05.00
Langit masih gelap. Raa sudah bangun lebih pagi dari biasanya dan berangkat dengan penuh semangat ke lapangan di dekat rumahnya. Di sana ia meregangkan tubuh dan sedikit berolahraga dengan berlari-lari kecil selama satu jam. Setelah tubuhnya berkeringat, ia berjalan pulang ke rumah.
Anehnya, ketika seseorang keletihan setelah berolahraga, tubuhnya justru terasa lebih segar dan bersemangat. Raa merasa tidak mengantuk sama sekali karena bangun pagi. Ia siap untuk menyambut harinya hari ini.
07.00
Raa sudah selesai mandi dan sarapan. Ia duduk di ruang tengah dengan mengenakan pakaian hitam-hitam. Cantik sekali. Raa merasa sangat percaya diri dan olahraga tadi pagi sepertinya berkontribusi banyak dalam membuatnya berkonsentrasi penuh.
Raa memutuskan untuk membawa turun laptop dan buku-bukunya. Ia akan bekerja di ruang tamu, di meja makan. Tidak ada alasan khusus sebetulnya selain untuk mencoba suasana baru. Raa memulai pagi harinya dengan melakukan virtual meeting dengan dosen pembimbingnya, kemudian mempresentasikan hasil laporan tugas akhir yang sudah ia tulis secara maraton beberapa hari belakangan.
10.00
Hati Raa rasanya semakin mengembang karena sukacita. Dosennya memuji semua yang telah ia kerjakan dengan baik, terutama karena Raa berhasil mengumpulkannya tepat waktu. Raa akhirnya siap dikirim untuk menjalani sidang wisuda beberapa bulan lagi. Ia hanya tinggal mempersiapkan diri.
Setelah usai menelepon dosennya, Raa kemudian menghubungi restoran yang berada di ujung jalan. Ia memesan empat porsi mie yamin yang dibungkus terpisah agar dikirimkan ke rumahnya pada pukul sebelas. Restoran itu menyanggupi. Sambil menunggu, Raa membuka-buka buku dan membaca beberapa bagian cerita yang ia sukai.
Raa sudah lama sekali tidak mendapat kesempatan membaca seperti ini. Ia menyukai apa yang ia lakukan sekarang.
11.00
Raa telah membaca selama satu jam ketika dering bel di pintu mengejutkannya. Makanan datang! Raa terlupa untuk menghubungi teman-temannya yang seharusnya juga datang untuk memakan ini, tapi tidak masalah, karena ia dapat menghubunginya sekarang. Belum terlambat untuk jam makan siang!
Raa meletakkan kembali buku yang sedang ia baca dan menyusun makanan-makanan dengan rapi di meja. Raa kemudian menelepon satu per satu orang yang ia undang untuk makan siang.
"Halo, bisa datang pukul 11.30? Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan. Ke rumah, ya, terserah mau pakai baju apa. Santai, kok."
Mereka semua menyanggupi. Raa kembali membaca bukunya sambil menunggu.
11.30
Satu per satu tamu berdatangan. Meja makan sudah tertata rapih dengan empat kursi mengelilinginya.
"Halo, Raa!"
"Kefas! Makin ganteng aja, lo!"
"Ada acara apa, nih?"
"Duduk, duduk, ntar gue kasih tahu!" Raa mempersilakan. Ketika mereka sedang bicara, bel pintu terdengar lagi.
"Raa! Wih, kok keren amat lo hari ini!"
"Lo aja keren, masa gue gak boleh keren! Duduk dulu, Dro."
Pedro duduk di kursi. Bel pintu terdengar lagi. Raa tergopoh-gopoh menghampiri tamu terakhirnya.
"Selamat siang."
"Halo, Suarez. Silakan duduk di sana," ucap Raa. Suarez langsung mengambil tempat duduknya.
"Nah," Sementara yang lain sudah duduk, Raa berdiri di hadapan mereka semua. "Hari ini kita ada pertemuan penting dan pembicaraan serius. Untuk itu, aku sudah memesan makan siang ter-enak menurutku agar kita semua bersemangat. Silakan makan!"
Bungkusan mi yamin diedarkan. Mi yamin adalah mi biasa yang terasa seperti mi kuah karena sedikit basah, namun aslinya dimasak dengan cara digoreng. Butuh keahlian khusus untuk dapat menentukan tingkat kematangan yang pas pada mi yamin. Dulu, Raa paling suka memesan mi yamin untuk di makan di rumah setelah pulang sekolah. Kini ia bernostalgia dengan mi yamin itu bersama dengan kawan-kawannya. Kefas dan Pedro membuka mi yamin mereka dnegansaling menatap heran karena situasi yang terasa resmi ini.
Raa tersenyum lebar. "Ayo, ayo, jangan malu-malu. Selamat makan!"
Mereka mulai makan. Di tengah suara denting sendok dan garpu, Kefas berceletuk, "Raa, lo pesen dimana ini?"
"Mi-nya?"
"Iya," ucap Kefas. "Enak banget."
"Rahasiaaa...."
"Kok main rahasia-rahasiaan sih, sekarang?" Pedro menyambung obrolan. "Kita kan pren, Raa!"
"Udah, makan dulu. Habis ini ada perbincangan seru!"
"Duh, perbincangan apa? Gue jadi kepo..."
Raa tersenyum misterius, berkeras hati tidak mau membocorkan pembicaraan mereka. Ia sendiri menikmati mi yaminnya dengan rasa puas. Ia tidak salah pilih menu makan siang!
"Raa."
"Ya?" Raa menengok. Kefas dan Pedro memandanginya dengan pandangan mata penasaran, mi yamin mereka telah habis tak bersisa.
"Kalian makan cuma lima menit," gumam Suarez. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Raa ikut tertawa melihat tingkah teman-temannya ini."Kacau lo yeee!"
"Ayo, gue udah penasaran banget, nih!"
"Oke, oke. Give me five minutes. Biar gue selesaiin makan ini dulu."
Lima menit kemudian, Raa sudah sepenuhnya selesai. Suarez juga telah selesai dan berinisiatif membersihkan setiap bungkusan mi yang ada di meja. Kini meja makan itu telah berubah menjadi semacam meja kerja dengan laptop dan catatan-catatan di atasnya. Suarez mempersiapkan gadget-nya sendiri.
"Oke. gue mulai ya," prolog Raa. Teman-temannya duduk di sekitar meja, memperhatikan apa yang hendak ia katakan selanjutnya. Raa berkata, "Aku mengumpulkan kalian hari ini untuk menyusun rencana."
"Rencana apa?" Tanya Pedro. Ia langsung disikut oleh Kefas yang duduk di sebelahnya. "Sstt! Dengerin dulu!"
"Yah, seperti yang kalian tahu, Wira Nagara adalah targetku. Selama ini, aku melakukan pengejaran yang sia-sia dan membuang-buang waktu. Tidak pernah ada rencana yang matang, tidak pernah ada taktik, tidak pernah ada persiapan. Aku sadar itu semua harus ditinggalkan. Kali ini, dengan perencanaan, kita tidak perlu melakukan semuanya dengan terburu-buru. Kita tidak perlu bergadang sampai tengah malam demi menuntaskan tugas. KIta tidak perlu berpikir keras untuk mengambil inisiatif setiap jam."
"Kita akan bergerak profesional," gumam Suarez.
Raa tersenyum senang dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "YA! Aku belum mendapat kata yang tepat, tapi sepertinya kata-katamu tadi bagus sekali. Kita akan bergerak profesional!"
"Tapi rencana seperti apa?" Tanya Kefas.
"Aku sudah mempelajari beberapa hal dari Ayahku. Pertama-tama, kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan mempertimbangkan segala kemungkinan. Keberadaan Wira Nagara sekarang tidak bisa ditebak-tebak, harus bisa diperhitungkan dari data yang kita miliki. Suarez, apa ada informasi yang bisa dibacakan?"
"Aku belum mempersiapkan banyak, mungkin nanti aku akan menghubungi kalian lagi. Hanya saja, lagu baru Wira Nagara baru saja beredar di beberapa wilayah di pinggir Jakarta. Lagu itu belum tenar di Yogyakarta. Kita bisa tahu kemungkinan tinggalnya ia sekarang di sekitar Jakarta dari wilayah-wilayah tadi, dan kita bisa juga mengecek keberadaan pengikutnya dengan melihat darimana saja lagu itu dinyanyikan di kota Yogyakarta."
"Lagu baru?" Tanya Pedro.
"Ya, yang berjudul Bunga dan Tembok."
"Aku belum pernah mendengarnya."
Raa mengangguk. "Memang lagu itu belum banyak diperdengarkan orang. Bisakah kau tunjukkan padaku wilayah-wilayah yang kau sebutkan itu?"
"Bisa." Suarez berdiri dan dengan lincah memutar layar laptopnya agar bisa dilihat oleh yang lain. Ia adalah ahlinya untuk urusan seperti ini. Di layar sudah terlihat peta kota Jakarta yang ditandai dengan beberapa titik merah. "Ini adalah wilayah awal munculnya lagu baru itu."
"Hanya ada dua tempat, mudah saja mencari informasinya," gumam Raa. "Bagaimana di Yogyakarta?"
Suarez menggeser layarnya, menampilkan peta Yogyakarta. Di sana sama sekali belum ada titik merah. "Aku harus memperbaruinya terlebih dahulu. Nanti akan aku berikan padamu."
Raa mengangguk. Suarez mengembalikan laptopnya ke tempat semula, kemudian Raa berkata, "Nah. Kita sudah mendapatkan data. Aku dan Ayah sudah pernah ke sana, namun hanya sebentar saja. Aku rasa kita butuh pergi ke sana lagi. Menurut kalian, apa yang harus kita lakukan di sana?"
Pedro menjawab. "Kita bisa menanyai beberapa orang yang berjualan di sana. Di wilayah pinggiran Jakarta ada banyak tempat makan."
Raa menggeleng. Ia tersenyum lagi. "Di sinilah kita harus mempelajari trik baru."
"Trik baru?"
"Ya. Kita putar otak dan persiapkan segala sesuatu dengan matang sampai mereka tidak akan bisa menolak kita yang hendak menjemput Wira Nagara. Aku berencana hendak menyamar sebagai seniman."
"Seniman macam apa?" Tanya Suarez.
"Lebih baik musisi, karena Wira Nagara kan suka bermusik," ucap Pedro.
"Yah, ia suka bermusik, bermain teater, melukis, membaca, menulis ... ia hampir suka segala sesuatu," ucap Raa.
"Aku setuju kita menyamar sebagai pemain musik," usul Kefas. "Aku bisa bermain gitar dan kalian tinggal bernyanyi saja. Lagipula, pemain musik jalanan toh adalah penyamaran yang mudah dilakukan."
"Baik. Aku setuju kita menjadi musisi jalanan," ucap Raa. "Setelah menyamar, kita akan ke sana dan mengobrol sejenak untuk mengintai. Tidak ada gerakan langsung yang mendadak. Kalau perlu, kita berteman dengan mereka."
"Setelah mereka percaya, baru kita serang mereka dari dalam," gumam Suarez. Suaranya yang dalam terdengar tegas dan meyakinkan.
Raa mengangguk. "Yap. Benar sekali. Kefas, bisa tolong catat ini?"
Kefas mengangguk. Ia mengeluarkan buku catatan dan pensil.
"Kita akan pergi ke sana dua hari dari sekarang. Kita akan mengenakan pakaian kaus dengan celana-celana santai. Kau harus membawa gitar, dan kita yang lain harus mempelajari sebuah lagu. Lagu apa ya, kira-kira?"
"Gue tahu," ucap Pedro. "Sebuah lagu berjudul Kebenaran Tidak Akan Mati, buatan Wira Nagara juga."
"Gak seru!" kata Kefas. "Lagu lain saja. Lagu cinta, lagu gaul..."
"Lagu yang sedang tren sekarang adalah Kopi Dangdut," ucap Suarez. "Mungkin kita bisa menyanyikan itu saja."
"Gimana tuh, liriknya?"
Suarez mulai bersenandung kecil. "Bila kau pandang kerlip bintang nan jauh di sana~"
"Sayup ku dengar melodi cinta yang menggema~"
"Terasa kembali gelora jiwa mudaku. Karena tersentuh alunan lagu semerdu kopi dangdut~"
Pedro-lah yang tertawa paling kencang. Suarez yang serius dan begitu kaku ini ternyata bisa bernyanyi lagu dangdut dengan asik. Kefas dan Raa ikut tertawa.
"Baik. Kalau begitu, selama dua hari ini kita harus mempelajari dan menghapalkan lagu Kopi Dangdut," ucap Raa. Ia tertawa sedikit. "Judul lagu itu apa, sih. Lucu banget."
"Oke, lagu kopi dangdut..." Kefas mencatat.
"Kita naik apa ke sana?" Pedro kali ini ganti bertanya. "Tidak mungkin naik mobil, kan. Ketahuan sekali bohongnya!"
"Naik kereta saja," Suarez menjawab. "Aku tahu jalur perjalanannya."
"Okay, catat ya Kefas," kata Raa. "Berarti dua hari dari sekarang, persiapkan diri kalian. Kita bertemu di sini pukul 10.00 pagi, dengan pakaian seperti yang akan diinformasikan oleh Kefas, dan bawa segala yang diperlukan untuk perjalanan panjang."
Kefas, Pedro, dan Suarez mengangguk. Kini mereka tahu, tugas mereka sudah menjadi tugas yang profesional. Raa siap memimpin mereka sampai mencapai tujuan besar itu: menangkap Wira Nagara.
"Sekarang, aku ada satu pengumuman lagi," ucap Raa. Ketiga temannya menunggu. Raa tersenyum kala berkata, "Gue sudah menyelesaikan tugas akhir. Sebentar lagi akan wisuda."
"Waaahh, selamat Raa!"
"Gila lo!"
"Selamat, selamat men!"
"Selamat ya, Raa."
Mereka bersorak-sorak bangga memuji kemampuan Raa. Gadis itu merasa sangat bahagia hari ini. Sebentar lagi, segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan rencananya, dan ia akan dapat menunjukkan kemampuannya kepada ayahnya.