Setelah selesai makan, kami beranjak dari warung itu. Tadi kami berempat kemari menggunakan mobil Kak Langit. Jadi sekarang kami juga berada di mobil Kak Langit untuk kembali ke sekolah. Aku duduk di sebelah Kak Langit yang sedang sibuk mengemudi. Sementara Vienna dan Raya duduk diam di belakang. Merasa terlalu hening, aku membuka obrolan, "Wah, kita makin akrab ya." "Dih, nggak sudi gue akrab sama lo," sambar Raya cepat. Aku balas berdecak sebal. Cewek satu ini emang mulutnya pedes banget. Mungkin diam-diam, dia ini hobi nyemilin cabai. "Kak Raya udah tahu siapa yang buat kakak celaka beberapa hari lalu?" Suara lembut Vienna mengalihkan topik pembicaraan. Aku melirik ke belakang dan mendapati Raya menggeleng sebagai jawaban. Aku juga bisa mendengar V

