Bab 63

1563 Kata
Colombus, Ohio (US) Aurora masih mengingat dengan jelas hari terakhir dia berada di sekolah. Sekitar dua bulan lalu, Aurora sibuk mempersiapkan perlombaan yang akan ia ikuti di New York, namun sekarang segalanya telah berubah. Aurora senang ketika menyadari jika semua hal buruk telah berhasil ia lewati, badai dan bencana alam yang mengerikan telah berhasil ia lalui ketika sedang berada di New York. Ada banyak sekali kenangan menyenangkan yang tidak akan bisa Aurora lupakan, namun juga ada beberapa kenangan mengerikan yang akan Aurora simpan seorang diri. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh lorong sekolah yang dipenuhi oleh siswa yang tampak sibuk mempersiapkan diri untuk memulai pelajaran di hari pertama, Aurora sesekali menata ulang helaian rambutnya yang tertiup angin dan menutupi wajahnya. Biasanya Aurora tidak pernah memiliki waktu untuk mengamati kesibukan siswa lain, tapi kali ini Aurora melakukan hal yang berbeda. Ada banyak hal yang Aurora pelajari selama ia terjebak di badai gelombang udara dingin. Hal pertama yang Aurora pelajari adalah betapa pentingnya waktu yang ia miliki. Aurora selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia merasa jika memperhatikan orang lain adalah kegiatan tidak penting yang membuang waktunya dengan percuma. Namun setelah menjalani hari-hari mengerikan selama terjebak di badai gelombang dingin, Aurora menyadari jika waktu yang ia miliki sangat berharga. Aurora tidak tahu apa saja yang akan terjadi di hari yang akan datang. Apakah ia masih memiliki waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, apakah ia masih memiliki waktu untuk bertemu dengan keluarga dan teman-temannya, dan apakah ia masih memiliki kesempatan untuk menikmati hidupnya. “Kami dengar kau terjebak di New York selama badai gelombang dingin terjadi. Apakah itu benar?” Aurora cukup terkejut ketika sekelompok remaja perempuan mendatanginya dan menanyakan sebuah pertanyaan seakan mereka adalah teman lama yang saling mengenal. “Iya, itu benar..” Jawab Aurora dengan tenang. Selama ini Aurora tidak memiliki banyak teman. Hanya beberapa teman sekelas yang cukup akrab dengannya, dan Aurora rasa sekelompok perempuan ini bukanlah teman sekelasnya. “Bagaimana kau bisa bertahan di tengah gelombang udara dingin? Kami mendengar jika hampir setengah dari populasi New York ditemukan meninggal ketika gelombang dingin menyapu wilayah tersebut..” Aurora masih mengingat dengan jelas betapa mengerikannya keadaan di New York saat itu. Hampir seluruh daratan ditutupi oleh lapisan es yang tertutup oleh hujan salju. Udara dingin terasa di seluruh tempat meskipun mereka sudah membuat perapian. Badai gelombang dingin bukanlah bencana alam yang bisa diabaikan. Aurora sering bertahan di ruang bawah tanah ketika sedang ada badai topan, tapi badai gelombang udara dingin jelas sangat berbeda. Tidak ada orang yang siap untuk menghadapi bencana yang datang secara tiba-tiba. Apalagi badai gelombang dingin belum perah terjadi sebelumnya. Krisis penurunan suhu yang begitu drastis mengingatkan Aurora pada materi pelajaran yang pernah ia terima mengenai zaman es yang membekukan seluruh lautan “Kami semua membuat perapian di ruangan khusus. Hanya ada beberapa orang yang menetap di dalam hotel karena saat itu pemerintah memberikan anjuran untuk melakukan evakuasi. Saat itu aku memilih untuk bertahan di dalam kamar hotel..” Aurora tidak tahu dari mana mereka semua mendengar kabar mengenai keberadaannya saat badai gelombang dingin terjadi. Aurora bukan gadis populer yang dikenal oleh banyak orang. Sekalipun dia sering menjadi wakil sekolah dalam kejuaraan nasional, Aurora tetap menjadi gadis pendiam yang suka menyendiri. Bahkan mungkin tidak ada anak dari kelas lain yang mengenal Aurora. “Itu pengalaman yang menyeramkan. Kami juga mendengar mengenai proyek yang dipimpin oleh ayahmu. Apakah kau sungguh putri dari Profesor Bernadius?” Rasanya sedikit mengejutkan ketika semua orang mengetahui identitas pribadinya. Beberapa hari sebelum Aurora pulang ke Ohio, dia sempat menemani ayahnya untuk melakukan wawancara setelah mereka menyaksikan uji coba peluncuran matahari buatan. Apakah berita wawancara itu ditayangkan juga di Colombus? “Iya, dia adalah ayah kandungku.” Aurora menjawab dengan tenang. “Wow, tidak kusangka jika kau adalah putri seorang profesor. Jujurnya kita tidak seharusnya terkejut, bukan? Wajar saja jika kau sangat jenius, orangtuamu juga bukan orang yang sembarangan..” Aurora selalu merasa bangga dengan pencapaian yang didapatkan oleh orangtuanya. Namun kadang Aurora merasa keberatan setiap kali ada yang mengatakan jika Aurora mendapatkan kejeniusan dari orangtuanya. Mereka berbicara tanpa tahu jika selama ini Aurora sering mengorbankan waktu tidurnya untuk mempelajari banyak hal. Tidak ada kepandaian yang datang begitu saja, diperlukan banyak pengorbanan untuk mendapatkan kepandaian dan wawasan yang luas. “Terima kasih. Kurasa aku harus segera masuk ke kelas. Mungkin kita bisa berbicara lagi lain kali..” Aurora mencoba untuk terlepas dari pembicaraan. “Baiklah, selamat belajar..” Akhirnya Aurora kembali melangkahkan kakinya menyusuri lorong menuju ke kelasnya. Entah kenapa Aurora merasa jika ada banyak pasang mata yang mengikuti langkah kakinya. Awalnya Aurora merasa jika ia hanya salah paham, namun sepertinya semua orang memang menatapnya dengan pandangan terkejut seperti baru saja melihat hantu berkeliaran di siang hari. Mencoba bersikap tidak peduli dan pura-pura tidak mengerti adalah satu-satunya hal yang bisa Aurora lakukan. Dia tidak mungkin berhenti melangkah dan bertanya kepada semua orang yang sedang menatapnya di sepanjang lorong. Aurora tidak memiliki keberanian untuk melakukan semua itu. Akhirnya, Aurora memilih untuk tetap melangkahkan kakinya seakan tidak terjadi apapun. Begitu sampai di dalam kelas, sebuah sambutan yang selama ini tidak pernah ia dapatnya, tiba-tiba saja dilakukan oleh teman-temannya. Mereka semua berlari mendekati Aurora dan mengerumuninya layaknya seorang wartawan yang ingin menggali informasi dari narasumber. Aurora sampai merasa sesak karena mereka semua tidak memberikan ruang bernapas untuknya. “Astaga, Aurora.. kau sungguh selamat dari bencana gelombang udara dingin?” “Bagaimana keadaanmu? Apakah kau juga membeku selama di Manhattan?” “Kudengar gelombang udara dingin menyapu wilayah tersebut hingga menutupi seluruh daratan dengan lapisan es. Bagaimana kau bisa pulang jika keadaan New York seburuk itu?” “Kami benar-benar terkejut ketika mendengar bencana gelombang udara dingin. Apakah kau melihat sendiri bagaimana gelombang dingin menutupi daratan New York?” Berulang kali Aurora mencoba untuk meyakinkan dirinya jika semua teman-temannya adalah orang baik yang sedang mengungkapkan kekhawatiran mereka. Namun entah kenapa Aurora merasa muak ketika mendengar pertanyaan mereka. Tidak, mereka sama sekali tidak peduli dengan keadaan Aurora, mereka hanya ingin bagaimana keadaan kota New York selama badai berlangsung. Mereka jelas tidak bisa datang dan melihat langsung bagaimana keadaan New York, oleh sebab itu mereka mengerubungi Aurora dan menanyakan seluruh rasa penasaran mereka. “Bisakah kalian berhenti mengerubungiku? Aku tidak bisa bernapas!” Aurora sedikit meninggikan suaranya untuk melawan rentetan pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. “Ah, maafkan kami! Kami terlalu antusias saat melihatmu!” Akhirnya mereka mulai memberi jarak agar tidak terlalu menyudutkan Aurora. Rasanya sangat lega ketika menyadari jika mereka masih mau mendengarkan Aurora sekalipun mereka sedang merasa penasaran. Melihat bagaimana perlakuan teman-temannya membuat Aurora jadi merasa terharu. Sekalipun merasa sedikit kesal, Aurora memutuskan untuk menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. Aurora tidak pernah berinteraksi layaknya seorang teman pada umumnya. Aurora merasa canggung setiap kali harus menyebut nama temannya dengan akrab. “Kau sangat beruntung karena berhasil selamat dari badai mengerikan itu. Kami sama sekali tidak mengira jika kau akan datang ke sekolah setelah mendengar jika kau menjadi salah satu orang yang tinggal di New York selama badai terjadi..” Kalimat tersebut cukup menyakitkan untuk didengar. Secara tidak langsung temannya mengatakan jika mereka mengira Aurora tidak akan selamat dari badai gelombang dingin. “Maaf karena membuatmu kecewa, tapi aku selamat dari badai tersebut..” Aurora menjawab sambil tersenyum. “Kau salah paham, aku tidak bermaksud berbicara seperti itu. Kita semua tahu jika badai gelombang dingin menurunkan suhu secara drastis.. ada banyak orang yang menjadi korban.. dan kau menjadi salah satu korban dari badai tersebut..” Aurora menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Aku mengerti.. jangan khawatir, aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapanmu..” Aurora kembali menjawab. “Untunglah kau selamat Aurora, kudengar ayahmu datang ke New York untuk menjemputmu. Kau putri dari Profesor Bernadius, bukan?” Identitasnya sebagai putri dari Alfred Bernadius benar-benar diketahui oleh banyak orang. Aurora tidak tahu seberapa populer nama ayahnya saat ini, namun dia harus mulai terbiasa saat mendengar pertanyaan mengejutkan mengenai identitasnya. “Iya, ayahku datang dari Washington, D.C untuk menjemputku di New York.” Aurora menjawab dengan suara bangga. Selama ini teman-temannya hanya mengenal Abigail dan Dalton sebagai orang tuanya. Aurora merasa senang ketika ada yang mengakui keberadaan ayah kandungnya. Sekalipun Alfred sudah sangat lama meninggalkan Colombus, Aurora rasa masih ada banyak orang yang mengenali ayah kandungnya tersebut. “Wow, itu sangat luar biasa. Aku harap aku memiliki ayah yang hebat seperti ayahmu..” Aurora terdiam untuk waktu yang lama. Lagi-lagi sebuah percakapan singkat dengan orang asing membuatnya tersadar mengenai betapa berharganya waktu yang ia miliki. Aurora sering mengabaikan ayahnya, tapi kini ia kembali sadar jika ia sudah melakukan perbuatan yang salah. Kepergian Alfred lima tahun yang lalu menimbulkan luka yang begitu dalam bagi Aurora. Akhirnya, Aurora sampai pada titik dimana ia membenci ayahnya sendiri. Sejujurnya, kebencian yang Aurora rasakan adalah representasi dari rasa rindu yang ia miliki. Aurora mengabaikan ayahnya untuk waktu yang begitu lama. Hingga akhirnya, Aurora kembali menyadari jika selama ini bukan hanya dia saja yang merasakan rindu, ayahnya juga merasakan hal yang sama. Ada banyak hal yang mendorong keputusan ayahnya untuk pergi meninggalkan Ohio, salah satunya adalah Aurora sendiri. Tanpa mengatakan apapun, Alfred pergi begitu saja dan membuat Aurora bertanya-tanya mengenai alasan dari kepergiannya. Belakangan ini Aurora baru menyadari jika ayahnya hanya ingin menciptakan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan Aurora. Jika dia memaksa untuk tetap tinggal di Ohio, ibunya tidak akan bisa hidup dengan tenang dan nyaman. Alfred berkorban tanpa banyak bicara.. Aurora merasa bersyukur ia tidak terlambat menyadari kasih sayang ayahnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN