Bab 65

1561 Kata
Washington, D.C (US) Alfred menikmati secangkir kopi sambil berbaring di balkon apartemennya. Sejak beberapa hari yang lalu, Alfred memutuskan mengambil cuti dan menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah. Charlotte sudah mulai bekerja sejak dua bulan lalu. Wanita itu mendapatkan banyak tawaran pemotretan dengan beberapa fotografer terkenal. Charlotte akan berangkat di pagi hari dan pulang saat tengah malam. Sementara Alfred juga akan bekerja sejak pagi hingga malam hari. Selama dua bulan belakangan ini, Alfred dan Charlotte sangat jarang menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama. Jujur saja Alfred sudah terbiasa dengan kesibukannya, tapi kadang Alfred jadi merindukan waktu dimana mereka terkurung di dalam rumah saat pertama kali diberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat ketika terjadi gelombang udara dingin. Saat ini, Charlotte memutuskan untuk mengambil liburan selama satu pekan, wanita itu sibuk menyiapkan sarapan di pagi hari dan juga camilan untuk dimakan ketika siang hari. Tidak banyak hal yang mereka lakukan, tapi Alfred merasa senang karena bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Charlotte. “Bagaimana jika kita datang untuk mengunjungi Aurora?” Tanya Charlotte sambil membawa sepiring kue kering yang baru saja diangkat dari panggangan. Sejak Aurora menginap di apartemen mereka beberapa bulan lalu, Charlotte selalu antusias untuk mempelajari cara memasak. Sepertinya Charlotte berencana untuk membuat Aurora terkesan ketika putrinya itu kembali datang ke Washington, D.C. Berbicara mengenai masakan Charlotte, Alfred merasa jika berat badannya akan naik secara drastis karena menghabiskan waktu liburan selama dua minggu. Terkurung di dalam apartemen bersama dengan Charlotte adalah hal yang sangat menyenangkan, tetapi Alfred tidak siap untuk melihat lema di bagian perutnya yang mulai mengendur sejak beberapa tahun belakangan ini. “Apakah kau sedang bergurau?” Tanya Alfred sambil mengambil kue kering yang Charlotte berikan. Meskipun masakan Charlotte tidak seenak buatan koki di restoran terkenal, Alfred tetap menghabiskan setiap makanan yang diberikan oleh wanita itu. memberikan apresiasi atas kerja keras Charlotte adalah salah satu cara untuk menunjukkan dukungannya terhadap segala hal yang dilakukan oleh wanita itu. Alfred menyadari jika selama ini dia jarang mengekspresikan perasaannya kepada wanita itu, oleh sebab itu Alfred berusaha untuk memberikan apresiasi dalam bentuk lain. Bukan pujian seperti yang biasanya diberikan oleh seorang pria untuk membuat wanitanya merasa terkesan, Alfred sangat tidak cocok untuk mengatakan kalimat pujian yang manis di usianya yang sudah hampir setengah abad. “Apakah aku terlihat sedang bergurau? Kudengar Aurora sudah mulai bersekolah, bagaimana jika kita menemuinya diam-diam seperti yang biasa dilakukan di film-film yang kutonton?” Tanya Charlotte. “Berhentilah melihat film menggelikan semacam itu..” Kata Alfred dengan tenang. “Aku tidak memiliki kisah cinta yang romantis, tidak bisakah aku menikmati keromantisan di dalam sebuah film?” Alfred menghentikan gerakan tangannya yang akan mengambil kue kering dengan toping selai coklat yang Charlotte letakkan di atas meja. Untuk sejenak Alfred mencoba memahami arti dari kalimat yang Charlotte katakan. Apakah wanita itu mencoba mengatakan jika ia menginginkan kisah cinta yang romantis? “Sudahlah, kau membuatku merasa bersalah!” Charlotte bangkit berdiri lalu berjalan meninggalkan Alfred. Ah, menghadapi seorang wanita memang tidak semudah yang Alfred bayangkan. Begitu memutuskan untuk kembali membuka hatinya, Alfred sadar jika ia akan kembali menghadapi masalah yang rumit. Charlotte hanya seorang wanita biasa yang hidup dengan mimpi dan harapan di dalam hatinya. Ketika menyadari jika ia tidak mendapatkan seorang pria dengan sifat manis seperti yang ia harapkan, Charlotte jelas menekan rasa kecewa di dalam hatinya untuk tetap bertahan bersama dengan Alfred. Bukan hanya sifat, tapi Charlotte juga harus menerima masa lalu Alfred dan segala kegagalan yang terus membayangi langkahnya. “Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki suasana hatimu?” Tanya Alfred sambil merangkul pinggang Charlotte dari belakang. “Memangnya apa yang salah dengan suasana hatiku?” Tanya Charlotte. Alfred menghembuskan napasnya dengan pelan. Hubungannya dengan Charlotte baru berjalan selama beberapa tahun, masih ada tahun-tahun panjang yang akan dipenuhi dengan masalah rumit lainnya. Jika saat ini Alfred tidak menekan egonya untuk memperbaiki keadaan, maka bisa dipastikan jika Alfred akan kehilangan Charlotte suatu hari nanti. Tidak ada satupun orang yang siap dengan sebuah kehilangan. Jika bisa, Alfred berharap Charlotte akan menjadi wanita terakhirnya. Bagi seorang pria yang sudah menginjak usia matang, Alfred terlalu malas untuk memulai sebuah hubungan baru. Lagipula, menemukan Charlotte adalah sebuah keajaiban yang begitu menyenangkan. Mengapa Alfred harus mempersiapkan diri untuk memulai hubungan baru jika ia bisa memperbaiki setiap masalah bersama dengan Charlotte? “Kau tahu jika aku tidak pernah memiliki teman. Aku merasa jika semuanya sudah baik-baik saja sehingga aku bisa menemui Aurora setiap kali aku memiliki waktu. Maafkan aku, kau pasti merasa tidak nyaman dengan kalimat yang kukatakan sebelumnya..” Namun, sebelum Alfred mencoba untuk memperbaiki segalanya, Charlotte selalu menjadi pihak pertama yang mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah. Charlotte tidak memberikan waktu kepada Alfred untuk memahami arti kata ‘maaf’ atas setiap kesalahan yang ia lakukan. Charlotte bisa meredam emosinya hanya dalam hitungan detik sehingga membuat Alfred selalu merasa jika segalanya akan tetap baik-baik saja asalkan ia selalu bersama dengan Charlotte. “Aurora akan sangat senang jika kita datang ke Ohio, tapi di saat yang sama dia juga akan merasa tidak nyaman. Aurora menyayangi kita, tapi dia juga sangat menyayangi ibunya. Tolong jangan membuat Aurora berada di posisi yang sulit..” Alfred tidak percaya jika kali ini mereka berdebat hanya karena Charlotte ingin menemui Aurora. Tidak, jelas tidak ada yang salah dengan kerinduan yang Charlotte rasakan. Alfred mengerti jika selama ini Charlotte tidak pernah memiliki teman dekat. Wanita itu terlalu ramah dengan semua orang yang ia temui sehingga ia bisa berteman dengan semuanya. Tapi selama ini tidak ada satupun teman dekat yang Charlotte miliki. Sejak masih muda, Charlotte terbiasa hidup sendirian, wanita itu bekerja dari pagi hingga malam sehingga ia tidak memiliki waktu untuk berkumpul bersama dengan teman-temannya. Dalam setiap pertemanan, Charlotte akan menjadi orang yang tersisih karena ia terlalu sibuk dengan kehidupan pribadinya. Hidup di kota asing bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Charlotte berhasil menaklukkan kota ini seorang diri, ia berhasil berdiri di atas kakinya dan menyaksikan segalanya berjalan di sisinya. Untuk ukuran seorang wanita muda, Alfred mengakui jika Charlotte memiliki tekad yang begitu kuat untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang sulit. “Aku hanya berbicara asal. Bisakah kita melupakan percakapan tidak masuk akal tersebut? Aku merasa malu akan apa yang aku katakan..” Charlotte menggeser tubuhnya untuk mengambil tumpukan piring kotor di meja dapur. “Biarkan aku mencuci piring ini.” Alfred mengambil alih pekerjaan yang Charlotte lakukan. *** Malam hari terasa begitu menyenangkan ketika suhu udara telah kembali normal. Ratusan pejalan kaki memenuhi trotoar untuk menikmati udara segar di malam hari. Beberapa orang berjalan dengan cepat layaknya orang sibuk yang sedang dikejar oleh waktu. Ada juga beberapa kelompok anak muda yang berjalan sambil tertawa bersama dengan teman-temannya. Mengingat jika ini adalah akhir pekan, maka hampir seluruh tempat makan sudah dipenuhi dengan pelanggan sehingga Alfred dan Charlotte memutuskan untuk kembali pulang dan memasak makanan di rumah. “Aku ingin membeli beberapa bahan makanan. Sepertinya masih ada banyak waktu sebelum makan malam? Bagaimana jika kita pergi ke supermarket?” Tanya Charlotte. Alfred menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Karena masih pukul 6 sore, akhirnya Alfred memutuskan untuk menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah Charlotte menuju ke salah satu supermarket yang terletak di seberang jalan. Ada beberapa mobil yang berlalu lalang memenuhi jalan. Charlotte yang sedang sibuk melihat daftar belanjaan di layar ponselnya jadi tidak fokus untuk memperhatikan jalan. Melihat jika ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang dari arah kiri membuat Alfred menarik tangan Charlotte dan menghentikan langkah kaki wanita itu. “Oh Tuhan, kau membuatku terkejut!” Charlotte segera memutar tubuhnya dan menatap Alfred dengan kesal. “Kau hampir tertabrak mobil dan kau malah marah kepadaku karena aku menyelamatkanmu?” Alfred bertanya dengan pandangan tidak percaya. Charlotte tersenyum dengan canggung ketika menyadari kecerobohannya. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan. Jujur saja, Alfred hampir tidak pernah menggenggam tangan Charlotte di tengah keramaian, tapi kali ini adalah pengecualian. Alfred tidak mungkin membiarkan Charlotte berjalan sendirian ketika wanita itu tidak fokus pada setiap langkah yang ia ambil. “Baiklah, kita kehabisan daging, telur, s**u dan keju. Tolong cari setiap barang yang sudah aku kirimkan gambarnya kepadamu. Aku harus pergi ke lorong bahan kue untuk mencari beberapa barang yang kubutuhkan..” Kata Charlotte begitu mereka masuk ke dalam supermarket. Ponsel Alfred berdering dan menampilkan nama Charlotte di layar notifikasi. Wanita itu mengirimkan beberapa gambar bahan makanan beserta merek, ukuran, serta keterangan harga kepada Alfred. “Haruskah aku melakukan semua ini? Bukankah biasanya kau yang akan memilih setiap barang belanjaan yang kau butuhkan?” Tanya Alfred sambil mengamati setiap foto barang yang Charlotte kirimkan. “Apakah kau keberatan untuk membantuku?” Tanya Charlotte. Alfred kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan sarkas yang Charlotte ajukan. “Baiklah, aku akan berusaha untuk menemukan setiap barang yang kau butuhkan..” Akhirnya Alfred memutuskan untuk berjalan ke sisi lorong yang ia yakini sebagai lorong yang menyimpan berbagai jenis daging. Dia akan melakukan pekerjaan berat malam ini.. Jika salah mengambil barang, maka Charlotte akan mengomel selama satu pekan penuh, namun Alfred juga tidak memiliki pilihan untuk menolak perintah Charlotte. Perintah Charlotte bersifat mutlak karena selama ini wanita itu sangat jarang meminta bantuannya. Bahkan Alfred sering merasa jika Charlotte tidak pernah membutuhkan bantuannya, wanita itu akan tetap hidup sekalipun tanpa kehadiran Alfred. Oleh sebab itu, Alfred tidak pernah bisa menolak permintaan Charlotte. Baiklah, sebelum Charlotte mulai mengomel karena Alfred tidak berhasil menemukan barang-barang yang ia butuhkan, alangkah baiknya jika Alfred mulai mencari seluruh bahan makanan sesuai dengan daftar yang sudah Charlotte kirimkan kepadanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN