu penanda stasiun berikutnya berbunyi. Sejak tadi masuk, mereka sudah melewati tiga stasiun dan orang-orang sudah banyak yang turun. Kefas dan Pedro sudah mulai mengobrol ringan, namun Raa masih memperhatikan kondisi kereta. Ia tidak berani mengeluarkan ponselnya karena takut pada pencopetan. Kereta kembali berjalan melewati beberapa stasiun, orang-orang yang ada di dalam kereta terus masuk dan keluar. Ting! Kereta berbunyi lagi. "Satu stasiun lagi, lalu kita turun," ucap Raa. Kefas dan Pedro mengangguk. "Jangan lupa lagunya, ya." "Gitarnya gimana, Raa?" "Nanti sampai sana kutanyakan pada Suarez." Ting! Stasiun terakhir sebelum mereka turun. Raa, Pedro, dan Kefas mulai berdiri dan bersiap-siap turun di stasiun berikutnya. Kalau diperhatikan, penampilan mereka bertiga sudah begitu mirip dengan pengamen jalanan. Pakaian-pakaian mereka yang lusuh semakin kotor akibat debu kereta. Tubuh mereka lengket oleh keringat. Rambut Raa yang tadinya terikat rapih kini sudah berantakan dan lepek. Wajah mereka lesu dan kelihatan lelah. "Ayo, ayo, udah sampe nih," ucap Kefas. "Ayo turun." Raa, Kefas dan Pedro bersama-sama turun di stasiun Cijantung. Masing-masing hendak mengeluh, namun tidak dapat berkata apa-apa. Memang begitulah tuntutan pekerjaan! Begitu sampai di depan, mereka celingak-celinguk seperti orang tersesat. Raa mengerutkan kening. "Dimana ya, gitarnya?" "Kita mau kemana habis ini?" "Yaaa, di sini-sini aja. Ngamen di sekitar stasiun, makan di warung makan pinggir jalan. Mungkin nanti improvisasi sedikit, tapi intinya ya begitu-begitu saja." "Tapi kalau mau ngamen, kan, harus ada gitar, Raa!" "Harusnya ditaroh di sini," gumam Raa. Ia mengeluarkan ponselnya. "Bentar ya, kita tanya sama Suarez." Kefas dan Pedro menunggu dengan sabar sementara Raa menelpon. Tatapan mereka penuh keheranan, karena Raa hanya meletakkan ponsel itu di telinganya dan tidak bicara apa-apa. "Dimana Suarez?" Tanya Kefas. "Telponku tidak bisa terhubung, gak ada sinyal," keluh Raa. "Duh, gak tahu sejak kapan sinyalnya hilang!" Pedro melongo. "Waduh!" "Ini ada chat sih dari Suarez..." Kata Raa lagi. "Tapi..." "Kenapa, Raa?" "Lihat, deh." Mereka semua mengintip ke ponsel Raa. Suarez: Raa, gitarnya sudah ditaruh di sini ya. Suarez: Nanti diambil aja. Suarez: -Send a photos- Raa mengetuk gambar yang Suarez kirim, namun malah muncul pop-up pemberitahuan bahwa gambar tersebut tidak bisa diunduh karena tidak ada sinyal. Raa mencoba lagi, namun pemberitahuan yang sama muncul. "Waduh..." Pedro mengeluh. "Kita gak tahu dimana gitarnya." "Kalian bawa handphone gak?" Raa bertanya. Pertanyaan ini disambut gelengan oleh kedua temannya itu. "Masa pengamen bawa HP!" Raa menatap ponselnya dengan nanar. Mereka membutuhkan gitar itu untuk bergerak. Kalau tidak ada gitar, tidak mungkin mereka mengamen. Suara mereka juga tidak seberapa bagus. Raa memikir-mikirkan cara terbaik. Ia adalah pemimpin kelompok kecil ini. Semua rencana yang sudah susah payah ia perhitungkan tidak boleh sampai gagal di tengah jalan. Raa berusaha berpikir mencari jalan keluar, sampai akhirnya matanya menatap angka jam yang ada di ponselnya. Pukul sepuluh pagi. "Temen-temen, yuk kita cari warung. Kita sarapan dulu." Kefas dan Pedro saling menatap dengan heran. Mereka tadi pagi sudah makan di rumah Raa. Namun mereka tidak membantah. Mereka mengikuti Raa yang berjalan menyusuri jalan raya sekitar stasiun sambil mencari warung makan yang sesuai selera. Sambil berjalan, Raa bergumam, "kita cari makan, sambil buka mata. Siapa tahu kalian lihat gitar." Kefas dan Pedro mengangguk-angguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN