"Apa kau sudah mengatakan anakku bod*h?" sengal mama Cindy pada Asry.
"Kau sendiri yang mengatakannya, nyonya. Bukan aku," Asry tersenyum mengejek di sana.
"Kau memang benar-benar sombong." Ketus mama Cindy.
"Siapa yang sebenarnya di sini yang sombong, nyonya? Aku? Atau kalian?" Asry memang tidak bisa di ajak main-main.
"Kau mengajakku ke sini hanya karena kau meminta bantuan mamamu untuk membujukku dekat dengan adikku, bukan?" tebak Asry yang memang tidak meleset.
"Jangan harap untuk itu. keluarga kami tahu siapa yang lebih pantas dengan adikku. Walaupun kalian keluarga terpandang atupun berpengaruh di kota ini, keluargaku tidak akan menerima orang yang sombong dan tidak tahu malu seperti kalian," celetuk Asry.
"Bersikaplah sopan santun di depan orang yang lebih tua darimu!" sengal mami Cindy. Niatnya dia yang ingin menakut-nakuti Asry dengan ancamannya justru dia kalah telak dengan ucapan Asry.
"Aku tahu pada siapa aku harus memberikan sopan santunku, nyonya," ucap Asry yang suka sekali mengejek mama Cindy. Cindy hanya mengepalkan tangannya mendengar setiap ucapan yang di lontarkan Asry padanya dan sang mama.
"Sepertinya, waktuku terbuang sia-sia di sini. Tidak bermutu sekali," ucap Asry melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak semudah itu anak manis." Jawab mama Cindy saat Asry beranjak bediri dari tempat duduknya. Asry mengerutkan dahinya dengan ucapan mama Cindy.
Prok.. prok...
Mama Cindy menepuk dua kali tangannya, tidak lama kemudian beberapa orang bertubuh kekar datang masuk ke sana. Ternyata itu adalah kode dari mama Cindy untuk memanggil orang-orang suruhannya. Asry tersenyum misterius melihat orang-orang yang datang ke sana.
Entah kapan mama Cindy sudah mempersiapkan semua ini, tapi dia sangat berniat sekali. Tapi dirinya tidak tahu berhadapan dengan siapa.
"Aku memberikan pilihan untukmu, kau membiarkan putriku bisa berkencan dengan adikmu atau mereka membawamu pergi dari sini?" ternyata mama Cindy cukup berani mengancam Asry yang notabennya adalah keturunan dari keluarga William.
"Kau mengancamku? Ternyata kau dan putrimu sama-sama bodoh." Asry kembali mengejek dengan ekspresi wajah yang sangat menjengkelkan.
"Kau masih saja sombong, aku pastikan nanti kau akan berubah fikiran setelah mereka membawamu." Ucap mama Cindy dengan sangat percaya diri.
"Bawa dia." Perintahnya pada orang-orang tersebut.
Mereka mendekat ke arah Asry ingin mencekal tangan Asry dan menyeretnya.
Dugh..
Dugh..
Bugh...
Sebelum mereka mencekal tangan Asry, Asry sudah lebih dulu menendang kaki mereka dengan keras hingga terjatuh. Mama Cindy dan Cindy membelalakkan mata tidak percaya.
"Kalian mau membawaku? Coba saja kalau bisa." Asry menantang orang-orang tersebut.
"Dasar sombong." Mereka pun kembali berdiri dan menangkap Asry.
Bugh..
Bugh...
Bugh...
Brakk.. pyaar...
Asry kembali melawan mereka hingga salah satu terpelanting di atas meja dan semua sajian di sana jatuh berserakan.
Asry mengudara lalu menendang mereka satu persatu hingga jatuh tersungkur. Nafasnya memburu dengan tatapan tajam menatap orang-orang tersebut.
"Berani kalian menyentuhku, maka nyawa kalian akan melayang." Ucapnya pada orang-orang itu.
"Apa kalian bisa terkalahkan hanya dengan anak perempuan ini?" ucap mama Cindy yang tidak bisa terima jika orang-orang suruhannya bisa di kalahkan dengan Asry seorang.
Mereka segera bangkit lalu mengeluarkan belati yang ia selipkan di pinggang mereka masing-masing. Kali ini mama Cindy tersenyum puas, ia mengira jika Asry akan terkalahkan kali ini.
Asry menghindar dari orang-orang itu.
Bugh...
Asry memukul tangan orang itu hingga belati yang ia bawah terjatuh. Orang itu pun mengumpat lalu melawan Asry dengan tangan kosong.
Bugh..
Bughh..
Asry menendang rahangnya hingga merintih kesakitan karena saking kuatnya tendangan Asry.
Salah satu dari mereka datang mendekat ingin menyerang Asry, Asry mengambil belati yang terjatuh tidak jauh dari kakinya lalu melemparkan pada orang yang mendekar ke arahnya.
Syuutt..
Jleepp...
Belati itu mendarat di paha orang tersebut. Cindy di sana melihatnya ngeri dengan darah yang mengalir dari orang itu. Baru kali ini dia melihat aksi yang seperti ini di depan matanya.
Orang itu pun mengerang kesakitan karena belati yang tertancap di salah satu pahanya, Asry tersenyum remeh padanya.
Bugh...
Buugh...
Asry mendapat dua tendangan dari arah belakang, dia terjatuh karena dia sedikit lengah.
"Sh!t, merepotkan." Asry kembali berdiri lalu menyerang mereka dengan brutal kali ini.
Asry mengangkat kursi lalu memukul pada mereka tanpa ampun kali ini.
Bugh..
Bugh...
Asry memukulkan dengan keras, ia menggila karena dari mereka sudah membuatnya terjatuh. Mama Cindy dan Cindy hanya bisa membelalakkan matanya lebar-lebar. Dia tidak menyangka jika Asry bisa brutal.
Pelayan yang kebetulan melintas mendengar suara gaduh itu pun segera mengecek apa yang terjadi di sana hingga begitu gaduh. Pintu terbuka, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan membelalakkan matanya melihat perkelahian di sana. Ruangan itu pun juga seperti kepal pecah, ada sebagian barang hancur karena perkelahian itu. Dirinya pun berlari memanggil atasannya untuk melihat semua ini.
Asry terus melawan mereka tidak ada hentinya, dia yang melihat vas masih utuh itu pun melemparkan pada salah satu dari mereka hingga mengenai kepalanya.
Darah keluar karena lemparan dari Asry.
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Tiga tendangan di berikan Asry pada mereka masing-masing, mereka jatuh bersamaan karena Asry menendang tepat di d**a mereka.
Melihat belati yang tergeletak, Asry kembali mengambilnya dan menodongkan pada mereka.
"Jika kalian berani menyentuhku sedikit saja, maka aku tidak segan-segan mengirim mereka ke neraka." Ancamnya dengan nafas sedikit terengah-engah.
Asry pun beralih menatap Cindy dan mamanya. la mendekat dengan membawa belati di tangannya. Cindy dan mamanya ketakutan melihat Asry datang mendekat.
"Sebaiknya kalian mencari tahu dulu siapa lawan yang akan kalian hadapi, jangan pernah bertindak konyol. Kalian memang benar-benar keluarga b*d*h." Sentaknya pada keduanya.
"Jangan harap jika putrimu itu bisa di terima di keluarga Johnson, jika itu terjadi, maka siap-siap kau sengsara di sana." Sambung Asry dengan tatapan tajamnya.
Salah satu dari mereka bangun dan ingin kembali menyerang Asry.
Syuutt...
Jlleeb.....
Asry melemparkan belati itu pada orang tersebut mengenai tepat di jantungnya hingga orang itu langsung tergeletak.
"Bukankah aku sudah katakan, jika kalian berani menyentuhku maka nyawa kalian akan melayang sia-sia." Kelekarnya pada siapa saja di sana. Diam-diam Asry memfokuskan dirinya saat berhadapan dengan Cindy dan mamanya.
Tidak lama kemudian, manajer restoran dan beberapa karyawan datang ke sana. Mereka sangat terkejut, apa lagi ada salah satu dari mereka tergeletak dengan pisau tertancap.
Asry yang melihat akan hal itu memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Mintalah pertanggung jawaban pada dua wanita itu, merekalah dalang di balik semua ini." Ucapnya pada pelayan dan atasan restoran itu.
Asry pergi dengan santainya membiarkan Cindy dan mamanya dalam hal rumit di sana. Senyum jahatnya terlihat di sepanjang perjalanannya.
"Tuan, ada laporan kalau ada kerusuhan di restoran siang ini." Ucapnya.
"Kerusuhan? Apa maksudmu?"
"Manajer di sana memberikan laporan jika terjadi perkelahian di salah satu ruang VIP. Satu perempuan dan tiga orang laki-laki. Satu dari mereka tewas dengan belati menancap tepat di jantungnya." Jelasnya dengan singkat.
Tidak lama kemudian, ponsel miliknya berdering menandakan jika ada panggilan telfon untuknya.
"Maaf mengganggu, tuan. Kami melaporkan jika nona muda menghajar beberapa orang di restoran, mereka semua adalah orang bayaran. Nona berhasil melumpuhkan mereka, salah satu dari mereka tewas." Lapor anak buahnya dari seberang sana.
Anak buahnya pun menceritakan semua yang terjadi di sana tanpa ada sedikitpun yang tersisa. Dia mendengarkan semua cerita itu hingga selesai. Tidak lama kemudian sambungan telfonnya ia matikan secara sepihak.
"Kita ke sana sekarang." Ajaknya pada sang asisten.
.
.
Mension Sean...
"Kau baru pulang Asry?" tanya sang mami melihat kedatangan Asry.
"Iya, mi. Tadi Asry ada urusan sebentar di luar." Jawabnya.
"Yasudah, kau istirahat saja dulu." Pinta sang mami, Asry menuju kamarnya dan meletakkan tas sekolah miliknya.
Sedangkan di restoran....
Mereka yang ada di sana mengurus semua kekacauan dia sana, banyak pengunjung di sana memutuskan untuk segera kembali. Takut jika akan ada kerusuhan lagi yang terjadi. Banyak juga di antara mereka yang masih stay dan melihat apa yang sudah terjadi.
"Nyonya, anda harus bertanggung jawab dengan ini." Ucap manajer di sana padanya.
"Kenapa harus aku, anak itulah yang harus bertanggung jawab. Dialah yang sudah membuat kekacauan dan menewaskan orang itu." Tolaknya.
"Gadis tadi berkata jika kalianlah dalang di balik semua ini," tegas manajer itu.
"Apa kau percaya dengan ucapan anak ingusan itu?" sengalnya.
"Pokoknya kalian harus bertanggung jawab, karena hanya kalian yang ada di sini saat ini. Bukankah anda yang juga menyewa ruang ini?" manajer itu tetap mempertegas nya.
"Maa... bagaimana ini? Bagaimana kalau kita masuk penjara, Cindy tidak mau, ma." Rengek Nya pada sang mama. Itulah akibatnya jika sudah bermain-main dengan Asry. Mereka sendiri yang terkena masalah.
"Apa sebaiknya kita telfon papa?" sambungnya.
"Sekarang kalian ikut kami, kalian harus menjelaskan semua kekacauan ini. Kalian harus bisa bertanggung jawab dengan semuanya."
"Berani sekali kau? Apa kau tidak tahu siapa aku?" sombongnya pada manajer itu. Sudah berbuat salah tapi dia tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang di perbuat.
"Saya tidak peduli siapa anda, nyonya. Setinggi apapun jabatan anda dan bagaimanapun anda berpengaruh di kota ini, jika anda tidak bisa bertanggung jawab dengan semua ini tidak ada apa-apanya di mata orang-orang." Ternyata manajer di sana cukup tegas, dia tidak peduli dengan siapa yang ia hadapi saat ini meskipun mereka dari keluarga yang berpengaruh di kota sekalipun.
Tidak berselang lama, pemilik restoran itu pun sampai di sana. Ia langsung saja menuju ke ruangan di mana terjadi kekacauan di sana.