Pak Adrian kembali kedapur untuk mengambil minum untuk Ryu. lalu menatap jauh pada bingkai yang berdiri terpajang diatas meja. Bingkai dimana foto Amora waktu remaja terpampang. Saat pak Adrian kembali Ryu mulai menjalankan tujuannya.
"Ini foto Amora kan?" tanya Ryu serius kepada pak Adrian.
Adrian nampak terkejut, "Ma-maksud kamu apa Ryu? Mengapa foto lama Amora ada pada bapak? Kau ini sedang mengada-ada" jawab pak Adrian setengah gugup.
Ryu lalu mendekati foto itu dan mengangkatnya lalu menatap pada tanggal yang tercetak pada foto tersebut, "Lima september dua ribu sepuluh adalah tahun dimana foto ini dibuat tetapi tanggal lima september adalah tanggal dimana Amora ditemukan meninggal. Bukankah begitu pak Adrian?" tanya Ryu yang sedang memancing Adrian untuk mengakui perbuatannya.
"Amora meninggal? Bagaimana kau tau Ryu. Bapak saja belum mengetahuinya" jawab Adrian seolah berkilah kalau dia tidak mengetahui hal tersebut.
"Aku mengetahuinya dari Amora sendiri, pak" ucap Adrian dengan sorot mata yang seolah sedang menangkap seorang tertuduh.
"Ti-tidak mungkin. Tadi katamu Amora sudah meninggal. Bagaimana dia bisa bertemu dengan mu?"
"Bapak tidak percaya? Saya benar-benar bertemu dengannya dan berbicara dengan Amora langsung. Dia mengatakan sangat merindukan bapak dan meminta buku harian yang bapak simpan saat ini" ucap Ryu menyakinkan.
Adrian mulai ketakutan saat Ryu mengatakan kalau Amora merindukan pak Adrian, "Bu-buku harian? Buku harian apa? Buku yang bagaimana? Kau pasti sedang bermimpi Ryu. Bapak tidak paham maksud mu" Adrian terus mencoba berpura-pura tidak tau.
Ryu tersenyum melihat sikap Adrian yang mulai gusar, "Buku harian ini pak!" Ryu mengangkat tangannya dan menunjukkan buku yang saat ini Ryu pegang. Mata Adrian terbelalak saat melihat buku tersebut, "Ini pasti bohong kan? Buku yang kamu pegang hanya mirip dengan buku milik Amora. Jelas-jelas aku sudah mengubur buku itu dan tidak ada orang yang tau!" teriak Adrian panik dan tidak sadar sudah membuka kejahatannya sendiri.
"Mengubur? Barusan bapak mengatakan kalau bapak tidak mengetahui kematian Amora. Lalu bagaimana bapak dapat mengubur buku hariannya. Saat itu Amora pergi menemui bapak sambil membawa buku harian pada tasnya bukan? Lalu Amora mengatakan akan memberikan buku harian ini kepada polisi karena Amora tidak bisa menceritakan semua kelakuan bapak kepada polisi. Amora shok bila menceritakannya kembali. Karena itu dia tulis semua pada buku hariannya. Bukan begitu pak Adrian?" Ryu langsung membuat Adrian tidak bisa membela diri lagi.
"Ryu dari mana kau tau akan semua ini?"
"Aku sudah katakan barusan kepada bapak. Kalau aku sudah bertemu Amora. Apakah bapak percaya itu? Buku ini kehilangan beberapa lembar Amora juga mengatakan bapak yang merobeknya. dimana bapak menaruhnya?" tanya Ryu dengan tatapan mata yang tajam.
Adrian terduduk lesu dan menarik nafasnya dalam-dalam, "Akhirnya semua terbongkar juga. Padahal aku sudah berusaha menutupi ini bertahun-tahun" ucap Adrian sambil kembali berdiri.
"Setiap kejahatan dan kebohongan tidak akan bisa tersimpan lama, pak" sahut Adrian.
"Aku bukan penjahat Ryu! Ini semua karena Amora menentangku. Dia memintaku untuk mengakui perbuatan ku kepada polisi karena telah menodainya. Padahal aku sudah mengatakan akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku dengan menikahinya karena aku mencintainya sejak dulu. Tetapi dia keras kepala!" teriak Adrian marah.
"Bapak tidak mencintainya. Bapak hanya berambisi saja!"
"Ambisi? Aku tidak berambisi. Aku benar-benar mencintainya, Ryu!"
"Kalau bapak mencintainya. Bapak tidak akan menyakitinya dan membunuhnya. Itu bukan cinta tetapi nafsu!"
"Oke, baiklah. Kau sudah mengetahuinya. Sekarang apa keinginan mu datang kesini?"
Ariel membisikkan sesuatu kepada Ryu karena curiga akan sikap Adrian dan tatapan matanya kepada Ryu saat ini, "Ryu...hati-hati sepertinya dia ingin membungkam mulut mu. Untuk menutupi kejahatannya" bisik Ariel ketelinga Ryu. Namun Ryu juga sudah memprediksinya sebelum datang kemari. Pastilah Adrian akan terus lari dari pertanggungjawabannya.
"Saya datang kemari hanya ingin menyampaikan pesan dari Mona. Bapak tau dia saat ini tidak dapat pergi dengan tenang. Karena kesalahan yang bapak lakukan bertahun-tahun lalu" ucap Ryu dan tetap waspada kalau-kalau Adrian menyerangnya dan mencelakainya.
"Apa kamu bilang. Bagaimana kematian Amora itu dapat berhubungan dengan Mona? Apa maksud mu Ryu?"
"Amora sampai saat ini masih belum bisa kembali kealamnya. Roh nya masih saja terus berkeliaran dan saat ini Mona pun sedang mendengarkan kita. Amora ingin orang yang membunuhnya menyerahkan diri kepada polisi. Karena sumpah Amora sehingga Mona juga menjadi korbannya." jelas Ryu kepada Adrian. Mendengar itu Adrian menangis saat mengetahui kalau Mona juga sedang mendengarkan mereka.
"Jadi...ternyata karena sumpah Amora itu yah? Aku pikir sumpah itu tidak akan bekerja dikehidupan modern sekarang. Ternyata dugaan ku salah." sesal Adrian.
"Kalau bapak mencintai Mona dan menyesal akan semua perbuatan bapak dulu. Sebaiknya bapak menyerahkan diri sekarang! Agar mereka berdua bisa pergi dengan tenang" kata Ryu mengingatkan Adrian akan perbuatan jahatnya dulu kepada Amora. Adrian menatap tajam kepada Ryu, "Tidak! Kau sendiri yang mengantarkan nyawamu Ryu. Jadi jangan salahkan bapak, kalau kau akan menyusul Amora!" ucap Adrian geram.
Adrian mengeluarkan sebilah pisau dari dalam saku celananya dan menodongkannya kepada Ryu. Ariel segera mengambil sikap bersiap-siap jika Adrian akan mencelakai Ryu.
"Asal kau tau. Aku sudah curiga saat kau menanyakan tentang Amora. Aku lalu mengikuti mu dengan mobil saat kau mendatangi rumah Amora. Sementara kau mengatakan tidak mengetahui dimana Amora tinggal. Kau pikir kau lebih pandai dari dosen mu ini Ryu? ha...ha...ha...!" Adrian tertawa seperti orang gila.
"Dan bapak pikir bapak akan bisa lari dari semua kejahatan yang bapak perbuat?" Ryu segera memberi isyarat kepada Ariel untuk menjatuhkan bingkai foto itu.
Prannkkk.... Suara kaca dari bingkai foto itu pecah saat jatuh kelantai, "Mona...?!" teriak Ryu bersandiwara seolah-olah dia saat ini sedang melihat keberadaan Mona dan Adrian terkecoh dengan cara yang dibuat Ryu dan Ariel, "Mona...! Kau datang?" ucap Adrian yang mencoba melihat dan mencari keberadaan Mona. Ryu langsung menyergap Adrian dan mengambil pisau miliknya dari tangannya. Tidak seberapa lama terdengar suara sirene mobil polisi yang telah tiba dirumah pak Adrian.
Polisi segera masuk bersama ibu dari Amora. Sebelum tiba dirumah pak Adrian, Ryu sebelumnya menghubungi ibu Amora dan menceritakan semua. Ryu juga meminta kepada ibu Amora agar segera melaporkan kejahatan Adrian kepada pilisi dan menangkapnya secepatnya.Polisi segera menuju ke rumah Adrian dan menangkap pak Adrian. Ibu Amora menatap tajam pada Adrian lalu menamparnya sambil menangis dan meneriakinya, "Dasar penjahat tengik! Kau laki-laki b***t. Kau akan segera membusuk di dalam penjara!" maki Ibu Amora dan polisi segera membawa Adrian masuk kedalam mobil dengan kedua tangan terborgol.
Ryu lalu mengambil bingkai foto yang pecah tadi dan memberikannya kepada polisi, "Ini pak barang bukti atas kejahatan pak Adrian kepada teman saya Amora. Didalam bingkai ini ada lembar kertas dengan bercak darah Amora. Kertas itu adalah bagian dari buku harian ini." Ryu lalu menyerahkan kembali buku harian milik Amora dimana disana tertulis tentang Adrian yang berusaha mengejar-ngejar Amora dan semua perbuatan Adrian kepada Amora. Buku tu adalah yang mewakili suara Amora dalam memperoleh keadilan baginya.
Tiga hari berikutnya Ibu Amora mengajak Ryu untuk menemani Ibu Amora berjiarah kemakam Amora. Sementara pak Adrian sudah diberikan hukuman penjara seumur hidup atas perbuatannya yang melakukan tindakan kejahatan dan pembunuhan berencana.
Sebelumnya Amora juga sudah mendatangi mimpi Ryu kemarin dan kini Amora sudah dapat kembali ke alam keabadian dengan tenang. Begitu juga dengan Mona yang meski tau semua tentang Adrian kekasihnya. Namun Mona tetap mencintai Adrian dan berharap pada kehidupan berikutnya Mona dapat menjadi kekasih dari Adrian dan mereka dapat hidup bersama.
Bersambung.