bc

MATAMU, LANGIT TERAKHIRKU

book_age16+
22
IKUTI
1K
BACA
BE
friends to lovers
drama
sweet
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Setiap sore, suara lembut seorang gadis membacakan cerita di sudut sunyi perpustakaan. Bagi Adrian, pemuda tunanetra yang telah terbiasa hidup dalam gelap, suara itu adalah cahaya—hangat, jujur, dan penuh kehidupan.Ia tidak tahu seperti apa wajah sang gadis. Tapi ia tahu satu hal pasti: ia ingin melihatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Adrian bermimpi tentang dunia yang bisa ia lihat… demi seseorang yang tak pernah menunjukkan dirinya sepenuhnya.Namun di balik tawa gadis itu, tersimpan waktu yang terus berdetak pelan. Sebuah rahasia tersembunyi di antara lembar demi lembar buku yang mereka bagi.Apa yang akan terjadi ketika mata bisa melihat, tapi yang dicari telah menghilang?Dan bisakah cinta tetap hidup meski tak lagi saling menemukan?Sebuah kisah tentang cinta yang hadir dalam keheningan, pengorbanan yang tak pernah diucapkan, dan langit yang mungkin hanya bisa terlihat… di dalam kenangan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Suara di Perpustakaan
[ POV : Adrian ] Aku selalu menganggap perpustakaan kampus sebagai rumah kedua. Di sini, antara barisan rak-rak tinggi yang menjulang seperti menara-menara pengetahuan, aku menemukan kedamaian yang tak bisa kudapatkan di tempat lain. Suara gemerisik halaman yang dibalik, bisikan mahasiswa yang berdiskusi, dan dentingan keyboard laptop—semua itu menjadi simfoni familiar yang telah mengantarkanku menyelesaikan thesis sastra selama dua tahun terakhir. Hari itu, seperti biasa, aku melangkah dengan tongkat putihku menyapu lantai marmer yang dingin. Sepatuku menciptakan irama yang teratur—tap, tap, tap—sebuah metronom yang memandu langkahku menuju meja favorit di pojok timur perpustakaan. Meja nomor 47, dekat jendela besar yang—meski tak bisa kulihat—selalu memberikan kehangatan sinar matahari sore yang menyentuh wajahku dengan lembut. Jari-jariku dengan mahir meraba permukaan meja, memastikan tidak ada yang tertinggal oleh pengunjung sebelumnya. Sedikit debu menempel di ujung jariku—tanda bahwa meja ini memang sudah menungguku. Laptop braille dan headphone sudah siap di tas ranselku. Rutinitas yang sama, hari yang sama, harapan yang sama—menyelesaikan bab terakhir thesis tentang simbolisme dalam karya Chairil Anwar. Namun hari itu berbeda. Saat aku menyalakan laptop dan mulai mengetik, sebuah suara mengalir dari sudut perpustakaan yang biasanya sepi. Suara itu—lembut, merdu, dengan intonasi yang begitu hidup—sedang membacakan sesuatu. Aku menghentikan gerakan jari-jariku di atas keyboard braille. Telinga yang selama 25 tahun menjadi mata utamaku menangkap setiap nuansa dari suara tersebut. "...angin malam ini berbisik tentang rindu yang tak pernah usai. Seperti ombak yang selalu kembali ke pantai, meski tahu ia akan pecah di bebatuan..." Aku menahan napas. Napas yang tertahan itu terasa berat di dadaku. Suara itu membacakan puisi—bukan, lebih dari sekadar membaca. Ia menghidupi setiap kata, memberikan jiwa pada setiap baris. Ada kehangatan di sana, sebuah kelembutan yang membuat hatiku bergetar dalam cara yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Ini bukan sekadar pembacaan—ini adalah interpretasi, sebuah pertunjukan yang hanya dilakukan untuk udara kosong perpustakaan. Siapa pemilik suara itu? Mengapa ia membaca sendirian di sana? Perlahan, aku melepas headphone dan memiringkan kepala, berusaha menangkap lebih jelas. Suara itu datang dari sudut barat perpustakaan, area yang jarang dikunjungi karena pencahayaannya kurang. Tempat yang biasanya hanya digunakan untuk menyimpan koleksi lama. Aneh, mengapa seseorang memilih tempat yang begitu terpencil untuk membaca? "...mataku mencari sosokmu di antara bayang-bayang senja, tapi yang kutemukan hanya keheningan yang bercerita tentang kehilangan..." Jantungku berdegup lebih cepat. Degupan itu terasa keras di telingaku. Ada sesuatu dalam cara suara itu mengucapkan kata "mata" dan "melihat" yang membuatku tersentuh. Seperti ada pemahaman mendalam tentang kerinduan untuk melihat, untuk benar-benar melihat. Apakah pemilik suara itu tahu betapa kata-kata seperti itu bergema dalam hidupku? Aku ingin mendekat, tapi kaki-kakiku serasa terpaku. Bagaimana jika aku mengganggu? Bagaimana jika kehadiranku malah membuat pemilik suara itu berhenti? Aku tidak yakin sanggup kehilangan momen ini—momen pertama dalam hidupku ketika aku benar-benar ingin melihat seseorang hanya dari mendengar suaranya. Suara itu terus mengalir, kini beralih ke prosa. Sebuah novel, mungkin. Aku mengenali gaya bahasa yang puitis, mungkin karya sastra kontemporer. Setiap kata yang diucapkan terasa seperti tetes embun pagi yang menyentuh jiwa—segar, murni, dan membawa harapan baru. Aku menutup mata yang tak pernah melihat dan membiarkan diriku tenggelam dalam narasi yang dibawakan dengan begitu indah. Tanpa sadar, aku menutup laptopku. Suara laptop yang tertutup terdengar begitu keras dalam kepala yang dipenuhi suara merdu itu. Hari ini, thesis bisa menunggu. Yang kubutuhkan saat ini adalah mendengarkan. Hanya mendengarkan. Aku menyenderkan punggung ke kursi dan membiarkan suara itu membawaku terbang. Dalam kegelapan yang selalu menemaniku, suara itu menjadi cahaya pertama yang benar-benar kurasakan. Bukan cahaya fisik—aku bahkan tidak tahu seperti apa cahaya itu—tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat, lebih nyata daripada apapun yang pernah kualami. Suara itu bercerita tentang seorang gadis yang mencintai matahari terbit, tentang bagaimana ia selalu bangun pagi untuk menyaksikan langit berubah dari hitam menjadi biru, lalu emas, lalu merah muda. Aku membayangkan warna-warna itu—warna yang hanya kukenal dari deskripsi orang lain, tapi kini terasa begitu nyata ketika diucapkan dengan suara seindah itu. Intonasinya berubah ketika karakter dalam cerita merasa sedih, naik ketika menggambarkan kegembiraan, dan melembut ketika menceritakan momen-momen intim. Aku tidak pernah menyadari betapa sebuah suara bisa menjadi instrumen yang begitu ekspresif. Selama ini, aku mengandalkan teknologi text-to-speech yang monoton, atau rekaman audiobook yang profesional tapi dingin. Suara ini berbeda—ini hidup, bernapas, merasakan setiap kata yang diucapkan. Aku mulai memperhatikan detail-detail kecil. Cara ia menghirup napas sebelum memulai paragraf baru. Napas yang dalam, seperti mempersiapkan diri untuk menyelami lautan kata. Sesekali ia berhenti sejenak, mungkin untuk minum atau membalik halaman. Ada suara kertas yang bergesekan—ia membaca dari buku fisik, bukan e-book. Entah mengapa, hal itu membuatku semakin terpesona. Satu jam berlalu tanpa terasa. Suara itu perlahan melemah, kemudian berhenti. Aku mendengar suara kursi yang bergeser, langkah kaki yang menjauh. Keinginan untuk memanggil, untuk berteriak, tiba-tiba muncul kuat di dadaku, tapi tenggorokanku terasa kering. Kata-kata yang biasanya begitu mudah keluar ketika aku berdiskusi tentang sastra, kini terasa tertahan seperti ada yang mencekikku. Keheningan kembali menguasai perpustakaan. Hanya tersisa gema dari suara yang baru saja menghipnotisku. Aku duduk terdiam untuk beberapa menit, merasakan kehampaan yang aneh. Seperti seseorang yang baru saja bangun dari mimpi indah dan menginginkan untuk kembali tidur, untuk kembali ke dalam dunia yang lebih indah dari kenyataan. Jari-jariku meraba jam tangan braille. Pukul lima sore. Perpustakaan akan tutup dalam satu jam. Biasanya, aku akan segera berkemas dan pulang. Tapi hari ini, aku ingin tetap di sini sedikit lebih lama, berharap suara itu akan kembali. Mungkin ia hanya istirahat sebentar? Mungkin ada buku lain yang ingin dibacanya? Tapi tidak. Keheningan terus berlanjut. Hanya suara mahasiswa lain yang mulai berkemas, persiapan penutupan perpustakaan yang rutin terjadi setiap sore. Suara-suara itu terasa begitu biasa, begitu hambar setelah apa yang baru saja kualami. Ketika akhirnya aku memutuskan untuk pulang, langkahku terasa berbeda dari biasanya. Ada keringan yang aneh, seolah sesuatu dalam diriku telah berubah meski aku tidak bisa menjelaskan apa itu. Tongkat putihku menyapu lantai dengan ritme yang sama, tapi hatiku berdetak dengan irama yang baru. Di dalam bis yang membawaku pulang ke kost, aku terus memikirkan suara itu. Bagaimana wajah pemiliknya? Apakah matanya seindah suaranya? Apakah senyumnya sehangat intonasinya ketika membaca bagian-bagian yang menggembirakan? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepalaku seperti lagu yang tidak bisa berhenti. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar menginginkan mata yang bisa melihat. Bukan untuk melihat dunia—aku sudah cukup puas dengan caraku memahami dunia saat ini. Bukan untuk membaca buku tanpa teknologi bantu—aku sudah terbiasa dengan laptop braille. Tapi untuk melihat sosok di balik suara yang telah mengubah sore hariku menjadi sesuatu yang istimewa. Aku ingat percakapanku dengan dokter mata tahun lalu. Ia mengatakan ada kemungkinan operasi yang bisa memulihkan penglihatanku, meski risikonya cukup besar dan kemungkinan berhasilnya tidak seratus persen. Saat itu aku menolak. Aku sudah nyaman dengan hidupku, sudah menemukan cara untuk produktif dan bahagia tanpa penglihatan. Mengapa harus mengambil risiko untuk sesuatu yang mungkin tidak akan mengubah hidupku secara signifikan? Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, aku mulai mempertimbangkannya lagi. Malam itu, di kamar kostku yang sederhana, aku berbaring di tempat tidur dengan senyum tipis di wajahku. Aku sudah memutuskan—besok sore, aku akan kembali ke perpustakaan. Pada waktu yang sama, di tempat yang sama. Siapa tahu, suara itu akan kembali hadir, dan mungkin kali ini aku akan memiliki keberanian untuk menyapa. Sebelum tidur, aku membuka laptop dan mengetik beberapa catatan tentang apa yang kurasakan hari ini. Bukan untuk thesis—ini untuk diriku sendiri. Aku menulis tentang bagaimana sebuah suara bisa menjadi jendela ke jiwa seseorang, tentang bagaimana kata-kata yang diucapkan dengan penuh perasaan bisa menyentuh hati lebih dalam daripada musik atau puisi yang dibaca dalam hati. Dalam kegelapan yang selalu menemaniku, aku tertidur dengan mimpi tentang suara yang menjadi cahaya, tentang kata-kata yang menjadi warna, dan tentang seseorang yang mungkin bisa membuatku memahami arti dari kata "melihat" dalam cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Esok hari tak sabar menungguku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook