Washington, D.C (US)
Peluncuran matahari buatan memberikan dampak positif bagi kenaikan suhu udara. Sejak tiga bulan pertama setelah resmi meluncur, matahari buatan mampu menaikkan suhu udara hingga ke posisi normal. Hingga saat ini, Alfred masih belum menemukan adanya tanda-tanda masalah yang terjadi di matahari buatan. Alfred cukup senang karena sepertinya proyek kali berjalan dengan sangat lancar.
“Proposal mengenai proyek lanjutan dari matahari buatan sudah kukirimkan kepada pemerintah sejak dua bulan lalu. Jika tidak ada tanggapan dari mereka, itu sama sekali bukan salahku..” Kata Hugo sambil menghabiskan roti lapis yang ada di kedua tangannya.
Meskipun sama sekali tidak ada masalah mengenai peluncuran matahari buatan, kantor penelitian Alfred tetap dipenuhi dengan keributan karena hingga saat ini tidak ada respon dan pemerintah mengenai proposal proyek yang Alfred kirimkan.
Sejak awal menandatangani perjanjian pengembangan proyek, Alfred sudah membicarakan mengenai proyek lanjutan yang berfokus untuk mengubah energi industri yang selama ini selalu menyumbangkan polusi dengan energi baru yang lebih ramah lingkungan. Minyak bumi dikeruk secara besar-besaran sejak ratusan tahun lalu, tidak ada yang tahu sampai kapan bumi memiliki persediaan minyak. Lagipula, setelah bencana gelombang udara dingin yang terjadi karena ledakan nuklir beberapa bulan yang lalu, bukankah seharusnya mereka semua mulai memikirkan mengenai alternatif energi yang ramah lingkungan serta tidak memiliki risiko tinggi seperti nuklir?
Mendengar beberapa kabar mengenai pengembangan pembangkit energi berbasis matahari buatan yang dipercayakan kepada tim penelitian dari New York membuat Alfred merasa kesal untuk beberapa saat. Pemerintah suka mengambil keputusan gila tanpa memikirkan bagaimana dampak dari keputusan yang mereka ambil. Proyek mengenai pembangkit energi bertenaga matahari buatan adalah proyek yang sudah dipelajari oleh kantor penelitian tim Alfred sejak beberapa tahun lalu. Tidak ada tim lain yang jauh lebih mengerti mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengembangkan proyek tersebut. Lalu, bagaimana mungkin pemerintah memberikan proyek itu kepada tim lain?
“Kirimkan lagi proposal dengan format yang berbeda. Perhatikan setiap susunan kata yang kau pilih. Proposal itu ditolak karena kau tidak pandai menyusun kata!” Kata Felix sambil melembarkan gumpalan kertas laporan cuaca ke arah Hugo.
Mereka bekerja keras untuk menyusun proposal seperti yang diinginkan oleh pemerintah, tapi sepertinya usaha mereka kembali berakhir sia-sia. Tim Alfred tidak akan pernah mendapatkan proyek yang mereka usulkan kepada pemerintah. Betapa gilanya kehidupan ini, Alfred bahkan tidak berhak atas konsep serta ide yang ia miliki. Setelah mendapatkan data mengenai pengembangan proyek energi ramah lingkungan berbasis matahari buatan, pemerintah menunjuk orang lain untuk menjalankan proyek tersebut. Jika bisa, Alfred ingin memutar waktu dan berhenti peduli pada seluruh proyek yang dibicarakan di rapat pemerintahan.
“Kau sendiri yang mengatakan jika proposal itu tampak sempurna! Jangan membuatku mengerjakan sesuatu yang tidak aku sukai. Lebih baik kau susun sendiri proposal itu!” Hugo membalas Felix dengan melemparkan kembali gumpalan kertas yang sempat mengenai wajahnya. Hugo melempar dengan sekuat tenaga, tapi kertas itu justru melayang ke arah yang lain. Felix tertawa ketika melihat Hugo yang semakin terlihat kesal, mereka jadi saling berdebat satu sama lain dan melupakan masalah proposal proyek energi matahari buatan.
Alfred menarik napasnya sambil membaca salinan proposal yang Hugo kirimkan ke kantor pemerintah. Tidak ada yang salah dengan susunan proposal tersebut. Hugo menjelaskan seluruh rencana kerja mereka dengan sangat rinci hingga membuat orang awam mengerti mengenai konsep dari proyek yang ingin mereka kembangkan. Seluruh anggaran dana dan juga rencana kegiatan juga dijelaskan dengan sangat baik oleh Hugo. Pemuda itu memiliki kemampuan yang cukup hebat dalam menyusun proposal, tapi pemerintah tetap tidak tertarik dengan tawaran kerja sama mereka.
“Tim lain tidak akan bisa mengembangkan proyek ini dengan maksimal.” Austin yang sejak tadi hanya diam sambil mengamati laporan yang ada di layar komputernya, kini dia ikut berkomentar.
Alfred menatap Austin dengan pandangan tertarik. Austin bukan tipe pria yang suka banyak bicara, dia hanya akan berbicara jika ada topik penting yang harus didiskusikan.
“Kau berpikir demikian?” Tanya Alfred.
“Banyak tim yang jauh lebih baik dari kita, tapi mereka jelas tidak bisa menjalankan sebuah proyek yang bukan milik mereka. Konsep dari proyek ini sudah dijelaskan di proposal yang Hugo kirimkan, tapi mereka jelas tidak mengerti detail-detail kecil yang harus di lakukan untuk menyempurnakan pengembangan proyek” Austin berbicara dengan satu tarikan napas. Pria itu bersuara tenang, tapi dia bisa mengatakan banyak kalimat dalam waktu yang cepat.
“Apakah kau mencoba mengatakan jika kita harus membiarkan proyek ini lolos begitu saja? Kita memikirkan konsep proyek ini selama bertahun-tahun, haruskah kita berhenti?” Tanya Felix.
Alfred menutup matanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Jujur saja dia merasa sangat kesal karena pemerintah bertindak semena-mena. Proyek yang Alfred tawarkan akan memberikan dampak positif bagi proses penyembuhan bumi. Polusi dari limbah industri akan memperburuk lapisan atmosfer yang diselimuti oleh karbon. Alfred memiliki niat baik untuk mengurangi polusi industri, tapi tampaknya pemerintah tidak ingin bekerja sama dengannya. Mereka justru merampas konsep proyek yang Alfred pikirkan selama bertahun-tahun.
“Kalian ingat jika kita pernah berusaha keras untuk mendapatkan dana demi bisa melakukan pengembangan proyek matahari buatan?” Tanya Austin. Pemuda itu menatap Alfred, Hugo, dan Felix sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. “Tidak ada yang berhasil meyakinkan pemerintah, tapi akhirnya proyek ini menjadi milik kita..”
Alfred menganggukkan kepalanya. Hanya dalam hitungan hari, keadaan berubah total. Proyek yang Alfred perjuangkan justru ditolak oleh pemerintah, tapi beberapa hari kemudian mereka justru mencari Alfred untuk melakukan kerja sama dalam pengembangan proyek matahari buatan.
Tidak ada satupun manusia yang dapat mengatur waktu dalam hidup mereka. Sesuatu yang dianggap gagal hari ini, belum tentu menjadi kegagalan di esok hari. Namun kali ini sangat berbeda dengan kasus yang sebelumnya. Saat ini proyek pengembangan energi ramah lingkungan berbasis matahari buatan telah diserahkan kepada tim lain. Alfred yakin jika berita yang ia dapatkan bukanlah berita palsu yang disebarkan oleh orang tidak bertanggung jawab. Juru bicara pemerintah sudah memastikan jika berita itu benar dan pasti. Proyek yang menjadi impian Alfred sudah diserahkan kepada orang lain.
“Ini sangat berbeda, Austin. Proyek itu sudah diserahkan pada tim lain..” Kata Alfred dengan suara pasrah.
Berulang kali Alfred merasakan kekecewaan karena sebuah kegagalan, baru kali ini Alfred benar-benar kehabisan kata untuk mengungkapkan rasa kesal yang membelenggu hatinya.
“Apakah mereka akan berhasil?” Tanya Austin.
“Tidak ada yang tahu seberapa hebat tim mereka, tapi jika pemerintah menunjuk tim itu, maka bisa dipastikan jika mereka bukanlah orang sembarangan..” Kata Hugo dengan suara santai.
Diantara semua orang yang sedang memutar otak untuk menemukan jalan keluar di balik masalah yang tengah mereka hadapi, hanya Hugo saja yang terlihat santai sejak tadi. Bukan hal yang aneh jika Hugo melakukan hal yang sebaliknya dari orang-orang disekitarnya, tapi kali ini Alfred sungguh mengharapkan hal yang berbeda dari pemuda itu.
“Sehebat apapun tim yang dipilih oleh pemerintah, apakah kalian yakin jika mereka mampu menyelesaikan proyek yang bukan hasil dari pemikiran mereka? Kita memerlukan waktu bertahun-tahun untuk melakukan uji coba, mana mungkin mereka bisa melakukan pengembangan dalam waktu yang singkat..” Austin kembali berbicara.
“Baru kali ini aku mendengar kau berbicara panjang lebar. Apakah ada yang salah dengan makan malammu?” Tanya Felix sambil menatap Austin dengan pandangan tidak percaya.
“Well, aku belum makan malam. Aku juga melewatkan makan siangku..” Austin kembali sibuk dengan komputernya.
Sekarang semuanya tampak semakin jelas. Austin membuat Alfred kembali mendapatkan rasa percaya diri yang sempat memudar sejak ia mendengarkan kabar mengenai keputusan pemerintah beberapa hari yang lalu.
Sehebat apapun orang itu, dia tidak akan bisa mengambil alih proyek orang lain dan menjadikan proyek itu sebagai mahakarya yang luarbiasa. Alfred dan timnya melakukan segala cara untuk bisa melakukan pengembangan, namun pemerintah menjatuhkan perjuangan mereka di garis terakhir. Alfred tidak memiliki pilihan lain selain tetap diam sambil melihat bagaimana hasil dari keputusan pemerintah. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun saat ini Alfred sungguh berharap jika hari esok kembali berpihak kepadanya.
“Kurasa kita harus pulang dan mengambil liburan selama dua pekan. Kita terlalu lelah karena bekerja tanpa henti selama beberapa bulan ini..” Kata Felix sambil berjalan mendekati Alfred.
Sejak ledakan nuklir lima bulan yang lalu, Alfred tidak pernah mengambil hari liburnya untuk beristirahat di rumah. Bahkan saat akhir pekan, mereka semua memilih untuk tetap bekerja di kantor.
Selama ini Alfred sama sekali tidak merasa lelah dengan kegiatannya yang begitu padat. Bagi Alfred, waktu bekerja adalah waktu yang paling menyenangkan. Namun sekarang Alfred baru menyadari jika dia merasa lelah dengan segalanya. Pikirannya penuh dengan masalah dan ia tidak memiliki waktu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Kesibukan yang terlalu sibuk adalah salah satu cara untuk membunuh seseorang.
Alfred larut dalam pekerjaannya dan mulai melupakan orang di sekitarnya, bahkan ia melupakan dirinya sendiri.
“Aku sangat ingin mengambil cuti sejak beberapa bulan yang lalu, tapi kantor ini selalu dipenuhi dengan masalah sehingga aku tidak tega meninggalkan kalian semua..” Hugo mulai mengatakan kalimat gurauan.
Alfred mengangkat kepalanya dan mengamati rekan timnya yang tampak lelah dengan wajah kusut dan kantung mata yang menghitam. Tubuh mereka semakin kurus dan penampilan mereka sangat kacau. Felix dan Hugo melewatkan waktu untuk memotong rambut, Alfred dan Austin selalu lupa jika mereka tidak makan siang dan hampir melewatkan jam makan malam. Mereka semua membutuhkan waktu untuk istirahat.. Ya, dan Alfred baru menyadari hal itu setelah lima bulan berlalu.